Dia mendengkus dan hal inilah yang kadang membuatku heran setiap melihat Aya. Si gadis yang tak pernah takut jika berhadapan denganku, atau memang hanya dia saja yang sering melawan perkataanku.
“Denger, ya, Pak. Walaupun saya belum punya anak, bukan berarti saya tidak bisa memahami bahasa mereka,” jawabnya ketus, “lagian, situ yang punya anak aja gak tahu bahasa mereka,” sindirnya balik.
“Apa?” Aku menatapnya dengan kilat kaget. “Apa kamu baru saja mengejekku?”
Bibirnya bergerak seperti hendak bicara, tetapi entah alasan apa yang membuatnya kembali bungkam. “Terserahlah! Capek ngomong sama Bapak,” katanya kemudian, lalu meraup anakku dan pergi berlalu saja tanpa persetujuanku.
“Yakh! Mau kamu bawa ke mana anakku?”
“Dia bukan anak Anda, Pak. Tapi, anak Tante Turi,” balasnya ketus, lalu meninggalkanku di ruang tamu sendirian.
“Haish! Sejak kapan anakku jadi ikut berkompromi dengan dia, sih?” gerutuku tak tetap melihat punggung kecilnya. “Ah, kunci mobilku!”
Aku celingukan mencari keberadaan benda kecil itu. Dari atas nakas, sofa, hingga tak sepatu milikku juga kucari. Namun, aku tetap saja tidak menemukannya. “Haish! Kenapa kalau lagi dibutuhin suka ngilang, sih,” gerutuku.
“Astaga, Papa Arka. Kenapa masih di situ?”
Aku berdiri dan menemukan Mama yang sedang berkacak pinggang di antara ruang tamu dan ruang tengah. Dia lalu mengomel, “kami udah kelaparan di dalam dan kamu malah masih di situ. Ckckck! Cepatlah!”
“Aku sedang mencari kunci mobil, Nek,” kilahku, tetapi tak diindahkan oleh Mama.
Akhirnya, aku pun memutuskan untuk menunda mencari kunci mobil. Setelah sampai di ruang makan, aku melihat Amir duduk dipangkuan Aya, sedangkan kedua Nenek berada di samping kanan dan kirinya.
“Maaf, menunggu kalian lama,” ujarku tidak enak hati.
“Papa ngapain malah diem aja di situ?” Mama kembali menegurku.
Aku yang ditatap oleh keempat pasang mata itu menjadi canggung. Tanpa menjawab, aku segera duduk di kursi tunggal. Sebelum makan, aku memimpin doa untuk kami.
“Selamat makan,” kataku sebelum menyantap makanan yang ada di atas piring.
Ketika kami mulai sibuk dengan makanan, suara Amir yang merengek membuatku melirik padanya. “Kenapa, Nak?” tanyaku setelah menelan sisa makananku.
“Ndak au … ayul a–hit.” Kepala Amir menggeleng, menutup mulut sambil menunjuk ke arah brokoli di piring.
“Brokoli gak pahit, Sayang. Lihat!” Aya menyuaokan satu potongan sayur hijau itu ke dalam mulutnya. “Hmmm, yummy!” Ekspresinya terlihat menikmati.
“Ndak au!” tolak Amir keras kepala.
Aku menghela napas. “Sayang, kita gak boleh pilih-pilih makanan! Lagian, Nenek sudah menyiapkan semua masakan ini dengan penuh cinta. Jadi, Amir harus makan, yah!” bujukku.
“NDAK AU! APPA HAT!” tolaknya lagi, bahkan kini disusul suara tangis yang memenuhi ruangan.
Aku yang paling tidak suka keributan tanpa sadar menggebrak meja di depanku. “Makan, Amir!” kataku tegas.
Anak kecil itu sempat menatapku dengan mata basahnya, kaget. Tidak lama kemudian, Amir kembali menangis. “Huwaaaa!”
Kepalaku langsung berasap. “AMIR!”
Suasana yang tadinya ramai akan celotehan Amir, Aya, serta para nenek, kini berubah menjadi tegang. Hal itu jelas kurasakan, tetapi aku memilih abai dan fokus pada anak kecil yang tidak berhenti menangis.
“Hiks!”
“Arka, kamu tidak seharusnya berterima seperti itu pada Amir!” Mama langsung menengahi dengan memegang lenganku.
“Amir itu terlalu dimanja, Nek, makanya dia jadi seperti itu!” kataku kesal.
“Auw!”
Aku langsung melihat ke arah tubuh Aya yang entah bagaimana bisa terjatuh.
“Aku gak apa-apa, Tante. Maaf,” kata Aya sambil berusaha bangkit dan memeriksa keadaan Amir. “Kamu gak apa-apa, kan, Sayang!” tanyanya cemas.
“Tante yang seharusnya bertanya padamu, Nak. Kamu nggak apa-apa kan? Pasti Amir terlalu brutal menangisnya sampai membuatmu yang tidak siap menjadi terjatuh.” Mama terluaht khawatir. “Sekali lagi, maaf ya, Sayang.”
“Gak apa-apa, Tante. Aya baik-baik aja.” Suara gadis itu terdengar.
“Lihat Amir, apa yang sudah kamu perbuat? Kakak Aya sampai jatuh dan itu karena kamu. Jadi, bersikaplah yang tenang dan kembali makan!” kataku memerintah.
“Maaf, Pak. Tapi, tidak seharusnya Anda sebagai seorang Ayah berbicara keras pada anak kecil!” Dia menatapku dengan berani.
Aku mendengkus. Tanpa melihat ke arahnya, kubersihkan bibirku dengan lap khusus. “Tahu apa kamu tentang mengurus seorang anak?” Mataku menatap ke arah maniknya. “Jika kamu lupa, kamu saja masih bersikap seperti anak kecil di usiamu yang sudah tidak kecil lagi,” sindirku.
Wajahnya menunjukan sinar keterkejutan, tetapi aku tak memberinya waktu untuk bicara. “Saya harap, Anda tidak perlu ikut campur urusan keluarga kami!” desisku tajam.
Mata yang sempat terlihat emosi seketika mengerjap. Seolah-olah, apa yang baru saja kukatakan membuatnya sadar. Kepalanya langsung tertunduk, lalu kudengar dia terkekeh. “Ah, maaf. Saya sampai lupa jika saya bukanlah siapa-siapa di sini.” Dia mendongak dan menatapku. “Kalau begitu, permisi!”
“Kamu keterlaluan, Arka!” Mama Turi tiba-tiba menatapku dengan tatapan kecewa. “Nak Aya! Tunggu!” Mama mengejar Aya sambil menggendong Amir.
Lalu, tatapanku bertemu dengan Mama Dilla. Dia tersenyum kecil, tetapi aku menemukan sorot kecewa di sana. Aku yang sudah tidak tahan memilih pergi dari rumah dengan menunggangi motor ninjaku.
“Sial! Sebenarnya kenapa dengan gue? Kenapa gue harus marah pada anak gue sendiri? Padahal, itu jelas bukan salah dia,” kataku di antara deru angin. Dadaku terasa sesak dan butuh pelampiasan. “s**t!”
Kuterjang udara malam untuk ikut masuk bersama kendaraan-kendaraan lain yang ada di jalanan. Kubuang semua emosiku dengan terus menarik gas hingga aku merasa melayang di atas kuda besiku.
Entah berapa lama aku menunggangi motorku, kini aku sudah sampai di sebuah rumah pohon yang terletak di tengah perumahan dan hutan. Di sinilah aku membangun rumah masa depan kami.
Akan tetapi, setelah kematiannya aku tak pernah datang ke sini lagi. Terlalu banyak kenangan di sini sehingga membuatku tak berani datang. Namun, hari ini hatiku menuntunku ke sini. Aku menyeringai pedih.
Aku lalu melangkah mendekati pohon besar itu tanpa berniat menaikinya. Tubuhku kubiarkan bersandar dengan wajah menengadah ke langit. “Apa kamu yang menuntunku untuk ke sini, Sayang?”
Malam ini, banyak bintang bertaburan, bahkan rembulan pun tak malu-malu memperlihatkan keindahannya. Namun, semua itu sama sekali tak membuatku terlena. Aku justru semakin merindukannya.
“Apa kau sedang mengutukku di atas sana karena sikapku hari ini?” Aku tersenyum keruh. Tanpa bisa dicegah, air mataku luruh. Ini adalah kali kedua aku menangis setelah kematian Wulan. “Aku memang bukanlah ayah yang baik untuk Amir, Lan, dan kamu pasti kecewa padaku! Hiks!”
Perlahan, tubuhku terduduk di atas rumput dengan kaki ditekuk untuk menyembunyikan wajah sembabku. Dalam keheningan malam, aku kembali berkata, “Wulan, aku sudah membuat Amir, Mama Turi, dan Mama Dilla kecewa karena sikapku yang tidak sabaran. Kamu,” jedaku terisak, “apa juga kecewa di atas sana padaku?”
“Tolong jangan kecewa padaku, Sayang! Kamu adalah satu-satunya wanita yang menjadi tempatku mengadu.” Tangisku makin tak kuasa kutahan. “Tolong … tolong peluk aku, Sayang! Aku butuh kamu sekarang!”