Yakin?

1216 Kata
Meski sudah pertemuan keempat, Rakha tetap merasakan hal yang tak biasa kepada Anna. iya, tolong jangan salah paham terlebih dahulu, sudh dijelaskan bahwa Rakha tidak akan pernah tertarik dengan wanita itu, kan? Jadi, jangan menaruh banyak harapan.   Maksud hal yang tak biasa itu tidak lain dari perasaannya yang seolah tak memiliki ketertarikan sedikitpun kepada Anna. iya, serius, entah karena apa hal itu bisa terjadi. Padahal, memang, Rakha mengakui bahwa wanita itu tidak memiliki wajah yang jelek-jelek amat, tubuh yang lumayan, dan kemampuan yang juga bisa dibilang oke. Namun, ada satu hal yang kurang, yang bisa mengalahkan tiga kelebihan itu. wanita yang seharusnya ia panggil tante itu memiliki attitude yang sangat minim, juga kelakuan yang gilanya seperti monyet lepas dari kandang.   Tidak berlebihan, karena itu memang kenyataan.   Hari ini, Rakha tidak sendirian, melainkan ditemani oleh mamanya. Sesaat setelah ia sampai di rumah Anna, perasaannya mulai merasa tidak enak, seperti pertanda bahwa akan terjadi sesuatu yang lebih gila lagi di sana.   “Nak Rakha, sekali lagi tante mau bertanya sama kamu. Apa kamu yakin mau menikah dengan Anna? tante sama Mama kamu memang merencanakan perjodohan, tapi kami tidak akan memaksa jika kalian merasa tidak cocok satu sama lain.”   Semua mata beralih menatap seorang wanita yang tengah duduk tepat di samping mamanya Rakha. Wanita yang tidak lain adalah mama dari seorang Anna, menanyakan hal yang demi apa pun membuat Rakha kelimpungan untuk menjawabnya. Sebenarnya sudah jelas, ia sangat dan sangat merasa terpaksa, namun bagaimana? Selain ada mamanya, kemarin ia juga sudah pergi menyiapkan sebagai persiapan awal pernikahan paksa itu.   “Kalau Anna, katanya dia sudah benar-benar yakin dengan kamu. Saya juga sedikit heran, kenapa dia bisa seyakin itu, padahal, Anna itu sangat pemilih dalam mencari pasangan,” lanjut Melati.   Ruang keluarga milik Anna mendadak hening seketika, semua yang di sana sama-sama penasaran dengan jawaban yang akan diberikan oleh Rakha.   Di sofa paling ujung, ada seorang laki-laki yang kalau tidak salah, dia adalah kakak dari Anna. di sebelahnya ada Anna yang tengah duduk dengan mata yang sedari tadi tak pernah lepas dari wajah Rakha. Bukannya terlalu percaya diri, namun Rakah memang benar-benar menyadari hal itu.   Di sofa kedua, ada mamanya yang duduk bersebelahan dengan mamanya Anna. keduanya sama-sama memasang wajah serius, mungkin karena penasaran dengan jawaban yang akan ia berikan. Menghela napas pelan, Rakha mendumel dalam hati ketika melihat wajah mamanya. Kenapa harus serius seperti itu? kenapa harus terlihat penasaran? Padahal Rakha tahu, kalau mamanya sudah tahu apa yang sebenarnya ia rasakan, dan sudah tahu apa yang akan ia jadikan jawaban.   “Kami menunggu jawabanmu, Rakha,” ucap Raya.   Rakha kembali menghela napasnya, dengan mata yang membalas tatapan mamanya yang penuh arti itu.   Sudahlah, bagaimanapun, ujungnya akan tetap sama. Sekeras apa pun ia menolak, ujung-ujungnya ia akan menikah juga. Dengan pikiran yang sudah mantap, Rakha menatap satu persatu orang yang ada di ruangan itu. ya, termasuk Anna. sebelum menatap Melati—mamanya Anna, Rakha menatap Anna terlebih dahulu dengan tatapan yang sulit dijelaskan, namun dengan waktu yang cukup lama. Setelah puas melihat wanita itu, Rakha beralih menatap Melati yang sedari tadi tak melepas pandangan darinya.   “Rakha yakin, Tante. Bagaimanapun caranya, seperti apa pun nantinya, sekarang Rakha udah bener-bener yakin, dan siap menikahi Anna, anak tante.”   Rakha dengan santai mengucapkan kata-kata itu, tanpa memikirkan perasaan Anna yang sekarang tengah melambung tinggi, terhempas, dan seolah hancur berantakan. Akibat baper dengan ucapan laki-laki dingin yang sebentar lagi akan resmi menjadi suaminya itu.   Anna bingung, apakah ia tidak salah dengar?   Apa semuanya nyata?   Apa perkataan Rakha serius?   Soal serius atau tidak, itu bukan hal penting. Yang penting, sekarang ia sudah mendengarnya sendiri, dan laki-laki itu mengatakan bahwa dia sudah yakin untuk menikahinya.   Benar-benar gila. Kalau saja tidak malu, mungkin saat ini Anna sudah berteriak sekencang mungkin, sudah berjalan dan loncat ke sana ke mari karena mendengar kata-kata palsu namun terdengar manis itu.   “Kalau begitu, bagaimana kalau pernikahannya satu minggu lagi? Kemarin-kemarin, tante dan Mamakamu memang mengatakan bahwa pernikahan kalian akan diadakan satu Minggu lagi, tapi itu hanya bentuk pancingan kami saja. Kami ingin tahu, kamu dan Anna terkejut atau tidak, kalian menentang atau bahkan malah menerimanya.” Melati menarik napas lega, dengan bibir yang mengembangkan senyuman. “Tante lega dengernya. Tante nggak akan bicara banyak, Tante cuman ingin kamu bisa jaga dan pegang ucapan kamu. Tante titip Anna, ya?”   Sebentar lagi, acara lamaran akan dilakukan. Sebenarnya sekarang juga sudah bisa, namun ayah dari Anna maupun ayah dari Rakha sedang tidak ada, keduanya memiliki urusan pekerjaan yang sama di luar kota.   “Rakha siap, biarpun pernikahannya akan diadakan satu Minggu lagi,” balas Rakha. Jawabannya membuat semua orang yang ada di sana sama-sama menyunggingkan senyum lega dan bahagia, terkecuali dirinya yang sampai detik ini masih memasang ekspresi wajah yang sama.   Bagaimana? Apakah ini sudah tepat? Apakah ini sudah jalannya?   Setiap malam, sebelum mimpi buruk itu menerjang, Rakha selalu memikirkan hal ini, memikirkan akan bagaimana dirinya nanti. Apakah bisa? Apakah mampu? Di sampaing rasa cinta yang kemungkinan akan hadir karena terbiasa, ia malah takut kalau nanti, ia malah akan semakin membencinya. Membenci Anna yang bahkan dia pun hanya korban di sini. Membenci kehidupannya yang sudah rusak, dan hilang arah seperti ini.   Bagaimana kalau Rakha tidak mampu? Semuanya berawal dari keterpaksaan dan kepasrahan, ia takut kalau nantinya ia malah berlaku seenaknya kepada Anna karena merasa tidak bertanggung jawab sepenuhnya dalam hal ini.   Apakah Anna akan kuat? Apakah dia akan tetap bersikap keukeuh dan memaksa seperti sekarang-sekarang? Apakah dia akan tetap yakin dengan ucapannya yang mengatakan bahwa dia akn membuatnya jatuh cinta sejatuh-jatuhnya?   Rakha sendiri tidak yakin dengan hal itu, sebab sudah berkali-kali ia mengatakan bahwa cintanya sudah benar-benar mati tak tersisa.   “Kalau gitu, mulai dari besok kita semua pasti sibuk, nih!” ujar Damian. Setelah mengatakan itu, dia menoleh menatap Anna yang duduk di sampingnya. Menciptakan senyum penuh godaan juga tangan yang tak tinggal diam. “Cie, akhirnya You nikah juga!” ucapnya.   Anna yang masih tak percaya dengan ini semua, tersenyum seolah merasakan malu mendengar ucapan dan tingkah kakaknya itu. padahal, kalau boleh jujur, ia tidak malu bahkan merasa senang akan hal itu. “Iya, biar kau tidak mengejekku lagi,” balas Anna dengan suara pelan dan nada bicara yang dibuat-buat.   “Jangan lupa, punya geng yang banyak kayak kakak,” balas Damian.   Anna maupun Mom-nya terkekeh mendengar ucapan Damian, sebab mereka paham apa maksudnya. “Jangan gila kau, melihat kau sama melia saja, aku sudah pusing,” ucap Anna.   “Ya tidak apa-apa, Sayang, kalau kamu siap, Rakha juga pasti siap.” Melati beralih menatap Rakha yang masih diam di tempatnya. “Nak Rakha siap memiliki anak banyak seperti kakaknya Anna?”   “Ya, pasti siap, dong, ngapain nggak siap? Malah itu bagus, biar keluarga kita makin rame,” sahut Raya seraya terkekeh menatap temannya.   “Kalau Rakha siap, Anna juga siap,” sambung Anna, dengan tatapan penuh arti menatap Rakha.   Demi apa pun, kenapa semuanya bersikap memojokan seperti ini? Kalau bisa, Rakha ingin keluar saat ini juga dari tempat itu. perbincangannya sangat membuatnya tak nyaman, bahkan merasa tidak habis pikir.   Bagaimana bisa ia memiliki anak sebanyak anak Damian, sedangkan hatinya saja masih belum menerima? Bagaimana bisa ia menyetujui dan mengatakan siap, sedangkan untuk menikah saja ia masih ragu dan tak merasakan yakin.   Pencitraan memang perlu, namun kalau sifatnya menyudutkan seperti ini, Rakha rasa kalau ia tidak akan mampu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN