pewaris dan penjaga desa
Langit Jakarta selalu punya cara sendiri untuk menelan ambisi. Di lantai dua puluh lima gedung Arkana Group yang menjulang angkuh, Dokter Arjuna Pratama memandang panorama kota yang padat, namun pandangannya jauh lebih kosong dari biasanya. Aroma kopi mahal dari meja kerjanya tak mampu membuyarkan aroma disinfektan rumah sakit yang seolah melekat di indranya, sebuah pengingat abadi akan panggilannya yang sesungguhnya.
Dua puluh sembilan tahun hidupnya, Arjuna adalah definisi pewaris sempurna: cerdas, berprestasi, dan memiliki garis keturunan yang menuntutnya untuk selalu berada di puncak. Lulusan kedokteran terbaik dari universitas terkemuka di luar negeri, ia seharusnya menjadi permata mahkota di Arkana Medika, jaringan rumah sakit milik keluarganya yang tersebar di seluruh negeri. Namun, setiap bangsal VIP, setiap alat medis canggih, dan setiap jabat tangan formal dari kolega yang berkuasa, justru terasa seperti belenggu.
"Arjuna, rapat dewan direksi besok pagi jam delapan. Jangan sampai terlambat lagi seperti minggu lalu," suara ayahnya, Bapak Dharma Pratama, terdengar tegas dari interkom. Nada itu tak pernah berubah sejak ia kecil—penuh ekspektasi yang tak terucapkan.
Arjuna hanya menggumamkan persetujuan. Rapat dewan direksi. Pembahasan tentang ekspansi pasar, keuntungan triwulanan, atau merger dengan perusahaan farmasi raksasa. Hal-hal yang terasa begitu jauh dari esensi pekerjaannya sebagai seorang dokter. Ia ingin menyembuhkan, bukan menghitung laba dari penderitaan. Ia ingin berada di garis depan, di tengah masyarakat yang benar-benar membutuhkan, bukan terjebak dalam politik korporat.
Pikirannya melayang pada artikel yang ia baca beberapa bulan lalu, tentang program pengabdian dokter di daerah terpencil. Sebuah artikel sederhana, tanpa embel-embel glamor, namun entah mengapa, kata-kata itu menancap kuat dalam benaknya. Sebuah desa bernama Pelita, terletak di kaki bukit yang hijau, masih kesulitan akses kesehatan memadai. Narasi tentang Puskesmas kecil yang berjuang dengan fasilitas minim, namun dikelilingi oleh masyarakat yang hangat dan saling membantu. Itu adalah gambaran yang sangat kontras dengan hiruk pikuk Jakarta, dengan kepalsuan senyum di pesta-pesta sosialita, dan dengan tekanan konstan untuk memenuhi standar keluarga Pratama.
Keputusan itu datang tiba-tiba, namun sudah lama bergejolak di dalam hatinya. Ia ingat bagaimana ibunya, Nyonya Amara Pratama, menangis tersedu-sedu saat ia menyatakan niatnya. "Arjuna, apa yang kau pikirkan? Meninggalkan semua ini demi... desa?"
"Ini bukan 'desa' biasa, Bu. Ini tempat di mana saya bisa benar-benar menjadi dokter," jawabnya kala itu, suaranya tenang namun penuh keyakinan. "Saya ingin menyentuh hidup orang, bukan sekadar menandatangani laporan keuangan."
Ayahnya, Dharma, hanya menatapnya tajam. "Kau sedang memberontak, Arjuna. Ini fase. Kau akan kembali."
Tapi Arjuna tahu ini bukan fase. Ini adalah jalan yang ia pilih. Beberapa minggu kemudian, setelah melewati berbagai proses birokrasi yang rumit dan menghadapi penolakan keras dari keluarganya, surat penempatan resmi dari Kementerian Kesehatan akhirnya berada di tangannya. Tujuannya: Puskesmas Desa Pelita.
Malam itu, barang-barang Arjuna tak banyak. Sebuah koper berisi pakaian, tas punggung dengan buku-buku medis, dan sebuah kotak kecil berisi kenang-kenangan dari masa kecilnya. Ia menatap kamar mewahnya untuk terakhir kali. Tak ada penyesalan. Hanya rasa lega yang menjalar, seolah beban berat yang selama ini menindih pundaknya akhirnya terangkat.
Pagi buta, di saat Jakarta masih terlelap dalam kabut polusi, sebuah taksi sudah menunggunya di depan gerbang megah rumah Pratama. Ia sengaja tidak meminta sopir pribadi keluarga. Ini adalah perjalanannya sendiri, awal dari babak baru dalam hidupnya.
Perjalanan itu panjang. Berjam-jam menembus kemacetan kota, lalu berlanjut di jalan tol yang mulus, sebelum akhirnya beralih ke jalanan pedesaan yang mulai berliku. Pemandangan gedung-gedung tinggi perlahan terganti oleh hamparan sawah hijau, bukit-bukit yang diselimuti kabut tipis, dan rumah-rumah sederhana dengan halaman yang luas. Udara terasa lebih bersih, dan suara klakson kendaraan berganti dengan kicauan burung serta suara gemericik air.
Arjuna menurunkan kaca mobil. Angin segar menerpa wajahnya, membawa serta aroma tanah basah dan dedaunan. Ia menghirupnya dalam-dalam. Ini adalah aroma kebebasan yang ia dambakan. Sesekali, ia melihat anak-anak kecil berlarian tanpa alas kaki di pinggir jalan, wajah mereka ceria dan tanpa beban, sangat berbeda dengan anak-anak kota yang sering ia temui di taman bermain eksklusif.
Sopir taksi, seorang pria paruh baya yang ramah, sesekali mengajaknya berbincang. "Wah, Bapak ini dokter ya? Mau tugas di mana, Pak?"
"Di Puskesmas Desa Pelita, Pak," jawab Arjuna ramah.
"Oh, Desa Pelita! Itu desa yang asri, Pak. Orang-orangnya ramah-ramah. Dulu di sana jarang ada dokter tetap, biasanya dari Puskesmas kecamatan aja yang keliling. Baguslah kalau ada dokter baru di sana," kata sopir itu sambil tersenyum. "Pasti betah, Pak. Walau mungkin beda jauh sama Jakarta."
Arjuna hanya tersenyum tipis. "Itu yang saya harapkan, Pak."
Sekitar lima jam perjalanan, mobil taksi akhirnya memasuki sebuah gerbang desa sederhana yang terbuat dari bambu. Sebuah plang kayu bertuliskan "SELAMAT DATANG DI DESA PELITA" menyambutnya. Jalanan desa masih berupa aspal tipis, namun bersih dan dihiasi pohon-pohon rindang di sisi kiri kanannya. Rumah-rumah penduduk yang terbuat dari kayu dan bata tampak rapi dengan pekarangan yang dihiasi tanaman bunga.
"Kita sudah sampai, Dokter," kata sopir itu. "Puskesmasnya tidak jauh dari sini, lurus saja, nanti ada belokan kecil di sebelah pohon beringin besar."
Arjuna mengangguk. Debaran di dadanya bukan lagi debaran kegelisahan, melainkan debaran antisipasi. Ini dia. Awal yang baru. Sebuah tempat di mana gelarnya sebagai "pewaris" tak berarti apa-apa, dan ia hanya akan dikenal sebagai "Dokter Arjuna."
Ia mengeluarkan dompetnya untuk membayar taksi. Begitu kakinya menginjak tanah Desa Pelita, rasanya seperti menapak di dunia yang berbeda. Udara segar, suara serangga, dan aroma pedesaan yang menenangkan. Ia melihat ke sekeliling, mencoba menyerap setiap detail. Beberapa pasang mata penduduk desa yang kebetulan lewat meliriknya dengan rasa ingin tahu, namun juga senyum ramah yang tulus.
Puskesmas Desa Pelita ternyata lebih sederhana dari yang ia bayangkan. Bangunan satu lantai berwarna hijau muda, dengan papan nama yang agak usang. Namun, ada aura kesibukan dan kehangatan yang terpancar dari dalamnya. Pintu depannya terbuka, memperlihatkan beberapa orang sedang menunggu di bangku kayu.
Arjuna menarik napas panjang. "Baiklah, Jakarta. Sampai jumpa." gumamnya pelan.