Setelah acara fitting baju kemarin, hari ini Rakha kembali masuk kerja, dengan perasan seperti biasa. Ah, tidak, untuk kali ini tidak seperti biasanya, melainkan lebih dari biasanya. Sangat lebih. Tidak kurang, dan malah semakin bertambah.
Kemarin, ketika Rakha pergi ke tempat penuh dengan gaun pengantin itu, ia benar-benar membuat keputusan yang sangat besar dalam hidupnya. Untuk yang pertama kalinya, ia memilih terpaksa, mengorbankan apa yang ia inginkan demi keinginan keluarganya. Untuk yang pertama kalinya, Rakha tidak memikirkan keinginan dan kebahagiaannya sendiri dan memilih untuk membahagiakan kedua orang tuanya.
Anak memang sudah harus melakukan hal seperti itu, kan?
Rakha tidak salah, dan hal itu sudah sangat wajar, kan?
Kebanyakan orang tua di luaran sana memang tidak memikirkan perasaan anaknya sendiri, dan lebih mementingkan keinginannya sendiri yang selalu dianggap benar. Padahal, terkadang keputusan para orang tua juga tidak selalu benar.
“Pagi, Pak,” sapa Felicia yang baru saja membuka pintu ruangan Rakha.
Rakha menoleh dengan ekspresi datar seperti biasanya. “Pagi,” jawabnya.
Felicia menyunggingkan senyum, kemudian berjalan mendekati Rakha. Dengan senyum penuh percaya diri itu, Felicia berjalan semakin mendekat dengan tangan yang menenteng satu paperbag di tangannya. Ketika kakinya sudah berhenti tepat di hadapan laki-laki yang disukainya itu, Felicia menyodorkan paperbagnya, dengan senyum yang masih mengembang sempurna. “Maaf sebelumnya, Pak, ini saya ada sedikit oleh-oleh. Sebenarnya bukan dari saya, melainkan dari mama saya yang baru pulang dari Bali, kemarin.”
Rakha sempat terdiam sejenak, sebelum akhirnya menghela napas pelan, namun bibirnya masih memberikan sedikit senyuman. “Makasih, ya.”
Untuk yang pertama kalinya, Rakha memberikan senyumannya kepada orang kantor selain kepada para kliennya. Untuk yang pertama kalinya, Rakha menerima sesuatu yang diberikan oleh Felicia. Dan untuk yang pertama kalinya, Rakha terlihat humble dengan siapa saja yang melihatnya hari ini.
Ada apa?
Bukannya hatinya tengah tidak baik-baik saja?
Apa yang terjadi?
Di samping Rakha yang bersikap sedikit aneh hari ini, Felicia merasakan hal yang sebaliknya. Seperti … senang karena mendapatkan hal yang selama ini tidak ia dapatkan. Seperti bahagia karena hal yang ia inginkan, akhirnya terjadi juga.
Memang tidak berlebihan, hanya balasan sapaan pagi, senyum tipis, dan Rakha yang mau menerima apa yang ia bawa. Perlakuan kecil seperti itu akan sangat bermakna bagi Felicia yang memiliki perasaan lebih kepada Bosnya.
Perlakuan kecil seperti itu akan sangat berarti bagi siapa pun yang memiliki perasaan terpendam, pada orang yang telah melakukannya.
Felicia masih diam di tempat dengan perasaan yang sudah tak karuan. “Terima kasih, Pak,” ucapnya.
Rakha mengerutkan keningnya, sedikit aneh dengan apa yang diucapkan oleh sekretarisnya itu. padahal, seharusnya ia yang mengucapkan kata terima kasih kepadanya. “Untuk apa? Harusnya saya yang berterima kasih. Sampaikan rasa terima kasih saya kepada Mama kamu, ya?”
“Ah, pasti, Pak. Tapi, saya juga mengucapkan terima kasih karena Bapak sudah mau menerima apa yang saya berikan,” balas Felicia.
Ah, iya, seperti itu rupanya. Sudah bukan menjadi rahasia lagi, Rakha juga sudah tahu kalau wanita itu telah memendam perasaan lebih kepadanya. Bukannya terlalu percaya diri atau gimana, tapi siapa pun akan tahu kalau perilaku Felicia dan semua sikap beserta sifatnya, sangat menunjukan apa yang ia ucapkan tadi.
Sama-sama saling diam, Rakha kembali menarik napas kemudian menganggukkan kepalanya perlahan. “Tapi Felicia,” ucapnya.
Felicia yang juga baru saja akan melangkahkan kakinya—hendak keluar—kembali berhenti ketika mendengar ucapan Rakha barusan. “Iya, Pak?”
“Lain kali kamu jangan seperti ini lagi, ya? bukan maksud apa-apa, saya hanya berusaha untuk lebih menegaskan bahwa hubungan antara saya dan kamu hanya sebatas rekan kerja, tidak lebih dari itu. sudah bukan rahasia lagi, dan mohon maaf sebelumnya, saya sudah memiliki calon istri.”
Tolong jangan salah paham, Rakha yang berkata seperti itu bukan bermaksud kalau ia sudah memiliki hal atau perasaan lebih kepada Anna. hanya saja, ia merasa kalau Felicia memang sudah harus tahu tentang itu, agar perasaannya tidak semakin tumbuh.
Bukannya perempuan lebih suka kepastian?
Melihat Felicia diam saja, Rakha semakin merasa bersalah. “Felicia?”
Felicia yang awalnya diam termenung, sedikit terlonjak mendengar perkataan bosnya. “Ah, iya, Pak? Terima kasih sudah berbicara seperti itu, terima kasih juga sudah menegaskan. Tapi bapak tenang aja, meskipun saya memiliki perasaan lebih terhadap bapak, saya tidak akan mengganggu apa pun yang menjadi urusan bapak. Saya turut senang mendengar bapak sudah memiliki calon istri, untuk itu, saya mengucapkan selamat, Pak.”
Felicia menarik napas dalam, berusaha menenangkan hatinya yang mungkin sebentar lagi akan hancur berantakan. “Dan bapak nggak perlu khawatir dengan perasaan saya. biarkan ini jadi urusan saya, Pak. Permisi.”
Setelahnya, Felicia berlalu dengan cara seperti biasanya. Tidak lupa dia memberi senyum dengan tubuh yang sedikit membungkuk.
Kepergian Felicia membuat Rakha mengusap wajahnya gusar. Bukan, bukan karena ia frustrasi, melainkan karena ia yang tidak sadar kenapa ia bisa mengucapkan hal seperti itu. ucapannya memang benar, dengan harapan agar sekretarisnya itu tidak berharap lebih, Rakha mengatakan bahwa ia sudah memiliki calon istri. Itu juga kenyataan, namun, apakah ia sudah mengaku dan benar-benar menerima untuk menikah dalam waktu yang dekat ini?
Secepat itu?
Terlepas dari penjelasan dan keyakinan yang ia rasakan, Rakha tetap tidak menyangka kalau ia akan mengatakan hal itu kepada Felicia. Apalagi ada kata ‘calon istri’ dalam kalimatnya. Secara tidak langsung, ia sudah mengakui Anna, bukan?
“Masa bodoh, memang saya bisa apa? Semuanya seperti sudah diatur serapih mungkin, dan saya, hanya bisa mengikuti saja,” ucap Rakha kepada dirinya sendiri.
***
Hari ini, Mom-nya sudah bisa pulang ke rumah. Anna bersyukur akan hal itu, sebab, wanita yang sangat amat ia cintai sudah kembali sehat dan … itu artinya, dia juga bisa ikut memeriahkan acara spesialnya nanti.
Setelah mengantar Mom-nya ke kamar untuk beristirahat, Anna kembali turun ke bawah, tepatnya ia akan menghampiri kakak dan komplotannya di ruang tamu. Sekalian, ia juga akan menghubungi Rakha yang sudah seharian ini tidak ada kabar. Haha, biasanya memang seperti itu, Anna saja yang terlalu berharap. Bayangkan, akan semelambung apa hatinya jika saja satu notifikasi yang masuk dalam ponselnya, ada nama ‘Rakha seksi’ yang terselip di antara banyak notifikasi itu. pasti akan membuatnya gila bukan main.
Sebelum pulang, Anna sudah memberitahu laki-laki itu lewat pesan, namun tak dapat balasan. Dari banyak kemungkinan, Anna memilih untuk berpikir positif dengan mengira bahwa Rakha terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga tak ada waktu untuk membalas pesannya.
“Kenapa kalian ribut sekali?” ucap Anna ketika baru saja sampai di ruang tamu, dan telinganya sudah disuguhkan dengan suara ricuh yang berasal dari mulut anak-anak kakaknya.
“Hi, Aunt! Sini ikut main barbie sama Maura!” ujar seorang anak perempuan yang tengah mendandani sebuah barbie di tangannya.
“Jangan, mending Tante Anna ikut main kereta sama Chimon!” ujar Chimon yang tengah sibuk menata rel kereta mainan di hadapannya.
Anna menggeleng seraya menghela napasnya pelan, kemudian ia berjalan menghampiri Melia yang tengah duduk di sofa sembari memperhatikan anak-anaknya. “Di mana kakak dan ponakan-ponakanku yang lain?” tanyanya.
Perempuan yang umurnya hanya selisih beberapa tahun saja dengan Anna itu menoleh menatap adik iparnya, dengan raut wajah seperti kelelahan. “Ada, di kamar. Mereka lagi main sama Mochi.”
Anna mengangguk paham. “Oh, okay.”
“Mama udah tidur?” tanya Melia, menanyakan mama mertuanya.
“Sudah,” jawab Anna yang kini kembali memperhatikan para keponakannya.
Keduanya sama-sama diam, dengan mata yang fokus ke arah pandang yang lain. Merasa sedikit bosan, Anna beranjak dari duduknya dan berpamitan kepada Melia bahwa ia akan naik ke atas menuju kamarnya. Jangan lupakan Anna yang akan menghubungi Rakha, sekarang dia akan mulai menjalankan rencananya itu.
Sampai di kamar, Anna langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur dengan tangan yang baru saja meraih ponselnya yang ada di dalam tas. Membuka kunci kemudian mencari kontak yang ia beri nama ‘Rakha seksi’, setelah menemukannya, ia langsung mengetikan pesan di sana.
‘Rakha, kau tidak membalas pesanku?’
‘Rakha, kau sedang apa? Sudah makan?’
‘Rakha, malam ini kau ada waktu? Bagaimana kalau kita clubing?’
‘Rakha seksiiii, kalau kau tidak membalas pesanku, akan kubicarakan kepada mamamu!!!’
Setelah mengirimkan pesan-pesan itu, Anna menjatuhkan ponselnya dan berharap Rakha akan segera membalas pesannya. Selang beberapa saat, dengan seketika ia mendudukkan tubuhnya ketika mendengar ponselnya bersuara. Bukan sebuah notifikasi, melainkan suara yang menandakan adanya panggilan masuk.
Sudah sangat berharap kalau yang memanggilnya itu Rakha, Anna menghela napas lesuh ketika melihat bahwa yang menelponnya bukanlah Rakha, melainkan calon mertuanya. Sempat lesuh sejenak, akhirnya wanita itu kembali bersemangat sebab, hal yang akan mereka bicarakan atau hal yang calon mertuanya perlukan, kemungkinan tidak jauh dari persoalan Rakha.
“Hallo?” ucap Anna dengan suara yang dibuat selembut mungkin.
“Hallo, Anna, kamu di mana?” tanya Raya—mamanya Rakha—di ujung sana.
“Anna di rumah, kenapa, Ma?”
“Mom kamu sudah pulang?”
“Sudah, Ma.”
“Syukurlah.” Raya menghela napas lega di ujung sana. “Kamu sudah menghubungi Rakha?”
Kedua sudut bibir Anna mengembang, lantaran dugaannya yang ternyata tidak melesat dari kenyataan. “Sudah, Ma,” balasnya dengan senyum yang masih mengembang.
Tolong jangan heran. Anna memang sudah memanggil ‘Ma’ kepada mamanya Rakha. Bukan, bukan ia yang dengan percaya dirinya menawarkan panggilan itu, tetapi mamanya Rakha yang menawarkannya secara langsung. Biar cepat akrab, katanya.
“Terus, ada balasan?” tanya Raya lagi.
Senyumnya memudar, digantikan dengan bibir yang sedikit maju ke depan. “Belum, Ma.”
Raya diam beberapa saat, sebelum akhirnya menghela napas kemudian kembali bersuara. “Mungkin Rakha lagi sibuk, kamu yang sabar, ya. oh, ya, kamu harus terus hubungin Rakha, kalau bisa sampai dia balas pesan atau angkat panggilan kamu. Kamu juga harus waspada, karena kemarin, pas pulang dari kantor, Rakha bawa sesuatu yang katanya itu pemberian dari sekretarisnya. Sekretarisnya perempuan, namanya Felicia, seumuran Rakha, Mama juga denger desas desus di kantor kalau Felicia juga menyukai Rakha. Kamu jangan sampai kena tikung, ya?”
Sialan! Mendengar ucapan calon mertuanya, lengan Anna mengepal dengan wajah yang muali memerah.
Sepertinya, ia harus segera menikah dengan Rakha, sebelum kata tikung itu akan menjadi sebuah kenyataan.