Bab 9. Hal Memalukan Terjadi

1396 Kata
Tubuhku masih kaku ketika dia berbisik di samping telinga, “Saya hanya tidak ingin orang lain tahu jika kamu sedang kedatangan tamu bulanan.” What the f**k! “Ta–mu bu–lanan?” Wajahku langsung pucat, kakiku kaku hanya sekadar untuk melangkah. “Anjir! Kok, gue bisa lupa sama jatah bulanan gue, sih? Arghh! Gimana ini? Gue gak bawa celana, ataupun pembalut lagi,” batinku menjerit. “Apa yang kamu lakukan?” Aku masih diam di tempat ketika pria itu berdiri di depanku. “Apa kamu tidak ingin berganti? Atau, kamu ingin terjebak di sini hingga malam?” Aku menggeleng cepat, lalu menunduk. Tanganku memegang jaket yang melingkar di perutku dengan perasaan campur aduk. Antara malu dan ingin menangis. Malu, kenapa harus Pak Arka yang pertama menyadari? Kenapa bukan orang lain saja? Akan tetapi, pilihan kedua jelas juga tidak ada bagus-bagusnya. Merasakan perut melilit sekaligus malu membuatku ingin menangis. Kenapa harus datang bersamaan dengan orang yang salah? Katakanlah aku memang bego! Tapi, kejutan-kejutan dari sikap yang bertentangan dengan sifat Pak Arka membuatku bingung. Dibalik sifat menyebalkannya, ternyata dia juga bisa peduli. Soalnya, gue malah jadi ngerasa nyaman berada di dekatnya. Apa tidak kurang ajar itu namanya. “Aya!” Helaan napas terembus dari pria di depanku, tetapi aku masih saja sibuk menunduk. Aku terlalu malu untuk menampakkan wajahku sekarang. Rasa-rasanya, aku ingin meminjam pintu ajaibnya Doraemon, terus menghilang dari muka bumi ini. Kalau perlu, ke planet Mars. Biar jauh sekalian dan tidak ada orang yang mengenalku. Aku meliriknya ketika pria tua di depanku menghela napas berat. Sepertinya, dia mulai bosan dengan aksi diamku yang seperti patung Pancoran. “Aya–” “Aku gak bawa baju ganti, Pak.” “Apa? Suara kamu pelan banget. Aku gak denger.” Pan Arka mendekatkan wajahnya, tetapi aku langsung mundur. Bibirku berdecak. “Aku gak bawa baju ganti, Pak. Lagian, aku juga gak bawa … itu,” jawabku pada akhirnya. Wajahku sudah memerah, mungkin sampai telinga juga. Bodo amatlah! "Oh, itu." Jawabnya terdengar santai. Keningku mengernyit dalam ketika melihat tanggapannya yang super irit bin medit itu. “Em, maksudnya gimana ya, Pak?” tanyaku mulai hilang kesabaran. Bukannya menjawab pertanyaanku, pria itu justru mengubah topik pembicaraan. “Sepertinya di depan ada mini market. Jadi, kamu bisa ganti nanti,” usulnya. Aku meniup poniku. “Tapi, masalahnya saya tidak bawa baju ganti, Pak. Walaupun kita membeli si itu di sana,” jedaku sambil membuat tanda kutip, “akan percuma juga!” “Kamu tenang saja. Masalah itu bisa sayang urus nanti.” Aku melongo dibuatnya. “Tapi–” Belum selesai aku menjawab, dia sudah lebih dulu pergi dan meninggalkanku. Aku menggigit bibir kesal akan sikap Pak Arka yang aneh dan ajaib. “Arghh, kenapa harus dia, sih?” dumelku bete. “Ssstt! Tolong jangan berisik, Mbak!” “Eh? Maaf, Kak.” Dengan perasaan malu, aku segera kabur mengejar Pak Arka. Kini, aku sudah berdiri di depan minimarket, setelah tadi ditegur oleh salah satu pegawai perpustakaan. Pegal juga berdiri sedari tadi, tetapi aku tidak mungkin duduk dengan kondisi bocor seperti sekarang. Nanti, yang ada aku malah mengotori jaket milik Pak Arka. “Lagian, bego banget, sih, gue sampai lupa sama tamu bulanan,” rutukku lagi-lagi menyalahkan diri sendiri, “kalau kayak gini, sih, gue makin nggak ada muka lagi di depan dia!” “Loh, kok, kamu malah di sini?” Suara Pak Arka terdengar tepat di sampingku. Aku menengadah dan menemukan wajah setengah merona milik Pak Arka. Rasa bersalah seketika menyelubungi hatiku. Pasti itu orang malu anjir geger beli sesuatu yang tak lazim bagi seorang laki-laki. Dengan perasaan bersalah, aku berkata, “Maaf, Pak. Karena aku, Anda harus mengalami hal seperti ini,” ujarku tulus. “Diamlah dan sana kamu ganti!” Njir! Sudah bagus aku mau menurunkan harga diriku untuk meminta maaf padanya. Lah, si kulkas malah dengan seenak jidat nyelonong pergi begitu saja. Dasar kutu kupret! “Apa yang kamu lakukan di situ?” Aku mendongak dan menemukan pria itu sudah berjarak beberapa langkah di depanku. Aku melengos tanpa memedulikan panggilannya. “Aya!” panggilnya sekali lagi, “apa kamu akan diam dan tak berganti pakaian?” Aku menghentakkan kaki kesal, lalu mengintip kantong plastik yang tadi dibelikan oleh Pak Arka. Keningku mengernyit saat menemukan satu bungkus pembalut, beberapa makanan ringan, dan satu botol air mineral. “Ngapain itu orang beliin aku Snack?” tanyaku mencibir. Tiba-tiba, pria itu sudah berdiri di hadapan hingga membuatku mundur. “Saya gak tau kamu suka apa, jadi saya hanya asal ambil aja,” jelas Pak Arka tanpa melihatku. Aku hanya diam menatapnya tanpa memberikan tanggapan yang berarti. Sampai akhirnya kudengar embusan napas di depanku. Pak Arka berdeham dan dengan sangat terpaksa aku menatapnya. “Sepertinya aku ada pakaian yang bisa kamu pakai di mobil,” kata Pak Arka kikuk. Mataku mengerjap dengan kepala dimiringkan. Aku mengorek telinga seolah salah dengar. “Maaf, Bapak ngomong apa tadi?” tanyaku. “Lupakan!” “Bujubuneng! Ambekan banget itu laki satu,” dumelku dalam hati. “Yakh!” Tanpa sadar aku berteriak dan segera menarik lengan kemejanya. Ketika dia menoleh dengan tatapan dinginnya aku langsung menelan kasar, dan melepaskan cengkraman tanganku. Aku tersenyum kecil, lalu kembali bertanya, “Em, maksud saya … tadi, Bapak ngomong apa?” Kugenggam erat kantong kresek itu dengan perasaan was-was. Kali ini, benar-benar urat maluku sudah putus di depannya. Pak Arka menghela napas, lalu menunjuk ke arah mobilnya dengan dagu. “Saya ada baju di sana yang mungkin bisa kamu pakai untuk ganti.” “Bapak serius mau minjemin baju buat saya?” “Ya, kalau kamu gak mau–” “Iya-iya, saya mau, Pak!” Segera kutarik tangannya dan tersenyum lebar sambil mengusap lengan kekarnya. “Buru-buru amat, sih, Pak. Kan, saya belum ngomong,” imbuhku sambil mengusap lengan kekarnya. Njir! Ini laki rajin nge-gym apa gimana? Gila! Keras juga. Namun, pria itu segera menyinhkirkan tanganku dan melihat ke arah lain. “Kalau begitu biar saya ambilkan bajunya sebentar,” katanya. Aku mengangguk dan membiarkan Pak Arka berjalan ke mobilnya. Sementara diriku menunggu di depan toilet. Tidak berselang lama, dia menyodorkan paper bag berisi pakaiannya. “Masuklah! Saya tunggu di depan,” ujarnya tanpa melihatku. Aku mengintip sebentar isi paper bag tersebut sebelum akhirnya aku masuk ke dalam toilet, lalu mengganti pakaianku dengan milik Pak Arka. Ketika keluar dari toilet, aku celingukan mencari keberadaan Pak Arka. Ternyata pria itu sedang duduk di bawah pohon sambil membaca buku. “Eh, ini mata gue kenapa?” Aku mengucek kedua bola mataku, lalu menatapnya lagi. “Wah, gila! Bisa-bisanya gue ngeliat pria tua itu bersinar. Padahal, ini udah sore. Fix, sih, ini mata gue bermasalah!” Dalam penglihatanku sekarang, Pak Arka yang sedang duduk tengah dikelilingi oleh bunga, dan sinar terang yang membuatnya begitu tampan. Ditambah, kacamata bacanya yang bertengger manis di atas hidung membuat ketampanannya bertambah berkali-kali lipat. Refleks, aku memandang penampilanku sekarang, kaos kebesaran juga celana training–yang bukan style aku banget– begitu jomplang jika berdiri di sampingnya. Mataku berotasi malas. “Oh, My God. Kalau sampai Michi, Widi, dan Dian tahu penampilan gue sekarang, mereka pasti bakalan ngejek gue 7 hari 7 malam,” cibirku pada diri sendiri. “Tapi, Ya udahlah, ini juga lagi kepepet. Lagian mereka juga nggak lagi di sini.” Dengan masa bodoh aku berjalan menghampiri Pak Arka sambil menenteng paper bag juga kantong kresek di kanan dan kiriku. Sesampainya di depan pria itu, aku kemudian berdeham untuk membuat pria itu sadar akan kehadiranku. “Ekhem! Pak,” panggilku. Entah sengaja atau tidak, tetapi yang jelas dia terlihat ganteng ketika melepas kacamata bacanya. Sialnya, aku hampir kehilangan pijakan hanya karena hal tersebut. Ku gelengkan kepala agar segera sadar jika ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengagumi seseorang. “Balik, yuk, Pak! Udah sore, nih,” ajakku dengan suara bergetar. Pria itu lalu menutup buku setelah menyadari kehadiranku. Dia sempat melihat penampilanku dari atas hingga bawah, tetapi tak komentar apa pun. Dia berdiri dari duduknya, lalu mengangguk tanpa membalas ajakanku. “Njir! Itu mulut kayaknya ada lemnya kali sampai susah buat jawab,” gerutuku kesal. Mau heran, tapi dia Pak Arka. Jadi, ya sudahlah. Selama perjalanan, kami hanya saling diam, tidak ada percakapan apa pun, dan hanya suara musik yang diputar oleh Pak Arka di dalam mobil. Sementara aku lebih memilih melihat ke arah jendela daripada wajah tampan Pak Arka. “Kenapa tadi pagi kamu tidak menungguku?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN