Bab 16
Malam Jelang Akad
“Dia bisa keluar dari rutan ini, tapi status dia tidak berubah. Dia tetap berstatus sebagai tahanan kota. Dia tidak boleh bepergian keluar kota. Dan dia diwajibkan melapor secara berkala selama masa hukuman,” jelas polisi itu.
“Baik, terima kasih, Pak. Sekarang bisakah saya ketemu dengan Sagara?”
Polisi pun mengizinkan Safira dan ayahnya untuk menemui Sagara di ruang besuk.
Sampai di ruang besuk, Safira dan ayahnya berdiri menunggu kemunculan Sagara.
Beberapa menit kemudian, Sagara muncul didampingi seorang sipir.
Sagara duduk perlahan.
“Apa yang mau Bapak sampaikan kepada saya?” tanya Sagara melirik ayah Safira.
Ayah Safira tak merespon. Dia masih menimbang-nimbang kata apa saja yang harus dia ucapkan.
“Biar Safira sendiri yang bicara padamu,” ucap ayah Safira sambil memalingkan pandangannya ke arah lain. Dia membalikkan badan sebagaimana yang Safira lakukan lebih dahulu.
Sagara juga melirik Safira, namun sayangnya Safira masih membelakanginya. Baik Safira maupun ayahnya, keduanya masih berdiri dan belum ada tanda-tanda untuk memilih duduk berhadapan dengan Sagara.
Safira sama sekali enggan memandangi wajah Sagara. Ada perasaan jijik. Entahlah, rasa itu muncul tiba-tiba begitu saja. Makanya dari tadi dia berdiri membelakangi laki-laki yang telah menghamilinya itu.
Ada apa ini? Aku tak boleh seperti ini! Aku sudah memutuskan untuk hidup bersamanya. Aku harus melawan perasaanku ini, setidaknya demi bayi dalam kandunganku, pikir Safira.
“Dengar baik-baik,” ucap Safira seraya membalikkan tubuhnya dan mendekat ke arah Sagara. “Karena perbuatanmu, saat ini aku hamil.”
Sagara terkesiap.
Astagfirullah, ucap Sagara dalam hati. Dia tak membayangkan akibat kesalahan yang telah dilakukannya sampai sejauh itu.
Dengan pelan-pelan, Sagara menatapi perut Safira yang tertutup oleh baju gamis. Kepala Safira ditutupi kerudung yang terhulur hingga ke bagian d**a. Bagaimana pun, sudah terlihat perutnya agak buncit. Dan pastinya ke depannya akan terlihat lebih besar.
“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Safira.
“Aku harus bertanggung jawab,” kata Sagara.
“Baguslah, itu yang aku harapkan, jadi aku tidak perlu memintamu. Karena itu memang kewajibanmu. Kamu harus menebus semua kesalahanmu,” ucap Safira datar.
Tiba-tiba polisi datang.
“Hari ini kamu bisa pulang, dan kamu harus tetap rutin melapor dua kali dalam seminggu,” jelas polisi itu.
Sagara terkesima mendengar informasi itu. Dia tak akan menyangka bisa keluar dari sel secepat itu.
“Bukankah masa hukumanku di sel ini masih panjang, Pak?” tanya Sagara keheranan.
“Semua ini karena Mbak Safira. Dia mencabut tuntutan atas kamu,” kata polisi itu.
Sagara paham sekarang. Dia menatap Safira.
“Apakah kamu tidak menyesal telah mencabut tuntutan padaku?” tanya Sagara.
“Aku melakukannya karena terpaksa. Kamu harus paham, aku tidak tega jika anak ini nanti lahir tanpa ada sosok ayah di sisinya. Aku juga tak ingin anak ini dalam perkembangan berikutnya tahu kalau ayahnya mendiami sel karena kejahatannya,” jelas Safira.
Setelah menjeda kalimatnya dengan bernapas sejenak, Safira langsung memburu Sagara dengan pertanyaan.
“Kamu tentukan, kapan pernikahan akan dilangsungkan!”
Sagara gugup. Ucapan Safira barusan bukan sebuah pertanyaan melainkan permintaan, kalau bukan bukan disebut sebagai ‘tuntutan’ lain.
Sagara termenung.
“Kenapa kamu malah diam. Kamu nggak mau bertanggung jawab?” bentak Safira. “Kalau kamu tidak bertanggung jawab, aku tidak akan membiarkanmu lolos sejengkal pun dan akan kutuntut kamu mendiami sel ini seumur hidupmu.”
Sagara gemetar. Dia ternyata tidak tahan dengan amarah Safira. Entahlah, dia sendiri merasa bingung dengan dirinya sendiri. Kenapa dia tiba-tiba merasa lemah di hadapan seorang wanita.
Padahal di kampus dan dalam kehidupannya sehari-hari, selama ini dialah yang mendominasi kaum wanita. Tak ada satupun wanita yang tak bertekuk lutut di hadapannya. Semua wanita terpesona dengan kegagahan dan ketampanannya.
Bahkan jika dia mau, perempuan mana pun tentu akan merelakan diri sepenuhnya pada dirinya.Tapi lihatlah, sungguh hari ini di hadapan Safira, dia seperti kurcaci di hadapan raksasa.
“Aku tanya sekali lagi, kapan kamu dan keluarga akan datang ke rumah dan melaksanakan akad pernikahan?” tanya Safira tegas.
Di desak seperti itu, hati Sagara makin tak nyaman. Jantungnya memompa darah lebih cepat. Dadanya terasa panas.
“Besok… besok aku akan datang ke rumahmu,” kata Sagara dengan suara bergetar.
“Oke, aku tunggu kamu besok pagi, tepat pukul delapan. Aku harap kamu tepati janji dan sama sekali tidak telat atau mengulur-ulur waktu,” ucap Safira sambil melangkah meninggalkan ruang besuk itu.
“Kamu harus penuhi keinginan putriku. Kalau tidak, aku tidak akan pernah memberimu kesempatan lagi,” ucap Ayah Safira sambil menunjuk-nunjuk ke arah Sagara.
Lantas ayah Safira pun segera meninggalkan ruangan itu dan menyusul langkah putrinya.
***
“Kami sudah memutuskan, Lian insya Allah bersedia menjadi istri Nak Benua,” kata Ibu Safira saat menjawab panggilan dari Ibu Benua malam itu.
Mendengar hal itu Safira tertawa getir. Ibunya sudah menuruti keinginan yang memang dia minta. Ini sudah sesuai rencana Safira.
Berliana menunduk. Dia juga tak berani memandang bagaimana roman kakaknya saat ini.
“Baik, Bu tanggal pernikahan itu tidak berubah,” ucap ibu Benua. “Masih ada waktu buat Benua untuk kembali ke Paris dan menyelesaikan program masternya.”
“Iya, Bu. Lian pun sama di sini. Dia di sini masih berkesempatan untuk menyelesaikan studinya.”
Jarak perkuliahan antara Safira dan Berliana memang terpaut tidak terlalu jauh jauh. Harusnya sebenarnya Safira yang bisa selesai lebih dulu. Sayangnya, lantaran musibah yang menimpanya, skripsinya yang tinggal beberapa langkah menuju sidang, malah berantakan dan molor dari rencananya.
Percakapan antara ibu Benua dan Ibu Safira pun berakhir. Kali ini Ibu Safira menyimak obrolan antara kedua putrinya.
“Lian, mudah-mudahkan studimu selesai. Dan ketika akad nanti kamu sudah menyandang predikat sarjana pendidikan. Jadi, dengan bekal ilmu kamu nanti bisa mendidik anakmu dan anak Benua dengan baik...”
Berliana tersenyum tipis. “Kak, ada bisa kubantu supaya kakak pun bisa selesai studi. Sebenarnya skripsi kakak kan sudah masuk tahap sidang bentar lagi. Kebalikannya malah aku sekarang baru mulai di bab latar belakang, dan itu pun belum kelar-kelar,” ucap Berliana.
“Untuk saat ini, aku belum memerlukan bantuan. Nanti aku akan bilang kalau memang butuh bantuan,” ucap Safira. “Aku juga ingin menuntaskan studiku, kalau bisa sebelum lahiran, sudah punya ijazah S1.”
“Insya Allah, kakak pasti bisa,” kata Berliana. “Dengan senang hati aku akan bantu Kakak sebisaku. Pokoknya Kakak bilang aja kalo butuh apa-apa. Jangan sungkan ya, Kak,” kata Berliana sambil merangkul Safira.
Melihat pemandangan itu, ibu Safira terharu hingga meneteskan air mata.
“Semoga kalian tetap kompak, dan selalu saling menyayangi satu sama lain,” kata Ibu Safira sambil merangkul kedua putrinya.
“Oia, hampir lupa, barusan ibu sudah buatkan minuman jahe, pasti anget-anget enak lho, pagi-pagi begini bisa mengurangi rasa mua, Nak,” ucap ibu Safira.
“Ini, nanti keburu dingin,” ucap ayah Safira tiba-tiba dengan menyodorkan secangkir minuman jahe hangat ke hadapan Safira.
Safira sangat bahagia. Jarang-jarang dia mendapatkan perlakukan spesial seperti ini. Dia pun menerima cangkir itu, dan menyeruput isinya.
“Gimana rasanya?” tanya Ibu Safira.
Bersambung