Memiliki laki-laki yang tampan, perhatian dan penyayang adalah keberuntungan yang tak tertandingkan, namun memiliki laki-laki tampan, dingin dan arogan adalah tantangan paling seru untuk dihadapi.
Anna melakukannya.
Setelah acara kencan kemarin, ia semakin yakin saja kalau laki-laki itu memang sangat cocok dengannya. Bukan cocok karena sikap, melainkan karena kepribadiannya. Kekurangan akan tertutup jika dilengkapi, bukan? Terkadang, Anna bersikap layaknya seseorang yang tak memiliki kewarasan, dan Rakha tentu bisa menyadarkannya dari ketidak warasan itu.
Rakha itu dingin dan seperti tak memiliki harapan sedikitpun, dan Anna akan melengkapi hal itu dengan tingkah gilanya.
Saling menguntungkan, bukan?
“Anna, bagaimana kencanmu kemarin?” tanya Melati—Mom-nya Anna.
Anna yang tengah duduk seraya menyuapi wanita itu, mengangkat kedua sudut bibir dengan mata yang ikut menyipit. “Sukses, Mom.”
“Oh, ya? Mom boleh denger ceritanya?”
Berdeham seolah menimbang-nimbang, pada akhirnya Anna tetap mengangguk setuju dengan permintaan Mom-nya. “Of course, Mom. Apa, sih, yang nggak buat Mom.”
Melati ikut menarik sudut bibir ketika melihat putri bungsunya terlihat ceria seperti itu. demi apa pun, bertahun-tahun berpisah dengan Anna, ia sangat tahu bagaimana sikap wanita itu ketika bahagia dan bagaimana sikapnya ketika bersedih. Dan yang ia lihat sekarang, wajah Anna benar-benar memancarkan kebahagiaan, dan ia ikut senang akan hal itu.
Sebagai orang tua, merasa khawatir dengan anaknya merupakan hal yang sangat wajar, bukan?
Umur Anna sudah tidak lagi muda, Melati sudah tidak tahu harus bagaimana lagi agar gadis itu mau menuruti apa katanya. Ketika ia menyuruhnya untuk tetap tinggal di Indonesia, Anna menolaknya. Ketika ia mewanti-wanti agar Anna meninggalkan pergaulannya yang jauh dari kata baik itu, Anna juga menolaknya. Dan ada hal yang membuatnya sedikit bingung namun tetap merasa lega kemarin, biasanya, ketika ia membicarakan hal-hal yang menyangkut menikah, Anna akan menghindar dan berakhir marah kepadanya, namun kemarin berbeda. Sepertinya ada yang salah dengan gadis itu sebab, ketika ia membicarakan pernikahan, responsnya lebih terlihat antusias dari biasanya.
Melati tidak tahu apa alasan di balik itu semua, yang pasti, ia sangat yakin kalau Anna menerima perjodohan itu karena Rakha yang menjadi calonnya. Bagaimana tidak, bahkan ketika baru pertama kali bertemu pun, Anna sudah menunjukan ketertarikannya.
“Selain karena tampan dan seksi, apa yang kamu suka dari Rakha?” tanya Melati. Meskipun ia sudah sempat menanyakan hal ini kepada Anna, tetap saja, ia belum mendapatkan jawaban yang lebih serius dari gadis itu.
“Selain karena Rakha tampan dan seksi, Anna juga suka dengan cara dia berbicara, cara dia menatap orang sekitar, cara dia memberi perhatian kecil,” jawab Anna, dengan tangan yang masih sibuk menyuapkan makanan ke dalam mulut Mom-nya.
Melati mengerutkan keningnya, sedikit heran dengan ucapan anaknya barusan. Rakha yang ia kenal itu terkenal dengan sikap dinginnya, juga cara berbicaranya yang amat ketus dan terkesan sewot. Namun, kenapa Anna malah menyukai hal itu?
“Perhatian kecil?” tanya Melati penasaran.
Anna mengangguk singkat. “Iya, kemarin, ketika Anna tidak sengaja menumpahkan minuman di dress Anna, Rakha membantu dengan cara mengambilkan tisu.”
“Dia bantu ngelapin?”
Anna menggeleng kecil dengan raut wajah yang berubah menjadi masam. “Nggak.”
“Tidak apa-apa, Sayang. Jika kamu serius tertarik dengan Rakha, Mom akan bantu sebisa mungkin. Tapi ingat, perjodohan ini hanya akan berlanjut ketika kalian saling tertarik, atau setidaknya sama-sama setuju. Kalau misalnya Rakha menolak, kamu jangan sedih, ya?” ucap Melati dengan raut wajah penuh perhatian kepada anaknya.
Memang, sedari awal, niat perjodohan itu bukanlah karena paksaan. Ia dan Raya sudah sepakat, jika di antara Rakha dan Anna ada yang tidak setuju atau keberatan, maka perjodohan itu akan batal. Meskipun Raya maupun Melati bersikap seolah memaksa, percayalah, pada akhirnya mereka hanya menginginkan yang terbaik untuk kedua anaknya.
Tidak lebih dari itu.
***
Rakha sudah kembali masuk ke kantornya. Meski moodnya masih belum membaik, meski pikirannya masih belum berhenti memikirkan hal yang sangat menggilakan kemarin, dan meski hatinya belum merasa baik-baik saja, Rakha tetap memaksakan diri untuk pergi bekerja.
Bukannya apa, ia bisa saja diam di rumah dan menikmati waktu sendirinya di kamar. Namun, jika hal itu terjadi, ia yakin mamanya tidak akan tinggal diam saja dan malah semakin gencar untuk membicarakan persoalan perjodohan itu.
Seperti kemarin, ketika ia baru saja kembali ke rumah setelah melaksanakan kencan yang penuh dengan kekonyolan itu, mamanya seolah tak memberinya celah sedikitpun untuk berpikir tenang. Wanita itu menghujamnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang benar-benar menggilakan.
“Eh, anak mama udah pulang. Gimana kencannya? Lancar? Seneng? Bahagia? Gimana sama Anna? dia baik, kan? Dia cantik dan tak kalah seksi, kan? Pilihan mama emang nggak akan pernah salah ya, Kha. Kamu pasti beruntung banget dapetin dia.” Itu ucapan mamanya kemarin malam.
Beruntung katanya? Beruntung dari mananya? Malah, Rakha merasa kalau saja perjodohan itu benar-benar terjadi, ia akan menadapatkan masalah yang besar dan sama saja terjerumus ke dalam jurang yang paling dalam.
Demi apa pun, sampai detik ini Rakha masih mengherankan kenapa mamanya bisa seyakin itu dengan Anna, kenapa dia bisa memilih perempuan seperti Anna. apakah tidak ada yang lain? Oke, saat pertemuan pertama, kesan yang ia berikan kepada wanita itu memang tidak cukup baik, namun ia pikir, kesan tak cukup baik itu akan membaik ketika mereka telah melakukan pertemuan kedua. Namun ternyata, setelah pertemuan kedua pun kesan itu malah semakin tak baik.
Bagaimana caranya? Bukannya sombong atau apa, bahkan mungkin ketika tidak ada perempuan yang tersisa di dunia ini pun, Rakha tidak akan mau menikah jika ia harus menikah dengan perempuan seperti Anna.
Catat, semoga Rakha tidak akan ingkar dengan ucapannya sendiri.
Beralih dari ucapan mamanya, ada ucapan Neneng dan Mang Doyok yang tak kalah terdengar menyebalkan. Bayangkan, bukannya mendukung seorang majikan, dua manusia yang tengah diserang virus kasmaran itu malah saling mendukung bahkan saling bertaruh apakah akhirnya Rakah akan menerima perjodohan itu, atau sebaliknya.
Kemarin, Rakha sempat marah-marah dengan dua orang itu meski pada akhirnya, ketika sarapan pagi, ia tetap minta maaf meski tak merasa salah sedikitpun.
Lamunan Rakah buyar, ketika telinganya mendengar suara dan getaran ponselnya yang tergeletak dari meja. Sama seperti beberapa waktu yang lalu, si pengingat ketika ia tengah bergelut dalam pikiran itu selalu telepon dari mamanya.
Tidak mau menunggu lama, Rakha langsung saja mengangkat teleponnya.
“Rakha, kamu udah makan siang?”
‘Tumben to the pont,’ ucap Rakha dalam hati.
“Udah, Ma,” jawab Rakha.
“Syukurlah,” balas Raya di ujung sana.
Perasaan Rakha sudah mulai tidak enak, ia merasa kalau sikap mamanya berbeda dari biasanya. “Kenapa, Ma?”
Hening beberapa saat, sampai akhirnya Rakha mendengar ucapan mamanya, ucapan yang sangat mengejutkan, bahkan mungkin dapat membuatnya mati karena tertekan.
“Mama tadi udah telepon Feli, mastiin kalau hari ini kamu nggak ada meeting penting sama klien. Berhubung nggak ada, sebaiknya sekarang kamu siap-siap karena sebentar lagi Anna akan datang ke kantor kamu. Kalian pergi ke butik yang udah mama siapin, terus langsung fitting baju buat pernikahan kalian.”
Gila! Karena mendengarnya, Rakha seperti terkena serangan jantung mendadak!