Bab 20
Malam Pertama
"Kamu tidur di bawah sana!" kata Safira ketus.
Wanita berbadan dua itu melempar selimut dan bantal ke arah Sagara. Bantal pun jatuh tepat di kepalanya. Wajah lelaki itu tertutup oleh selimut.
Sagara menyingkap selimut yang menutupi wajahnya. Dia pun mengambil bantal yang terjatuh ke lantai yang beralas karpet permadani.
"Bukannya kita sudah sah jadi suami istri?" kata Sagara. "Kenapa aku nggak boleh tidur seranjang dengan istriku sendiri?"
Mendengar kata 'istriku sendiri', Safira merasa sangat asing. Benar-benar dia merasa tak siap sekaligus tak menginginkannya.
Sagara celingak-celinguk mengitari kamar istrinya. Ini pertama kalinya dia berada di kamar ini.
"Jadi aku harus tidur di sini?" tanya Sagara sambil menunjuk lantai beralas karpet yang tengah dipijaknya. Letaknya tak jauh dari ranjang tempat tidur di kamarnya.
"Ya, malam ini dan seterusnya kamu tidur di situ saja," balas Safira tanpa menatap Sagara.
"Maksud kamu apa?" Sagara keheranan. "Jadi buat apa kamu minta aku untuk menikahimu?"
"Sudahlah, jangan banyak cingcong. Tidur saja sono. Kamu jangan banyak protes. Masih mending kamu dapat bantal dan selimut. Aku cape. Lagian udah malem. Aku mau tidur."
"Kamu nggak bisa begitu, Fira. Aku tahu aku punya kesalahan besar padamu. Aku akan mencoba memperbaiki semuanya. Dan perlu kamu tahu, bahwa aku mencintaimu. Aku mencintaimu dari sejak dahulu. Selamanya aku mencintaimu."
"Udah… nggak usah coba-coba menggombaliku. Rayuanmu tak mempan untukku. Nggak ada gunanya. Walaupun kamu bilang sampai mulutmu berbusa, aku nggak peduli."
Sagara merasa sangat kecewa dengan sikap Safira.
Kenapa kamu tetap berkeras hati padaku, Fira. Aku benar-benar ingin memperbaiki hubunganku denganmu. Aku nggak akan menyakitimu. Aku akan menjagamu, kata hati Sagara.
"Dengarkan baik-baik. Pernikahan ini terjadi hanya karena dosamu. Jangan kamu bayangkan pernikahan ini akan berjalan manis seperti pasangan lain yang normal. Di sini aku hanya memintamu sebagai ayah, agar ketika anakku lahir, dia bisa menjadi anak yang normal, punya ayah. Itu saja. Tolong kamu pahami itu," jelas Safira dengan tegas.
"Nggak bisa begitu, Fira. Dengar baik-baik. Aku sangat mencintaimu, juga mencintai bayi yang ada di perutmu. Dan aku berjanji akan membahagiakanmu sepenuhnya," ucap Sagara.
Dia mencoba mendekati Safira dan meraih tangannya. Sayangnya, Safira menghempaskan genggaman suaminya.
"Jangan mimpi. Buanglah khayalanmu jauh-jauh," Safira menjauhi Sagara.
Hati Sagara benar-benar hancur. Dia tak bisa menyalahkan sikap Safira seperti itu padanya. Dia benar-benar sadar, semua itu penyebabnya bermuara pada dirinya sendiri.
Aku tidak akan menyerah. Aku akan berjuang untuk mendapatkan cintamu. Aku akan membuatmu mencintaiku, tekad Sagara dalam hati.
"Fira, tolong dengarkan aku. Aku menikahimu atas dasar rasa cinta. Jika kamu menikah denganku karena terpaksa. Tidak masalah. Aku ikuti aturan mainmu. Tak masalah. Aku tidur di lantai. Selamat malam."
Safira tak membalas. Padahal sebenarnya Sagara berharap Safira berubah pikiran. Bagaimanapun, dia ingin menghabiskan malam pertama bersama istrinya dan menjalin keintiman bersamanya.
Namun harapan tinggal harapan. Kelihatannya Safira belum bersedia membuka hatinya untuk Sagara. Trauma dan kepedihan masih mendominasi jiwanya.
Ya Allah, hapuskanlah segala kepedihan, luka, dan trauma di jiwa istriku. Biarkanlah cintaku bisa mengobati semuanya. Ya Alloh, berkahilah pernikahan kami. Berikan aku kekuatan untuk bisa mempersembahkan cinta terbaikku untuk istriku, doa Sagara dalam hati, saat dia mulai duduk di lantai.
Sagara menatap Safira yang juga sudah duduk di tempat tidurnya tapi belum tertidur.
"Kamu belum ngantuk?" tanya Sagara.
"Nggak usah nanya-nanya dan sok perhatian gitu deh!" Safira keliatan makin galak.
"Astagfirullah, kamu kok galak banget ya?" Sagara tak habis pikir.
"Kamu keberatan? Makanya nggak usah banyak nanya."
"Ya usah nggak apa-apa. Walaupun kamu galak, cantikmu tetep nggak hilang. Kalau kamu merasa kamu puas dan bahagia dengan marahin aku, aku rela. Aku siap kamu marahi," kata Sagara sambil mengulum senyum.
Bagi Safira, senyuman itu bukannya manis seperti madu. Sebaliknya senyuman itu bak racun yang sama sekali tak ada obat penawarnya.
"Kamu ini makin gila ya," ujar Safira. Bisa-bisanya kamu senyum di hadapanku setelah kamu menyakitiku. Senyummu bagaikan racun yang makin menambah kepiluan dan luka di dalam jiwaku, ungkap hati Safira.
Sagara diam. Dia tak bisa berkata dan berbuat apa-apa. Dia mati kutu di hadapan wanita yang baru saja dinikahinya.
"Kamu pikir setelah menikah akan mudah hidup sekamar denganku hah," bentak Safira.
Safira segera mengendalikan diri, dia teringat kalau malam sudah hampir larut.
Mudah-mudahan keluargaku nggak ada yang mendengar obrolanku ini, harap Safira dalam hati.
"Asal kamu tahu, aku tak mudah menghadapi semua ini," lanjut Safira dengan berbisik. "Seandainya aku bisa memilih, daripada menanggung aib, harus hamil, aku ingin memilih mati."
Safira tergugu. Air mata berlinang dari sudut kedua matanya.
"Kalau tidak ingat dosa, aku ingin bunuh diri. Namun sayang, agama yang kuyakini melarang itu. Dan kalau aku bunuh diri, malah harus menanggung dosa besar. Makanya aku paksakan hidup bersama lelaki b******n sepertimu."
"Apa yang harus kulakukan untuk menebus semua kesalahanku?" tanya Sagara.
"Tidak ada. Semua sudah terlanjur terjadi. Dan mimpi manis yang sudah kuukir takkan bisa kembali."
"Apa yang bisa membuat kamu nyaman?"
"Mungkin aku akan puas jika kamu bisa merasakan apa yang aku derita saat ini. Kamu sudah tahu, aku sudah tak punya masa depan. Dan kamulah yang sudah merusaknya."
"Aku akan berusaha memperbaiki masa depanmu. Kita bisa sama-sama berjuang memperbaikinya. Kita sama-sama ciptakan keluarga kita yang bahagia."
"Stop! Jangan bicara omong kosong lagi!"
Pembicaraan yang sama sekali tak ada romantisnya itu akhirnya berakhir.
Meskipun Safira terus meracau dan mengeluarkan kata-kata beracun yang cukup merisaukan hatinya, Sagara mencoba tak terpengaruh. Dia bertekad akan cepat-cepat berusaha melupakannya dan tidak memasukkannya ke dalam hati. Dia akan mencoba seakan-akan dia tak pernah mendengarnya sama sekali.
Sagara melangkah dan mendekati Safira yang sudah berbaring di ranjang.
Mengetahui Sagara tak ada jarak lagi antara tubuh Sagara dan dirinya, Safira ketakutan.
Duuh, bagaimana ini. Nggak mungkin aku teriak minta tolong. Aku takut dia memaksa dan memperkosaku lagi. Tapi kalau aku teriak, siapa yang akan menolong. Status dia kini sudah resmi jadi suamiku, pikir Safira.
"Cukup, sudah malam. Kamu hanya perlu istirahat," ujar Sagara singkat.
Dia memegang kedua bahu Safira yang berusaha mau berontak.
"Ssstttt… Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu," Sagara mendekatkan telunjuknya ke arah mulut Safira. Refleks Safira pun diam saking kaget dan takutnya.
Sagara mengelus kepala Safira dan mengusap wajahnya.
Safira barulah terdiam setelah merasa yakin Sagara tak akan berbuat yang tidak-tidak terhadapnya.
"Tidurlah dengan tenang," bisik Sagara dengan tenang ke arah telinga Safira.
Sagara bangkit. Dia mematikan lampu kamar. Tak ada lagi obrolan. Safira tidur di ranjang. Dia bolak-balik badan berulang kali sambil memegangi perutnya yang terasa sakit untuk mencari posisi yang lebih nyaman.
Sedangkan Sagara kembali berbaring di lantai. Sagara tidur menghadap ke arah Safira sambil memandangi sosok istrinya dalam suasana remang. Sementara yang dipandang, mengambil posisi tidur yang berlawanan dengan Sagara, dia membelakangi suaminya.
Kuatkanlah hatimu, Safira. Perjalananmu masih panjang, ucap Safira dalam hati, mencoba untuk memotivasi dirinya.
Lantas dia berkata dalam hati, wait and see, apakah kamu cukup tangguh dalam situasi yang pahit ini?
Bersambung