Bab 31. Kepergok

1550 Kata

Keesokan paginya, ketika bertemu di meja makan, kami sama sekali tak bertegur sapa. Sebenarnya, aku ingin minta maaf, tapi ketika melihat wajahnya yang super super kaku membuatku urung melakukannya. Akhirnya, aku memilih untuk diam dan menggigit roti selai coklat itu dengan perasaan berkecamuk. Niat hati mau masak, tetapi sudah kadung tidak mood. Alhasil, sarapan seadanya saja. “Aya berangkat, Pak.” Setelah selesai makan, aku berpamitan. Namun, dia benar-benar menganggapku seolah tidak ada. Brengsek! Arghh! Kenapa sih, ada manusia seperti dia di dunia ini? Dengan kaki dihentakkan, aku langsung pergi dari apartemen menuju kampus sendiri. Selama di dalam lift, bibirku tak bisa berhenti untuk terus menggerutu tentangnya. “Dasar kulkas karatan! Buat apa tinggal bareng, kalau ujung-uj

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN