Seperti mendapat lotre yang hadiahnya sangat menguntungkan, demi apa pun sedari satu jam yang lalu, Anna tak pernah sedetikpun menurunkan sudut bibirnya. Bahkan, seperti tak merasakan pegal sedikitpun.
Ketika bahagia, manusia memang tak akan pernah mengenal rasa lelah.
“Demi Upin Ipin yang tak pernah tumbuh rambut, hari ini aku seneng banget!” ujar Anna dengan nada yang sangat antusias. “Akhirnya, kau akan jadi miliku juga!” lanjutnya.
Sedangkan orang yang tengah diajak bicara, yang tidak lain adalah Rakha hanya menanggapi dengan respons seperti biasa, diam, dan tak bergerak sedikitpun. Seolah hanya bisa pasrah dengan apa yang diterimanya saat ini.
Bayangkan, awalnya Rakha mengira kalau perjodohan ini hanya sebatas niat dan ucapan saja, masalah setuju atau tidak itu bisa dipikirkan nanti. Rakha juga sudah menyiapkan berbagai alasan untuk menolak perjodohan itu, entah alasan karena tidak suka atau alasan-alasan lain yang lebih masuk akal. Namun, entah bagaimana caranya, entah bagaimana awalnya, entah karena apa tiba-tiba saja mamanya menyuruhnya untuk kembali bertemu dengan Anna dan membicarakan masalah fitting baju untuk pernikahan.
Sesuatu yang amat mengejutkan, juga mampu membuat pikiran Rakha semakin gila saja rasanya.
“Ma, Rakha nggak bisa terima perjodohan itu!” jawab Rakha, ketika mendapat kabar dari mamanya kalau ia harus pergi fitting baju bersama Anna, lewat telepon siang tadi.
“Ma, ini terlalu mendadak!”
“Ma, kenapa Rakha harus mau? Dan kenapa Mama nggak kasih Rakha pilihan?”
Dan masih banyak lagi kata-kata yang ia ujarkan, demi menolak sesuatu yang sangat menggilakan itu. namun sayangnya, sekeras apa pun usahanya untuk menolak, sekuat apa pun alasan yang ia berikan, mamanya tetap memaksa dan malah berujung mengancamnya.
“Mama nggak tau, ini benar-benar permintaan Mama. Mama serius, Rakha, Mama menginginkan yang terbaik buat kamu. Mama mohon, Mama nggak tau kalau aja umur Mama udah nggak lama lagi, mungkin Mama nggak akan pergi dengan tenang kalau kamu harus nolak permintaan Mama yang kelewat sederhana ini.”
Anak mana yang tidak merasa sedih ketika orang tuanya mengatakan hal seperti itu?
Anak mana yang akan kuat jika harus mendengar sesuatu yang tak mau didengar?
Anak mana yang akan biasa saja ketika mendengar hal-hal menakutkan seperti itu?
Meskipun sikapnya dingin, cuek dan terlihat tak peduli dengan siapa pun, Rakha tetap merasa sedih ketika mendengar ucapan mamanya yang kelewat menyedihkan itu. Rakha tahu, tidak ada kata serius dalam kalimat menakutkan itu, namun mau bagaimanapun, sebagai orang yang pernah merasa kehilangan, Rakha tetap takut jika hal yang dibicarakan mamanya itu akan benar-benar terjadi.
Ia tidak tahu akan semenyesal apa dirinya saat itu.
Daripada harus merasakan penyesalan yang katanya, sakitnya seperti neraka yang paling dalam, dengan sangat terpaksa Rakha menerima permintaan mamanya. Mengiyakan apa yang diucapkan oleh mamanya, semuanya, bahkan ia tidak peduli akan semenyakitkan apa dirinya ketika hal itu benar-benar terjadi.
“Apa yang kukatakan waktu itu, jadi kenyataan, kan?” ucap Anna lagi, namun ucapannya tetap tak mampu membuat Rakha bergerak atau setidaknya membuka mulutnya.
Kesal karena Rakha diam dan tak membalas ucapannya, Anna berdecak kecil, kemudian menoleh menatap laki-laki yang tengah sibuk mengemudi itu. “Kau tidak suka?”
Pertanyaan bodoh, sangat bodoh. Sudah jelas, sejak mereka pertama kali bertemu pun, Rakha sudah menunjukan kalau dia tidak suka dan tidak tertarik kepadanya. Lalu, apa gunanya pertanyaan itu?
Anna hanya ingin tahu dan ingin memastikannya. Lagi pula, apa pun jawaban Rakha, biarpun dia tidak setuju atau sangat terpaksa sekalipun, ia yang akan tetap memaksa untuk menikah dengannya. Cinta akan datang seiring berjalannya waktu. Anna percaya dengan kata-kata itu, sebab, sahabatnya pernah mengatakan kalau cinta datang karena terbiasa.
“Itu pertanyaan bodoh,” jawab Rakha, dengan nada rendah dan terdengar sinis.
Mendengus, setidaknya laki-laki itu mau menjawab ucapannya. “Baiklah, aku paham. Tapi tenang saja, sudah kukatakan kalau aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku. Ingat itu.”
“Dan sekali lagi saya tegaskan bahwa apa yang kau yakinkan itu tidak akan pernah terjadi.”
Lihat, betapa sombongnya laki-laki itu. Anna tidak tahu, akan selucu apa, akan seperti apa, dan akan bagaimana sikapnya ketika Rakha kemakan dengan ucapannya sendiri. Kata Mom-nya, ucapan adalah do’a, namun ucapan yang mengandung kata menyakitkan, itu akan dibalas dengan hal yang serupa.
Anna sangat menanti saat-saat di mana Rakha merasa malu karena telah berkata seperti itu kepadanya.
‘Haha, lihat saja! Sepertinya, dia belum tahu siapa Anna sebenarnya!’ ujar Anna dalam hati.
“Akan kuingat ucapanmu, sampai ketika kau merasakan hal yang sebaliknya, dan malu untuk mengakuinya,” balas Anna dengan nada penuh percaya diri.
***
Sampai di tempat yang sudah direservasi oleh mamanya, tanpa mau bingung dan tanpa mau ribet, Rakha langsung menanyakan ia harus bagaimana, dan harus seperti apa. Sampai salah satu pegawai di sana membawanya ke suatu ruangan yang di mana isinya dipenuhi dengan setelan-setelan jas mewah dan terlihat sangat elegan.
Selain memiliki sikap dingin, Rakha juga tipe laki-laki yang tidak suka dengan hal-hal yang meribetkan. Jika bisa simpel, mengapa harus mengambil yang susah? Itu prinsipnya. Sempat bingung sebentar, namun pada akhirnya ia memilih setelan jas berwarna navy mengilap, yang semoga saja akan cocok dengan postur tubuh dan warna kulitnya.
Rakha hanya mengangguk ketika pegawai itu mnejelaskan apa saja yang akan ia pakai nanti, dan bagaimana konsepnya. Tidak apa, dalam pernikahan ini, bahkan ia tidak memiliki rasa semangat sedikitpun. Jadi, Rakha juga tidak perlu membuang tenaga untuk memilih atau menginginkan seperti apa pernikahannya nanti.
Semuanya sudah diatur, dan ia sudah tidak bisa berkeinginan lagi.
Setelah selesai dengan urusannya di ruangan itu, Rakha kembali ke ruangan utama kemudian mendudukan tubuhnya di sofa panjang yang di sana. Bersandar dengan mata yang memejam, mencoba menerima keputusan sepihak yang telah ditentukan oleh mamanya. Tidak hanya itu, Rakha juga mengangkat lengan dan memijat pangkal hidungnya, kemudian berganti ke pelipisnya. Berharap rasa pening di kepalanya bisa berkurang, meski ia tahu kalau hal itu tidak akan pernah terjadi sebelum semuanya diakhiri.
beberapa menit memejamkan mata, Rakha kembali membuka kelopak matanya ketika mendengar suara Anna yang baru saja menghampirinya. Hal pertama yang ia lihat adalah Anna yang tengah berdiri di hadapannya dengan tubuh yang sudah terbalut gaun putih yang panjangnya sampai melewati kaki wanita itu. ah, tidak, ternyata gaun itu juga memiliki ekor yang sangat panjang di belakangnya.
“Bagaimana? Kau suka?” tanya Anna dengan wajah penuh antusias.
Rakha diam sejenak, memperhatikan Anna dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Kemudian, tatapannya berhenti tepat di wajah wanita itu. beberapa saat, sampai Anna kembali menegurnya dengan sebuah pertanyaan.
“Hey? Kau lihat apa di wajahku sampai tatapanmu seserius itu?” Anna menghela napasnya pelan. “Bagaimana? Kau suka?”
“Memang apa urusannya? Kau yang akan memakai gaun itu, harusnya kau tanyakan itu pada dirimu sendiri.”
Jawabanya… sangat menjengkelkan bagi Anna. memang apa susahnya menjawab suka atau tidak? Anna menyukai gaunnya, dan memang benar, ia yang akan memakai gaun itu, tapi apa Anna tidak boleh untuk menanyakan pendapatnya? Lagi pula, yang menjadi calon suaminya, kan, Rakha, harusnya laki-laki itu juga ikut berpartisipasi dalam pemilihan gaunnya.
“Kau ini bodoh atau bagaimana? Yang jadi calon suamiku, kan, kau, harusnya kau juga ikut memilih,” balas Anna, dengan raut wajah yang terlihat sangat berbeda dari sebelumnya. seperti … kesal dan hilang semangat.
“Terserah.”
“Itu bukan jawaban,” tegas Anna.
Wanita memang selalu ribet seperti ini. Ikut merasa kesal, Rakha memutar bola matanya malas kemudian kembali menatap Anna. “Terserah kau, saya mengikut saja.”
Memang benar-benar kelewatan. Pernikahan adalah hari yang sangat penting. Tentu, kita menginginkan yang terbaik dalam hari itu. Anna menginginkan kesempurnaan, dan ia tidak suka dengan kesalahan walau hanya sedikit saja. Ia tidak mau kalau nantinya, orang-orang yang datang akan mengira atau berpikir yang tidak-tidak hanya karena gaun yang ia pakai kurang pas dipandang, atau kemungkinan tidak serasi dengan setelan yang Rakha kenakan.
“Kau ini bagaimana? Hidupmu seperti tak memiliki selera. Harusnya kau berpendapat, gaun yang kupakai ini cocok dengan setelan milikmu atau tidak, warnanya masuk atau tidak, modelnya sesuai atau tidak, terlihat cantik atau tidak di tubuhku. Bukan malah menjawab terserah, apalagi hanya mengikut saja.” Anna kembali menghela napas, mencoba menenangkan emosinya yang hampir meledak. “Ya sudah, akan kucoba gaun yang lain. Kali ini, kalau kau menjawab terserah lagi, akan kubicarakan semuanya dengan mamamu.”
Meski kesal setengah mati, pada akhirnya Rakha hanya bisa menghela napas dan mengikut saja dengan apa yang dikatakan oleh Anna barusan. Bagaimanapun, ia memang tidak bisa bertindak apa-apa selain diam dengan rasa kesal yang semakin mengguncah.
Tidak apa, sejak mengiyakan ucapan mamanya, ia sudah siap menggantungkan hidupnya dengan apa pun yang terjadi nantinya. Bagaimanapun, seperti apapun, itu sudah menjadi risiko yang akan ia dapat karena sudah mau berkorban dengan keputusan keluarganya.
Selang beberapa menit, Anna kembali keluar dengan gaun yang berbeda. Gaun dengan warna yang sama namun dengan model yang berebda. Gaun tanpa lengan yang bagian belakangnya mengekspose bagian tubuhnya. gaun yang menjadi pilihan terbaik menurut Anna.
“Bagaimana?” tanya Anna. kali ini dengan raut wajah santai, takut kalau ekspetasinya mengenai respons Rakha, akan patah kembali seperti sebelumnya.
Melihat Rakha diam saja, lagi dan lagi Anna menghela napasnya. “Hey? Aku bertanya, bagaimana dengan gaun ini? Apa kau suka?”
Rakha masih diam, namun matanya tetap memperhatikan Anna yang kini wajahnya sudah mulai memerah karena kesal.
“Rakha!” Anna meninggikan suaranya.
Tidak mau keadaan semakin runyam, Rakha menghela napas pelan dengan mata yang masih membalas tatapan Anna. “Saya suka, Anna, gaun itu sangat cocok dan terlihat cantik di tubuhmu.”