Permintaan di Kantor Polisi

1132 Kata
Bab 15 Permintaan di Kantor Polisi “Karena jika aku gagal menikah dengan Benua, di luar sana aku tak yakin dia akan mendapatkan pengganti yang lebih baik dariku.” Safira menghembuskan napas dalam-dalam.  “Sementara jika kamu, aku sudah melihat keseharianmu, melihat segala kebaikanmu, mengikhlaskannya untukmu aku lebih lega ketimbang wanita lain di luaran sana yang tak bisa kupastikan apakah dia wanita baik-baik,” lanjut Safira dengan suara berat.  Dia ingin lebih kuat, tak menangis. Namun nyatanya dia tak bisa membendung air mata yang membanjiri pipinya. Dalam kondisi berurai air mata, Safira berdiri. “Aku akan pergi,” ucap Safira. “Mau pergi ke mana?” tanya ayah Safira. “Dalam kondisi seperti ini, tidak mungkin hamil tanpa seorang suami,” ucap Safira. “Ibu belum ngerti, apa rencana kamu, Nak?” “Aku ingin ke kantor polisi, minta kepada pihak kepolisian agar membebaskan Sagara.” “Terus setelah dia bebas, kamu rencananya apa?” tanya Ibu Safira. “Dia harus bertanggung jawab, mendampingi dan menikahiku,” ucap Safira. “Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu? Papa sama sekali tak bisa membayangkan, apakah hidup kamu dengan Sagara jika sudah menikah apakah akan jauh lebih baik?” Safira. Terdiam. Hatinya tak yakin. Kegalauan menerpa jiwanya. “Setidaknya, aku sudah mencoba melangkah. Aku hanya ingin, anakku punya sosok ayah,” ucap Safira sambil memegangi perutnya. Dia pun melangkah ke luar rumah. “Pa, ayo temani dia, jangan biarkan dia berangkat sendirian. Aku sangat mengkhawatirkannya,” Ibu Safira merajuk kepada suaminya. “Iya, Pa. Kasiha Kak Fira. Dia harus terus kita dampingi,” ujar Berliana. Suaminya pun segera mengejar Safira. Dia mengikuti Safira di belakangnya. Safira melangkah ke parkiran. Dan dalam sekejap, dia sudah menyalakan kendaraan. Saat kendaraan akan melaju, ayah Safira menahannya. Safira membuka kaca mobil dan melirik ke arah ayanya. “Pa, biarkan aku berangkat, jangan menahanku,” kata Safira. Ayah Safira mendekat dan berbicara pelan. “Biar Papa yang nyetir. Papa mau antar kamu.” Safira pun akhirnya membuka pintu mobil, dia memberikan kesempatan kepada ayahnya. Dia menggeser posisi duduknya ke jok sebelah. Mobil pun mulai melaju. Dalam perjalanan, ayah Safira mengajak Safira ngobrol “Nak, kamu sudah memikirkannya matang-matang?” “Iya, hanya itu Pa yang bisa aku lakukan. Bagaimana pun bayi di perutku ini butuh seorang ayah. Aku tidak ingin membuat dia menderita saat lahir tanpa pendampingan ayahnya,” ucap Safira terengah-engah.  “Dan satu-satunya cara, yang ayahnya sendiri yang harus bertanggung jawab. Tidak mungkin kesalahan yang sudah dia lakukan ini harus ditanggung oleh lelaki lain. Lagi pula siapa yang mau menikah dengan seorang perempuan korban p*******n?” lanjut perempuan berbadan dua itu. “Papa mengerti posisimu. Memang kamu nggak bisa sendirian. Keluarga pun ingin mendukung apa saja yang terbaik untukmu selama kamu merasa nyaman. Dan Papa harap pilihan ini bisa membuat kamu lebih baik dalam menjalani hidup.” “Ya, moga-moga aja Pa. Aku sekarang bukan hanya mikirin hidupku sendiri, tapi juga harus mikirin anak yang ada dalam kandunganku ini.” Ayah Safira mengangguk. Namun dia tiba-tiba terpikirkan sesuatu. “Hmmm… Kalau misal kita mencabut tuntutan itu, apakah Sagara bisa bebas sepenuhnya?” tanya ayah Safira.  “Aku nggak tahu, kita liat saja nanti, bagaimana keputusan dari pihak kepolisian.” “Kalau dia ternyata bebas, ayah sebenarnya malah sedih. Dia enak-enakan bisa terbebas dari hukuman, dan justru malah posisinya semua menguntungkan dia, malah jadi suami kamu setelah dia menodaimu.” “Aku juga sempat berpikir seperti itu. Cuma dalam kondisi saat ini, rasanya tidak tepat harus memikirkan siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan. Aku hanya memikirkan nasib anakku ini. Tidak mungkin aku mengharapkan kasih sayang untuk anak ini dari lelaki lain karena yang paling tepat adalah dari ayah kandungnya sendiri.” “Lalu bagaimana dengan kamu, apakah kamu nanti bisa hidup bahagia?” tanya ayah Safira sambil menatap putrinya dengan tatapan yang dalam. “Untuk saat ini, aku akan mencobanya. Semoga aku bisa berdamai dengan musibah yang menimpaku ini.” “Aamiin. Papa doakan semoga kamu bisa melewati badai ini. Yang pasti kamu harus yakin, bahwa Papa, Mama, Berliana, dan seluruh keluarga akan selalu berada di sampingmu. Selalu bersamamu,” ucap ayah Safira dengan suara yang berat. “Iya, makasih banyak Pak. Aku sangat bahagia, Papa dan keluarga selalu mendukungku. Aku bahagia karena merasa nggak sendiri.” “Kalau misal kamu nanti jadi menikah dengan Sagara, kamu mau tinggal di mana?” “Ya gimana nanti aja Pa, gimana kesepakatan dengan Sagara.” “Nggak tahu kenapa, Papa merasa nggak tenang seandainya nanti kamu pergi dari rumah. Kalau bisa, Papa mohon kamu tinggal di rumah saja sampai melahirkan,” kata ayahnya. “Ya, nanti soal itu bisa dibicarakan lebih lanjut di rumah sama Mama dan Berliana juga..” Akhirnya Safira dan ayahnya tiba di gerbang kantor polisi. Usai ayah Safira memarkir kendaraan, ia dan putrinya segera ke bagian administrasi. Keduanya, menuliskan nama di buku tamu dan dan tidak lupa menuliskan keperluannya Safira dan ayahnya duduk sejenak di salah satu ruangan polisi itu.  Tak lama kemudian, seorang petugas polisi menghampiri mereka. “Apa yang bisa saya bantu untuk Mbak Safira dan Bapak?” “Saya… saya...” Safira tiba-tiba gurup. Mulutnya terasa kelu dan susah untuk menjelaskan. Mengetahui kesulitan yang dihadapi putrinya, ayah Safira segera mengambil alih posisi. “Kami datang kemari bermaksud mencabut tuntutan untuk Sagara… Apakah dia bisa dibebaskan?” “Alasan Bapak mencabut tuntutan?” tanya polisi itu penuh selidik. “Aku ingin meminta di bertanggung jawab. Karena perbuatannya itu sekarang saya…. Saya hamil,” ucap Safira kepada polisi itu. Polisi itu tampak kaget mengetahui keadaan Safira. “Bagaimana Pak, apakah dia bisa bebas?” Polisi itu tampak berpikir keras. “Apakah laporan Anda sebelumnya keliru. Anda melakukannya atas dasar suka sama suka?” tanya polisi itu dengan hati-hati. “Sama sekali tidak, Pak. Aku hanya ingin dia bertanggung jawab. Setelah aku ternoda begini, siapa lelaki yang bersedia menikahiku? Dan anak yang aku kandung sekarang butuh figur ayah saat dia lahir.” Polisi itu mengangguk-angguk, berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Safira. “Tidak bisa. Bukankah bukti sudah jelas dia telah melecehkan Anda? Dia tetap harus menerima hukuman yang layak,” jelas polisi itu. “Kumohon, Pak. Mengertikah dengan kondisi saya. Saya malu saat nanti perut saya sudah makin membesar, ketika banyak orang yang bertanya mana suaminya, apa yang akan saya bilang?” “Tapi bagaimanapun dia tetap harus menjalani hukumannya?” “Pak, saya mohon bantulah saya,” kata Safira sambil memelas. “Ya, Pak.. bantulah dan mudahkan putri saya,” pinta ayah Safira. Polisi itu pun sepertinya merasa kasihan dan tak tega. Safira dan keluarga terpaksa harus mencabut tuntutannya. Sagara pun bisa terbebas. “Baiklah, semoga kamu tidak menyesali pencabutan ini. Dan semoga apa yang diputuskan pihak kepolisian bisa membantumu.” “Jadi Sagara bisa bebas? Safira memastikan. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN