Huru-Hara Saat Akad

1162 Kata
Bab 19 Huru-Hara Saat Akad “Dia tidak tahu. Saya mencintainya diam-diam...” ucap Sagara. “Mencintai diam-diam yang salah. Jauh berbeda dengan mencintai diam-diamnya Ali kepada Fatimah. Mencintai diam-diam kamu berujung petaka,” Ustaz Reza tampak murka. Dikata-katai seperti itu, Sagara diam. Dia tak mampu membela diri. “Kenapa kamu tak jujur kepadanya?” tanya ayah Safira. “Aku tak jujur karena sudah jelas dari awal Safira sangat mencintai Benua.” “Padahal kalau kamu jujur, mungkin akan lain ceritanya. Coba kalau kamu bilang sama Papa. Papa tidak akan sungkan membantumu dari dulu. Papa akan melamarkan Safira untukmu lebih cepat sebelum dia dilamar oleh Benua dan keluarganya,” jelas Ustaz Reza. “Iya, Maafkan aku, Pa...” “Berjanjilah kamu tidak akan menyakiti Fira!” pinta ayah Sagara. “Aku berjanji, Pak. Aku akan mencurahkan segenap hidupku untuk membahagiakan Fira,” kata Sagara dengan mantap. “Saya pegang ucapanmu,” ucap ayah Safira. Malam pun sudah larut. Tak berlama-lama, ayah Safira segera berpamitan. Dia melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh. Jalanan memang sudah lengang, kendaraan yang berseliweran di jalanan tampak jarang. Kurang dari satu jam, kendaraan ayah Safira sudah bisa memarkirkan kendaraannya di garasi. Saat ayah Safira masuk rumah, dia sudah ditunggu Safira dan ibunya sejak setengah jam setelah kepergiannya. “Papa dari mana, sih?” kata Safira cemas. “Iya, Papa bikin kita kuatir aja. Kenapa Papa keluar nggak bilang-bilang?” tak kalah dengan Safira, istrinya memberondong lelaki itu dengan pertanyaan. “Habis dari rumah Sagara,” ayah Safira mau tidak mau harus jujur. “Habis ngapain sih, Pa?” tanya Safira lagi. “Papa cuma habis mengingatkan Sagara agar tidak main-main dengan rencana pernikahan besok...” ujar ayah Safira singkat. “Pokoknya besok dia harus datang. Kalau dia ingkar, aku akan terus mengejarnya walaupun sampai ke ujung dunia,” tekad Safira. “Insya Allah, dia akan tepati janji. Ustaz Rezalah jaminannya. Kalau besok ada masalah, aku akan tuntut juga Ustaz Reza.” “Udah malem, ayo kalian lanjutkan istirahat,” instruksi ayah Safira. Kedua perempuan itu pun menurut. Ayah Safira menguap. Dia sudah merasakan kantuk yang sangat. Hari ini dia benar-benar kelelahan. *** "Saya terima nikah dan kawinnya Safira Octaviana binti Yahya…” “Tunggu...” sekonyong-konyong Benua hadir di aula serbaguna masjid tempat berlangsungnya akad pernikahan itu.. “Pernikahan ini tidak bisa dilangsungkan,” kata Benua. Safira menatap ke arah Benua. “Ben, tolong jangan halang-halangi acara ini,” pinta Safira. Dia berdiri dan melangkah ke arah Benua. “Aku mohon pengertianmu. Kondisiku saat ini sudah tidak layak untukmu. Mengertilah,‘ ucap Safira sambil menangis. “Sekarang yang pantas mendampingimu adalah Berliana,” lanjut Safira sambil menunjuk ke arah Berliana. “Aku tahu persis kepribadian Berliana. Dia sangat baik, dia sangat menjaga kesuciannya. Dan aku pastikan dia sangat layak menjadi pendamping hidupmu. Dialah yang terbaik untukmu,” kata Safira. “Tidak Queen. Kamu masih ingat janji kita. Kita akan hidup bersama,” tanya Benua. “Aku masih ingat, tapi maaf aku tidak bisa memenuhi janji itu. Aku sudah tak layak untuk kamu cintai,” ujar Safira. “Dan tolong, kamu jangan memanggil aku Queen lagi. Sekarang semuanya sudah berbeda. Statusmu sebentar lagi akan jadi adikku. Aku ingin kamu panggil namaku saja. Jangan panggil Queen lagi!” “Apakah kamu yakin benar-benar bisa melupakanku?” tanya Benua sambil menatap Safira lekat-lekat tanpa berkedip. Safira terdiam. Pertanyaan itu seakan menghujam jantungnya. Dari hatinya yang paling terdalam, perasaan cinta pada Benua, orang yang selama ini menghiasi hari-harinya tak pernah berkurang sedikit pun. “Biarlah waktu yang akan menjawabnya,” Safira mengalihkan pandangan ke arah lain. Dia sempat terhipnotis oleh tatapan Benua. “Ben tolong mengertilah dengan semua kondisiku. Aku tak bisa memaksa orang tuamu untuk menerimaku. Usahaku untuk mengikhlaskan kamu menikah dengan adikku bukannya mudah bagiku. Aku sudah menguatkan diri menghadapi kenyataan pahit ini. Aku ikhlaskan semuanya demi kebahagiaanmu. Aku juga akan benar-benar bahagia, jika kamu bisa hidup bahagia bersama adikku.” Ucapan itu meskipun pelan tetap terdengar oleh Berliana. Dia tak berani menatap Safira dan Benua yang ada di sampingnya. Tatapannya masih fokus ke depan, dan tak terasa air matanya pun bercucuran. Kalau saja aku bisa memilih, aku ingin pergi jauh, melarikan diri dari semua ini, pikir Berliana. Kenapa aku harus menggantikan posisi yang seharusnya kamu tempati, Kak Fira. Berliana menyusut air matanya yang semakin deras dengan tisu. “Queen...” ucap Benua. Mendengar lelaki itu masih memanggilnya begitu, Safira naik pitam. “Ben, aku sudah bilang. Kamu jangan panggil aku lagi dengan sebutan itu. Semuanya sudah jadi masa lalu. Dan tak perlu dikenang. Kalau bisa kamu buang saja semua kenangan manis tentang kita.” “Aku masih mencintaimu. Dan aku tetap mencintaimu tak peduli kondisimu seperti apa.” “Aku tahu. Tapi keluargamu tidak sepertimu. Lihatlah, aku sekarang hamil. Tolong, mulai sekarang kita saling membebaskan supaya masing-masing dari kita bisa hidup dengan tenang,” jelas Safira. “Aku bisa menjadi ayah dari anakmu,” kata Benua. “Omong kosong. Keluargamu tetap tidak akan bisa menerimanya. Dan kita tak bisa menentang keinginan mereka. Aku sangat menyarankan kamu tetap ikuti kehendak orang tuamu. Semoga itu yang terbaik untukmu.” Obrolan Safira dan Benua dirasa cukup lama. Akhirnya Sagara yang tadi diam dan masih duduk di hadapan penghulu, kini dia bangkat dan melangkah mendekati Benua dan Safira. “Aku harap obrolan kalian sudah selesai. Ayo, Fira. Akad akan dilangsungkan. Dan tolong, kamu jangan rusak suasana sakral ini!” Sagara menunjuk ke arah Benua. “Kamu yang sudah merusak masa depan kami. Dasar b******n!” Benua murka. Dia menampar Sagara. Sagara tidak terima. Dia pun ingin melakukan aksi balasan. Tangannya melayang untuk menampar pipi Benua. Sayangnya, tangannya langsung ditahan oleh Safira. “Sudah, memalukan. Tolong, jangan diteruskan!” Safira kesal. “Ben, tolong kamu masih ingin di sini, biarkan akad ini berlangsung, atau lebih baik kamu pulang dari sini,” ucap Safira memelas. Safira dan Sagara meninggalkan Benua yang masih mematung. "Saya terima nikah dan kawinnya Safira binti Yahya dengan saya, dengan mahar yang telah disebutkan secara tunai." Tak lama kemudian, para saksi pun menyatakan pernikahan itu telah sah. Posisi duduk Sagara dan Safira memang tidak berdampingan. Safira duduk agar jauh di jajaran para ibu, di bagian paling depan. Dia diapit oleh Ibu dan Berliana. Setelah akad itu berlangsung semua orang yang hadir di ruangan aula serba guna masjid itu mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan oleh penghulu. Safira dan Sagara juga dengan khidmat mengangkat kedua tangannya, dan lisannya terus menerus mengucapkan amin. Usai doa-doa dilantunkan, Safira dan Sagara mengucap wajahnya dengan kedua tangannya di akhir doanya. Tak lama kemudian, Sagara melirik ke arah Safira yang berjarak beberapa meter darinya. Menyadari dirinya ditatap oleh seseorang yang kini telah resmi menjadi suaminya, Safira menundukkan pandangannya. Aku akan belajar menjadi suami dan ayahmu. Berilah aku kesempatan terbaik untuk memperbaiki segala dosa dan salahku, ucap hati Sagara. Apa yang kamu pikirkan, kamu jangan harap bisa mengambil hatiku dengan mudah. Setelah kamu menodaiku, tidak lantas noda yang melekat di dalam jiwa akan hilang tak berbekas, kata hati Safira. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN