Pesan Terakhir untuk Sagara

1153 Kata
Bab 18 Pesan Terakhir untuk Sagara “Mama dan papa dulu sering bilang sama kamu bahwa mama dan papamu menikah awalnya tidak didasari dengan rasa cinta. Kami dijodohkan, masing-masing dari kami dulu sudah punya pilihan. Namun karena kami mengikuti keinginan orang tua kami bersedia menikah,” jelas Ibu Benua. Entah untuk yang keberapa kali dia mendengar cerita itu dari ibunya. Sejak kecil dia memang mendengarkan ayah dan ibunya mengenai kisah rumah tangga keduanya. “Alhamdulillah sampai sekarang pernikahan kami langgeng dan bahagia bisa mendidik dan membesarkan kamu. Kami berusaha berdamai dengan realitas dan belajar untuk saling mencintai,” tambah ayah Benua. Entah yang ke berapa kalinya kalimat itu pun ia dengar dari ayahnya. Dulu sebelum merasakan posisi sulit seperti saat ini, dia senang-senang saja, berusaha menjadi pendengar yang baik dan tak pernah memotong ucapan ayah dan ibunya. “Ma, Pa… buat Mama dan Papa saat itu mungkin mudah. Perjodohan saat itu bukannya lumrah. Tapi untuk saat ini, mohon kalian bijaklah dalam memutuskan. Zaman dan situasinya beda. Mama dan Papa mungkin paham, sekarang bukan lagi zaman Siti Nurbaya,” ungkap Benua dengan nada yang cukup tinggi dan penuh penekanan, terutama di kalimat yang terakhir.  Ayah dan Ibu Benua terdiam. Keduanya saling menatap. Rasanya baru kali ini anaknya mengucapkan kalimat itu seperti itu. Keduanya melihat pribadi yang benar-benar lain dari sosok Benua yang mereka pahami selama ini.  “Apa salahnya jika kamu mencoba menuruti kemauan orang tua?” ucap ibunya, emosional. “Nak, tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya. Sikapilah semuanya dengan positif. Jika kamu berkenan kemauan kami, semoga kamu bisa mendapatkan kebaikan dan kemudahan dalam hidup,” ucap ayah Benua. Pada dasarnya, Benua adalah anak penurut. Selama ini, dia selalu menuruti kemauan kedua orang tuanya. Dia pun bisa menerima secara logis apa yang disampaikan oleh ayahnya barusan. Benua juga teringat ucapan guru ngaji, saat waktu kecil dia mengikuti pengajian sepulang sekolah atau malam hari usai magrib. Dia masih ingat betul, gurunya mengajarinya hafalan sebuah hadis, bahwa rida Allah bergantung pada rida orang tua. Murka Allah bergantung pada murka orang tua. Aku nggak mungkin terus-terusan menentang pendapat dan kehendak mereka, kata Benua.  Ya Allah, lembutkanlah hatiku, untuk bisa berdamai dengan situasi yang tidak mengenakkan ini. “Baiklah… Aku akan ikuti kemauan Mama dan Papa. Aku akan berusaha melupakan Safira meskipun tentu itu pasti berat,” ucap Benua. Dia sekuat mungkin menahan diri agar air matanya tak tumpah. Namun tetap saja, pada akhirnya air matanya mengalir membasahi pipinya. “Aku bersedia menikah dengan Berliana seperti yang Mama inginkan,” ucap Benua sambil menghapus air matanya yang terus bercucuran. Ibu Benua memeluknya. Begitupun ayahnya. “Terima kasih, Nak… Semoga kebaikan selalu melimpahimu,” ucap ibu Benua. “Kamu anak yang baik, anak yang saleh. Pernikahanmu insya Allah diberkahi,” kata ayah Benua. Benua kehabisan kata-kata. Dia pasrah. Tubuhnya yang lemah dia biarkan tersandar dalam pelukan ayah dan ibunya. *** Mobil yang dikendarai ayah Safira pun akhirnya sampai di depan rumah Ustaz Reza. “Maaf Bapak mau ketemu siapa dan ada perlu apa?” tanya seorang petugas keamanan di depan rumah Ustaz Reza. “Saya mau ada perlu dengan Ustaz Reza dan Sagara.” Lantas petugas sekuriti itu memberikan akses agar kendaraan itu bisa masuk gerbang dan parkir di halaman rumah. Saat ayah Safira turun, Ustaz Reza dan istrinya sudah menyambutnya dengan wajah yang berbinar-binar. Di dalam rumah, mereka baru saja berkumpul dengan Sagara untuk persiapan acara pernikahan besok hari. “Assalamualaikum,” ucap ayah Safira. “Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab ayah Sagara dengan tersenyum ramah. Ayah Sagara mencoba menawarkan diri untuk menjabat tangan calon besannya. Sayangnya, ayah Safira menolak bersalaman. “Maaf, kelihatannya ada hal yang sangat penting sampai Bapak datang malam-malam begini,” kata Ustaz Reza. “Memang ada. Saya ingin bicara empat mata dengan Pak Ustaz dan Ara.” “Baiklah, kalau begitu mari masuk. Kita bicara di dalam,” ucap Ustaz Reza sambil menyilakan ayah Safira masuk. Setelah di dalam, sesuai rencana, ayah Safira duduk bersama Ustaz Reza dan Sagara. Sementara istri Ustaz Reza memilih pergi dari ruang tamu dan diam di kamar ustaz menyiapkan suguhan teh manis hangat. “Saya kemari hanya ingin memastikan keseriusan Ara. Apakah kamu benar-benar bersedia bertanggung jawab dan menikahi Fira?” tanya ayah Safira dan menatap Sagara dengan tajam. “Iya, saya bersedia, Pak. Apapun akan saya lakukan untuk memperbaiki kesalahan saya,” jawab Sagara. “Baiklah. Ada satu hal ingin saya tekanan. Dan mohon kamu camkan baik-baik,” lanjut ayah Safira. “Setelah menikah, kita semua paham tanggung jawab saya terhadap Safira akan berpindah kepada kamu sebagai suaminya.” Sagara dan Ustaz Reza mengangguk. “Setelah kejadian yang tak diinginkan ini, masa depan Safira sudah hancur. Semua rencananya berantakan, dan yang paling penting luka dan trauma dalam jiwanya meskipun berpeluang sembuh, tetap saja akan membekas. Pasti itu mempengaruhi kejiwaannya,” jelas ayah Safira. Lalu dia menghela napas berat.  Ustaz Reza dan Sagara diam, tak bisa berkata-kata.  “Aku minta kamu setelah menikah untuk menjaganya baik-baik, membahagiakannya dan menyembuhkan luka-luka batinnya,” ucap Ayah Safira dengan serius. “Saya akan berusaha, Pak. Saya ingin membahagiakannya,” jawab Sagara singkat dengan wajah yang tetap menunduk memandangi karpet yang menjadi alas meja di ruang tamu itu. “Saya mohon, kamu bisa menjaganya baik-baik. Saya ngomong ini sedari awal, mumpung akad belum diucapkan. Kalau kamu sudah mengucapkan dan menjadi suaminya, dan kamu malah menyia-nyiakannya, berarti saya sudah melakukan sebuah kesalahan besar. Telah menyerahkan putriku kepada orang yang salah,” ucap ayah Safira. “Saya mengerti posisi Bapak. Kita sama-sama orang tua,” ucap Ustaz Reza. “Insya Allah saya tidak akan membiarkan Ara menyakiti Safira. Saya akan selalu mengawasi gerak-gerik Aara. Saya menjadi jaminan bila Sagara berbuat zalim lagi pada Nak Fira,” tegas Ustaz Reza. Lantas Ustaz Reza pun menatap tajam anaknya. Sagara paham, bila ayahnya kini menjadi taruhan, otomatis dia pun harus punya komitmen yang kuat dalam ikatan pernikahan ini. Sagara paham bila dia menyia-nyiakan kesempatan ini, tamat sudah riwayatnya. Selain dia sendiri yang hancur, nama baiknya ayahnya pun akan semakin hancur di mata publik. “Setelah menikah nanti, apakah kamu bisa menjaga, mencintai, dan menyayangi Safira sebagaimana kamu menyayangi dirimu sendiri?” tanya ayah Safira. “Insya Allah. Saya memang sudah mencintai Safira sejak lama,” ucap Sagara apa adanya. “Apa? Kamu mencintai putriku? Sejak kapan?” tanya ayah Safira. Benar-benar dibuat kaget. Demikian pula ayah Sagara. “Kamu mencintainya?” mencintai tapi kenapa malah m*****i dan tidak mencari dengan jalan yang halal? Ya Allah.. Ada apa ini… Ustaz Reza tak habis pikir dengan perbuatan anaknya. “Saya mencintai Fira. Hanya cinta ini bertepuk sebelah tangan. Safira sudah lebih dulu mencintai orang lain...” jelas Sagara. Ayah Sagara memegangi kepalanya yang pening. Mengapa bisa serumit ini? Ya Allah, angkatlah semua kerumitan yang menimpa putriku dan berikan jalan terbaik untuknya, ucap ayah Safira dalam hati. “Apakah Safira tahu kalau kamu mencintainya?” ayah Safira kembali bertanya sambil menatap Sagara. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN