bab 2

1448 Kata
​Hari-hari pertama Arjuna di Desa Pelita berjalan dengan perpaduan antara kelelahan dan rasa takjub. Puskesmas memang sederhana, namun kesibukannya tak kalah dari rumah sakit kota. Pasien datang silih berganti dengan berbagai keluhan: batuk pilek, demam, luka-luka ringan, hingga keluhan kronis seperti diabetes dan hipertensi yang membutuhkan penanganan lebih serius. Ia tak punya asisten pribadi, tak ada perawat khusus yang selalu siap sedia seperti di Jakarta. Di sini, ia harus merangkap banyak peran, bahkan terkadang membantu membersihkan alat atau mencatat data pasien secara manual. ​Ibu Ida, perawat senior yang sudah mengabdi puluhan tahun di Puskesmas itu, adalah sosok yang sangat membantu. Usianya sudah setengah abad, namun semangatnya tak pernah padam. Ia mengenalkan Arjuna pada seluk-beluk Puskesmas, juga kebiasaan dan karakter unik penduduk Desa Pelita. ​"Dokter Arjuna, jangan kaget ya kalau di sini kadang pasiennya datang bawa ayam atau sayur sebagai ucapan terima kasih," ujar Ibu Ida suatu sore, tersenyum geli melihat Arjuna yang tampak sedikit canggung menerima seikat kangkung dari seorang nenek. ​Arjuna tertawa kecil. "Saya tidak kaget, Bu. Justru ini yang saya cari. Interaksi langsung, bukan sekadar tanda tangan di resep." ​Minggu pertama berlalu. Arjuna mulai terbiasa dengan irama kehidupan desa. Pagi hari diwarnai suara kokok ayam, siang hari dengan teriknya matahari yang menembus jendela Puskesmas, dan malam hari dengan nyanyian jangkrik yang menemani kesunyian. Ia mulai sering berjalan kaki keliling desa sepulang kerja, menyapa penduduk yang ramah, dan mengagumi hamparan sawah hijau di kejauhan. Ada kedamaian yang tak pernah ia temukan di balik jendela kantornya yang berlantai tinggi di Jakarta. ​Suatu pagi yang cerah, saat Arjuna sedang memeriksa seorang balita yang demam, pintu Puskesmas terbuka. Seorang gadis muda masuk, menuntun seorang nenek tua yang tampak ringkih. Gadis itu mengenakan blus sederhana motif bunga dan celana kain, rambut panjangnya diikat ekor kuda, memperlihatkan wajahnya yang bersih tanpa riasan. Matanya bening dan sorotnya tajam, namun memancarkan ketulusan yang aneh. ​"Selamat pagi, Bu Ida," sapa gadis itu dengan suara yang lembut namun tegas. "Nenek saya mau periksa lagi, sudah waktunya kontrol diabetes." ​Ibu Ida tersenyum hangat. "Oh, Kirana! Sudah datang. Masuk, Nek, silakan duduk. Pas sekali, Dokter Arjuna hari ini sedang jaga." ​Gadis yang dipanggil Kirana itu menoleh ke arah Arjuna. Pandangan mereka bertemu. Arjuna merasakan sedikit getaran. Bukan karena terpukau akan kecantikan semata, tetapi lebih pada aura kuat yang terpancar dari gadis itu. Ada kemandirian dan kekuatan yang tak terduga dalam sorot matanya yang polos. ​"Dokter," sapa Kirana singkat, sedikit menunduk hormat. ​"Arjuna," kata Arjuna, mengoreksi, dengan senyum tipis. "Selamat pagi, Nek. Silakan duduk." ​Nenek itu, dengan wajah penuh kerutan namun senyum yang meneduhkan, duduk di kursi yang ditunjuk Arjuna. Kirana duduk di sampingnya, tangan kanannya tak lepas dari lengan sang nenek, seolah menjadi penopang dan pelindung. Arjuna memperhatikan bagaimana Kirana dengan sabar mendengarkan keluhan neneknya, sesekali menambahkan penjelasan dengan detail yang mengejutkan. Ia hapal semua riwayat kesehatan neneknya, obat-obatan yang diminum, bahkan pola makan harian. ​"Diabetes Nenek semakin membaik, ini karena Kirana sangat telaten merawat," komentar Ibu Ida sambil menyiapkan alat tensi. ​Kirana tersenyum tipis, seolah pujian itu tak berarti apa-apa baginya, hanya tugas yang ia jalani. ​Saat Arjuna memeriksa nenek, ia sesekali melirik Kirana. Gadis itu tidak bermain ponsel, tidak melamun. Ia fokus sepenuhnya pada neneknya, raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang tulus namun tetap tenang. Pemandangan itu, kesederhanaan dan dedikasi Kirana, terasa seperti embun di tengah gurun bagi Arjuna yang terbiasa dengan lingkungan yang serba individualistis. ​"Baik, Nek. Gula darahnya stabil, tekanan darah juga bagus. Obatnya dilanjutkan ya. Kirana, pastikan Nenek tidak terlalu banyak makan yang manis-manis," pesan Arjuna, tatapannya beralih ke Kirana. ​"Siap, Dokter Arjuna. Saya selalu menjaga," jawab Kirana, mengangguk yakin. ​Sebelum mereka beranjak, sang nenek meraih tangan Arjuna. "Terima kasih banyak, Dokter. Baru kali ini kami punya dokter yang betah di sini." ​Arjuna tersenyum hangat. "Sudah tugas saya, Nek. Semoga betah juga di sini." ​Setelah Nenek dan Kirana berpamitan, Arjuna masih terpaku sejenak. "Kirana," gumamnya pelan. Nama itu terdengar indah di telinganya. Ada sesuatu yang berbeda dari gadis itu, sesuatu yang membuatnya penasaran. Ibu Ida yang melihat ekspresi Arjuna hanya tersenyum maklum. ​"Gadis itu Kirana Dewi, Dokter. Cucunya Bu Warjo. Dia memang mandiri sekali. Sejak orang tuanya meninggal, dia yang mengurus neneknya. Pekerja keras dan baik hati. Kebanggaan desa ini," jelas Ibu Ida, seolah membaca pikiran Arjuna. ​"Oh," respons Arjuna singkat, hatinya mencerna informasi itu. Gadis itu bukan hanya tulus, tapi juga tangguh. Sebuah kombinasi yang menarik. Ini jelas bukan pertemuan terakhirnya dengan Kirana Dewi. ​Setelah Kirana dan neneknya pergi, suasana Puskesmas kembali ke ritme biasanya, namun bagi Arjuna, ada sesuatu yang terasa berbeda. Entah mengapa, sosok Kirana terbayang-bayang di benaknya. Bukan hanya kecantikannya yang sederhana, tapi juga sikapnya. Di kota, ia terbiasa dengan wanita-wanita yang berpenampilan serba mewah, berbicara tentang merek-merek desainer, dan terkadang, ia merasa, memiliki topeng di balik setiap senyum. Kirana adalah antitesis dari semua itu. Ia memancarkan kejujuran dan kekuatan tanpa perlu banyak bicara atau tampil mencolok. ​"Dokter Arjuna, itu resep untuk Pak Budi," suara Ibu Ida memecah lamunan Arjuna. ​Arjuna tersentak. "Ah, iya, Bu. Terima kasih." Ia mengambil resep itu dan melanjutkan pekerjaannya, namun pikirannya sesekali melayang kembali pada Kirana. Bagaimana mungkin seorang gadis semuda itu memiliki tanggung jawab sebesar itu, merawat neneknya dengan begitu telaten? Ia ingat teman-teman kuliahnya yang seumuran Kirana, sibuk dengan hobi, media sosial, dan mencari kesenangan. Kirana sibuk dengan kehidupan nyata, dengan tanggung jawab yang mendalam. ​Beberapa hari berikutnya, Arjuna semakin menyatu dengan kehidupan Puskesmas dan desa. Ia belajar mengenali wajah-wajah penduduk, menghafal rute jalanan sempit, dan bahkan mulai terbiasa dengan panggilan "Dokter Arjuna" yang diucapkan dengan logat khas pedesaan. Ia membantu program imunisasi di posyandu desa, mengunjungi rumah-rumah warga untuk memberikan penyuluhan kesehatan, dan bahkan ikut gotong royong membersihkan selokan desa pada hari Minggu. ​Setiap kali ia berkumpul dengan warga, ia merasa diterima. Tidak ada tatapan merendahkan atau pertanyaan mencurigakan tentang statusnya dari kota. Mereka melihatnya sebagai seorang dokter, seorang pelayan masyarakat, dan itu saja sudah cukup bagi mereka. Ini adalah hal yang tak pernah ia rasakan di tengah lingkaran sosialita Jakarta yang penuh perhitungan. Di sana, setiap interaksi terasa seperti barter, setiap kebaikan memiliki motif tersembunyi. ​Namun, di tengah kesibukannya, Arjuna menyadari sesuatu. Hampir setiap hari, setidaknya sekali, ia akan teringat pada Kirana. Ia menanti momen ketika nenek Kirana akan datang untuk kontrol lagi. Ia ingin melihat Kirana, mendengar suaranya, dan mungkin berbincang lebih jauh. Rasa penasaran itu mengendap, seperti benih yang perlahan tumbuh. ​Suatu sore, saat ia sedang membaca jurnal medis di ruangannya, Ibu Ida masuk dengan secangkir teh hangat. "Dokter, saya lihat Dokter sudah mulai nyaman di sini ya?" ​Arjuna tersenyum. "Iya, Bu. Sangat nyaman. Ada banyak hal baru yang saya pelajari di sini." Ia menyesap tehnya. "Omong-omong, Bu, tadi pagi saya lihat ada beberapa anak yang sakit batuk pilek, padahal cuaca tidak terlalu dingin." ​Ibu Ida mengangguk. "Itu biasa, Dokter. Musim pancaroba. Tapi memang di Dusun Selatan, khususnya daerah pinggir sungai, anak-anaknya sering kena batuk. Sanitasi air di sana kurang bagus." ​Arjuna mengernyitkan dahi. "Oh, begitu. Kita perlu melakukan sesuatu." Ia berpikir keras. Masalah sanitasi air adalah akar dari banyak penyakit. Di Jakarta, ini adalah masalah yang kompleks dan butuh dana besar. Di desa, mungkin ada solusi yang lebih sederhana dan bisa melibatkan masyarakat. ​"Mungkin kita bisa adakan penyuluhan lagi, Bu," saran Arjuna. "Dan mungkin bisa ajak warga untuk ikut bergotong royong memperbaiki sumber air atau saluran sanitasi di sana?" ​Ibu Ida menatap Arjuna dengan kagum. "Wah, Dokter ini benar-benar niat. Itu ide bagus sekali! Sudah lama saya ingin ada yang menggerakkan hal itu. Tapi butuh orang yang punya pengaruh dan bisa dipercaya warga." ​"Saya siap membantu, Bu. Ini alasan saya ke sini," tegas Arjuna, matanya berbinar penuh semangat. Ia membayangkan bagaimana rasanya jika ia bisa membuat perubahan nyata di desa ini. Perubahan yang bukan diukur dari laporan keuangan, tapi dari kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. ​Tiba-tiba, bayangan Kirana kembali muncul. Gadis itu, dengan dedikasinya pada nenek dan desanya, pasti akan menjadi aset berharga dalam setiap upaya perbaikan. Ia adalah contoh nyata dari kearifan lokal yang tulus. Mungkin, pikir Arjuna, ia bisa meminta bantuan Kirana suatu saat nanti untuk menggerakkan masyarakat. ​Senja mulai merayap di Desa Pelita. Dari jendela ruangannya, Arjuna bisa melihat lampu-lampu rumah penduduk mulai menyala satu per satu, menciptakan titik-titik cahaya yang hangat di antara kegelapan. Tidak ada gemerlap lampu neon atau klakson yang memekakkan telinga. Hanya keheningan yang damai, dan janji akan esok hari yang penuh arti. Ia tahu keputusannya meninggalkan Jakarta adalah keputusan terbaik yang pernah ia buat. Desa Pelita, dengan segala kesederhanaan dan tantangannya, telah memberinya tujuan yang sesungguhnya. Dan mungkin, sesuatu yang lebih dari sekadar tujuan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN