bc

Duda Hot itu Suamiku

book_age18+
342
IKUTI
5.4K
BACA
HE
arranged marriage
badboy
badgirl
heir/heiress
bxg
kicking
enimies to lovers
professor
like
intro-logo
Uraian

Garwita Hara Jayasri, atau biasa dipanggil Aya (20 tahun) adalah seorang gadis yang bebas dan suka foya-foya. Eits, itu kata mereka, yah. Akan tetapi , menurutku itu bukanlah hal yang salah, apalagi jika uang yang digunakan juga bukan dari hasil nyolong. Aku foya-foya pakai uang orang tuaku. Jadi, please! Tidak perlu ikut campur untuk mengurusi kehidupanku. Terutama kamu, Arkana Darpa Gratland (35 tahun) atau biasa dipanggil Pak Arka.Cih, menyebut namanya saja sudah membuat bulu kudukku merinding, apalagi jika membayangkan harus satu rumah dengannya. Iyuh, sungguh sangat menjijikkan! Kenyataannya, aku harus menjilat ludahku sendiri sekarang. Lantas, aku harus apa sekarang? Hidup segan, mati pun tak mau!

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Hari Tersial
“Sial! Kenapa gue harus telat, sih? Andai saja semalam gue gak mabok, pasti gue bakalan kayak gini!" Langkahku kubawa begitu cepat, bahkan terkesan berlari. "Mana mobil gue mogok lagi. Dahlah, apesnya komplit njir!" Mataku menatap awas ke arah sekitar di mana lorong terlihat sepi karena jam matkul sudah berjalan lebih dari 30 menit. Ketika sampai di belokan, mulutku kembali menggerutu, “Mana hari ini itu dosen killer berangkat lagi. Arghh! Sial banget sih, gue!” Sesampainya di depan kelas, aku mengintip dari balik celah pintu. “Eh, apa itu orang tua gak berangkat hari ini, yah? Kok, tumben kelasnya kosong,” gumamku ketika tidak menemukannya. Sontak, bibirku mengulas senyum lebar dan mengepal tangan kegirangan. “Asa! Untung itu Pak Tua kagak masuk. Kalau kayak gini, kan, gue gak perlu ngumpet-ngumpet!” Dengan percaya diri, aku berdiri, merapikan penampilanku sebelum masuk, lalu setelah selesai barulah tanganku memegang handle pintu. Namun, belum sempat ku tarik gagangnya, seseorang menepuk bagian bahuku. “Apa, sih? Gak usah ganggu, deh!” tepisku tanpa berniat orang di belakangku. "Ekhem!" Suara dehaman di belakang membuat tubuhku membeku. “Mati gue!” Aku menelan kasar, lalu memejamkan mata. “Apa kamu telat lagi, Aya?” Aku langsung memutar badan dan memberikan senyum semanis mungkin, lalu mengangkat dua jari membentuk tanda ‘V’. "Hai, Pak." Aku berniat mencium tangan si dosen killer itu. Namun, niat baikku tak diterima olehnya. “Kali ini apa alasan kamu telat? Apa ban mobilmu pecah? Atau, jam alarm di kamarmu tak berbunyi? Tunggu dulu!" Matanya menyipit, lalu mendekatkan wajahnya ke arahku. Refleks, aku mundur. "Apa semalam kamu mabuk?" tanyanya dingin. Aku menggeleng cepat. “Gak, kok. Mana mungkin," kilahku tertawa hambar, "Bapak baru datang?" Arkana Darpa Gratland atau biasa orang mengenalnya dengan panggilan Pak Arka. Si dosen killer yang selalu menjadi buah bibir para mahasiswa di fakultas. Ya, walaupun wajahnya ganteng, tetapi kelakuannya sangat menyebalkan. Selain pelit nilai, dia juga tidak pernah memandang muridnya cewek atau cowok, jika salah maka akan dihukum. Seperti sekarang. “Kamu tahu konsekuensi telat di kelas saya, kan?” Suara Pak Arka terdengar rendah, tetapi mampu membuat bulu kudukku meremang. Aku meringis sambil menggaruk rambutku yang ku kuncir kuda. “Em, bisakah hari ini saya tidak melakukannya, Pak?” Aku mencoba bernegosiasi dengan memasang wajah menggemaskan. “Kenapa saya harus melakukannya? Apa kamu ini anak Presiden, atau anak Pejabat?” Aku menjentikkan jari sambil tersenyum pongah. “Nah, itu Bapak tahu. Jadi, apa saya boleh masuk kelas Bapak?” tanyaku dengan penuh harap. "please;" Bukan bermaksud sombong, tetapi semua orang di fakultas juga tahu jika Garwita Hara Jayasri adalah anak pejabat. Tentunya dengan embel-embel anak orang kaya. Apalagi, ibuku juga seorang desainer terkenal. Akan tetapi, sepertinya hal itu tidak berlaku pada pria di hadapanku. Pak Arka melangkah maju selangkah demi langkah, sementara diriku mundur hingga punggungku menyentuh pintu. “Sial! Kenapa dia biasa saja? Seharusnya pria itu takut dong sama kekuasaan Ayah gue?” batinku panik. Realitanya, aku tetap saja terintimidasi dengan tatapan Pak Arka yang seolah siap menerkam. Berharap saja tidak ada yang melihat karena bisa jatuh pamorku yang selama ini terkenal menjadi Dewi Kampus. “Walaupun kamu anak pejabat sekali pun,” jeda Pak Arka, “saya tidak takut dan tidak akan pernah mentolerir setiap kesalahanmu. Camkan itu!” Pria itu menyeringai. Aku langsung memejamkan mata mendengar perkataannya yang begitu sarkas. Belum sempat aku menjawab ucapannya, Pak Arka sudah kembali berkata, “Jadi, tunggu apa lagi? Kamu tau, kan, apa yang harus kamu lakukan sekarang?” katanya otoriter. “Iya, bawel!” Namun, kata-kata itu hanya bisa tertahan di dalam tenggorokanku. Karena pada akhirnya, aku harus kalah dan menurut. “Siap, Pak. Saya akan melaksanakan hukumannya sekarang juga,” jawabku dengan patuh dan kepala tertunduk. “Bagus. Kalau begitu, kamu bisa menyingkir dari hadapan saya sekarang juga!” Dia mengusirku dengan dagunya. Bibirku mengerucut. Sabar, Aya, sabar. Punya Dosen modelan Pak Arka itu enaknya di musiumin. Biar apa? Biar semua orang tahu jika di dunia ini ada Dosen yang begitu menyebalkan seperti dia. Dengan tak rela, aku menyingkir dan membiarkan Pak Arka masuk ke dalam kelas, sedangkan diriku hanya berdiri diam di samping pintu meninggalkanku sendirian. “Hahhh, apes banget, sih, gue hari ini. Tadi mobil mogok, terus lari-larian ngejar ojol, sekarang,” jedaku nelangsa, “masa iya gue harus nyabutin rumput di halaman belakang yang berhektar-hektar itu? a***y!” Aku menjenggut rambut frustasi. “Argh! Gue mau mati ajalah!” Tiba-tiba, pintu menjeblak dan menampakkan wajah garang dosen killer itu. “Mau sampai kapan kamu masih berdiri di sini? Apa kamu lupa jika saya menyuruhmu untuk pergi?" “Mau sampai kiamat juga itu bukan urusan situ,” batinku menjawab. “Apa kamu tidak tahu jika waktu itu sangat berharga? Hm!” sambung Pak Arka. “Iya-iya, bawel! Berisik banget sih, situ, Pak Tua!” Lagi-lagi semua itu hanya bisa kusimpan di dalam hati. “Aya!" Dia menggebrak pintu di sampingnya. "Kamu dengar apa tidak sama yang saya omongin?” Aku mengusap d**a karena terkejut. “I--ni saya juga mau pergi, kok, Pak. Kalau begitu, sa--ya permisi,” pamitku. Pada saat itu juga, aku langsung kabur tanpa memedulikan keberadaan Pak Arka di pintu. Setelah sedikit jauh, aku menghentikan pelarianku dan berjalan dengan napas memburu. "Haus, njir," dumelku sambil melihat ke kanan dan kiri. Akan tetapi, tetapi tidak ada satu pun orang yang aku kenal. Hanya segelintir orang saja yang lewat, lainnya sibuk sendiri. Akhirnya, tanpa.memedilikan rasa hauskunitu, aku berjalan lurus ke taman belakang, mulutku tak pernah berhenti untuk mengomel, bahkan merutuk si pak tua itu. Sambil mencabut rumput liar itu kesal, aku menatap penuh dendam bagian belakang gedung lantai dua di mana kelasku berada. Semua kesalahanku sengaja aku keluarkan tanpa berniat aku tutup-tutupi. “Percuma punya wajah ganteng, body bagus, tetapi mulut lemes kek lambe turah. Gue sumpahin, ya, itu orang bakalan nikah sama cewek yang super-super nyebelin! Biar dia tahu rasa!” kataku sungguh-sungguh. Tiba-tiba, aku punya ide. “Gue kerjain, ah!” Tanganku segera mengambil ponsel di dalam tas dan menghubungi seseorang. “Lo datang ke taman belakang sekarang juga!” kataku pada seseorang di seberang telepon. Kini, setelah cuci tangan dan merapikan penampilan di toilet, aku memilih untuk pergi ke kantin. Aku haus dan lapar. Di rumah tadi tidak sempat sarapan karena sudah telat. Jadi, jangan salahkan siapapun jika sekarang aku makan seperti orang tidak makan seminggu. “Slow aja, Bestie. Lo udah kek gak pernah makan setahun aja.” Tiba-tiba, teman satu kelasku datang. Dia adalah Dian, tapi aku abaikan. “Bodo amat! Gue laper. Jadi, lo kalau datang ke sini cuma buat ngeceng-ngecengin gue, mending lo balik sono!” “Njir, yang lagi sensi habis ketemu sama Ayang Arka.” “Huh! Mulut lo yang cantik itu gak usah bawa-bawa nama dia di sini, deh!” Aku langsung memperingati Dian. “Nama itu haram disebutkan di depan gue. Soalnya dia cuma bawa sial doang di hidup gue!” “Haram atau halal, Neng?” Dian menjawil daguku, tetapi langsung kutepis. “Gue slepet juga nih, yah!” “Gak usah terlalu benci sama dia, deh, Ay. Nanti, kalau kalian jodoh baru tahu rasa, lo!” “Dih, amit-amit jabang bayi gue jodoh sama itu orang tua. Daripada gue nikah sama itu dosen killer, mending gue nikah sama Bang Jav.” Bibirku seketika tersenyum lebar membayangkan pria lain. “Otak lo itu–” “AYA!” Byur.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
68.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook