Fira, Kamu Kenapa?

1198 Kata
Bab 21 Fira, Kamu Kenapa? Sebelum azan Subuh berkumandang, Sagara sudah bangung terlebih dahulu.  Pagi itu dia sengaja mandi dan keramas supaya tidak menimbulkan kecurigaan di keluarga Safira. Dia menyalakan lampu kamar dan mematut diri di depan cermin untuk mengenakan sarung, baju koko dan peci putih rajut khas Turki. Tak lama kemudian azan Subuh berkumandang. Sagara berniat ke masjid. Meskipun dia belum tahu lokasi masjid dari rumah Safira, dia akan mencoba berjalan mengikuti arah salah suara azan yang terdengar paling dekat dari rumah keluarga istrinya. Sebelum keluar kamar, dia menatap Safira yang masih tertidur pulas. “Fira… sudah azan Subuh,” ujar Sagara agak canggung sambil duduk di tepi ranjang samping istrinya. Safira menggeliat. Saat membuka matanya, dia benar-benar kaget.  “Nga… ngapain kamu?” tanya Safira, suaranya bergetar karena gugup sekaligus cemas. Entah kenapa, masih ada rasa ketakutan saat jarak Sagaranya dengan dirinya sangat dekat. “Mungkin sebaiknya kamu Salat Subuh dulu, kalo masih ngerasa cape, nanti habis Subuh dilanjut lagi tidurnya,” kata Sagara sambil menatap Safira. “Aku pergi ke masjid dulu. Jangan lupa, biar keluargamu nggak curiga, pastikan rambutmu basah pagi ini,” kata Sagara. “Kamu apa-apaan sih? Aku dan kamu kan nggak ngapa-ngapain semalam,” Safira menolak saran Sagara. “Kamu pahamlah, bukan itu maksudku. Rasanya mungkin aneh bila rambutmu nggak basah. Nanti bisa-bisa apa yang sebenarnya terjadi di antara kita terbongkar juga sama keluargamu sendiri,” kata Sagara. Safira berpikir, mungkin apa yang dibilang dia ada benarnya. Nggak ada salahnya aku mandi pagi ini, biar keluarga ngerasa pernikahan ini berjalan normal. “Aku pergi, assalamualaikum,” ucap Sagara sambil berlalu. Safira masih abai. Tapi dia pernah mendengar penjelasan, kalau hukum menjawab salam itu wajib. Berarti kalau tidak dijawab dirinya akan menanggung dosa. Mengingat penjelasan itu, Safira segera berucap pelan, “Waalaikumussalam warahmatullah...” Saat membuka pintu rumah, rupanya ayah Safira juga mau berangkat ke masjid. “Ayo jalan bareng!” ayah Safira, Pak Yahya mengajak Sagara. “Siap, Pa… Jauh nggak masjidnya, Pa?” tanya Sagara mencoba mengakrabkan diri. “Deket, jalan kaki paling lima menitan,” kata Pak Yahya. Awalnya Sagara mengikuti Pak Yahya di belakang. Dia merasa sungkan jika harus jalan berbarengan. Namun langkah Pak Yahya yang pelan, seakan memberikan kode kepada Sagara untuk menyamakan langkah. Akhirnya langkah Pak Yahya dan Sagara sejajar. “Gimana, tidurmu nyenyak?” Pak Yahya  berbasa-basi. Dia kehilangan ide, topik apa yang mau dibicarakan dengan menantunya. “Alhamdulillah, Pa,” Sagara malu-malu. “Fira sudah bangun?” tanya Pak Yahya. “Sudah, tadi sebelum saya keluar kamar, dia lagi siap-siap ke kamar mandi.” Pak Yahya menepuk pundak Sagara. Mendapatkan perlakuan seperti itu, Sagara kaget. Dia masih merasa canggung dengan ayah mertuanya. “Bapak titip jagain Safira ya. Tolong temani dia agar bisa melupakan traumanya,” ucap Pak Yahya dengan suara berat. “Insya Allah, Pa,” jawab Sagara. Aku pastikan Safira tidak akan merasa menyesal telah menikah denganku. Malam ini, boleh saja dia menolak tidur seranjang denganku, tapi di malam-malam lain, aku yakin lama-lama dia akan bisa menerima kehadiranku, pikir Sagara. “Apakah sikap Safira baik-baik saja padamu?” tanya Pak Yahya.  Pertanyaan ini benar-benar menyentak Sagara. Jangan-jangan mertuaku ini bisa menebak pikiran dan isi hatiku. Tapi mana mungkin bisa. Ah, mungkin ini hanya sebuah kebetulan, pikirnya.  “Insya Allah, Fira baik, Pa. Dia sangat baik,” Sagara menjawab seperti itu. Dia terpaksa berbohong. Kalau dia jujur, pasti akan ada masalah baru. Dia harus menutupi sikap Safira terhadapnya, bukankah menutupi kekurangan pasangan itu wajib? Sagara berpikir demikian.  Mudah-mudahan kebohongan yang dia lakukan ini tidak melahirkan kebohongan baru, Justru aku berharap, kebohongan ini menambah pahala dari menutupi kekurangan pasangan, harap Sagara. Sagara dan Pak Yahya akhirnya tiba di masjid. Muazin masih belum mengumandangkan iqamah. Keduanya pun masih sempat menunaikan salat sunah sebanyak dua rakaat. Mereka berdua bergabung dengan jamaah masjid lainnya membentuk satu shaf di masjid jami itu untuk menunaikan salat Subuh. *** Kembali dari masjid, Pak Yahya dan Sagara kembali berjalan bersama. Sedikit demi sedikit, rasa canggung Sagara sudah berkurang. “Pa, nanti boleh kan jika saya bawa Safira untuk pindah rumah?” tanya Sagara. “Rencanamu nanti tinggal di rumah Ustaz Reza?” Pak Yahya malah balik bertanya. “Sebenarnya saya sudah ada rumah sendiri. Saya ingin belajar rumah tangga secara mandiri,” jawab Sagara. Pak Yahya teringat putrinya. Rasanya dia merasa masih berat jika harus ditinggal pergi Safira. Dia ingin menyaksikan putrinya melahirkan di rumahnnya sendiri. “Begini, Nak. Papa merasa bersyukur jika kamu sudah memikirkan masa depan pernikahan kalian. Senang mendengarnya jika kamu punya rumah sendiri. Berarti kan kamu sudah ada persiapan untuk membangun rumah tangga.” Kalimat Pak Yahya masih menggantung. Sagara belum berani melanjutkan perkataanya. Dia masih dia mendengar penjelasan ayah mertuanya. “Hanya saja, Bapak baru bisa mengizinkan kamu dan Safira pindah kamu dia sudah lahiran saja. Bapak kuatir, kalau kalau kalian pindah, tidak ada yang bantu jagain Fira.” “Oh begitu, baiklah. Makasih, Pa atas sarannya.” ucap Sagara. Sagara masih berpikir. Dalam hatinya masih merasa ada yang mengganjal. “Tapi kalau sesekali, kalau kebetulan Fira lagi pengen keluar boleh kan saya ajak dia silaturahim ke rumah Papa atau jalan-jalan, tour melihat rumah kami?” Sagara kembali bertanya. “Oooh, kalau itu lain lagi ceritanya. Ya bolehlah, masa Papa larang. Justru itu mungkin akan lebih baik, biar Fira nggak bosen diam terus di rumah. Sering-seringlah ajak dia jalan-jalan,” jelas Pak Yahya sambil terkekeh. Tak terasa, obrolan mereka yang sudah mulai cair membuat mereka jadi keasyikan. Keduanya pun sudah berada di depan rumah. “Ayo, masuk..” Pak Yahya menyuruh Sagara masuk lebih dulu dengan isyarat tangannya. “Silakan, Papa aja duluan,” Sagara balik mempersilakan ayah mertuanya. Akhirnya Pak Yahya masuk lebih dahulu. Lalu Sagara mengikutinya dari belakang. Begitu masuk, di ruang keluarga sudah ada istri Pak Yahya yang sedang membaca Al-Quran. “Shadaqallahul ‘adziim,” pungkas ibu Safira sambil menutup mushaf. Dia mencium mushaf itu dan menaruhnya di rak buku paling atas. “Nak, minta tolong bawakan minuman jahe hangat buat Fira ya,” pinta Ibu Safira kepada Sagara. “Baik, Ma. Di mana minumannya?” “Mama udah taruh di meja makan. Ambil aja dan bawa ke kamar ya. Sekalian aja bawa sama tekonya,” kata Ibu Safira tersenyum ramah kepada menantunya. “Ya, Ma… Makasih Ma. Oya, nanti ajarin saya gimana cara bikin minumannya. Saya pengen buat sendiri, biar nanti nggak usah repotin Mama lagi.” Alangkah senangnya ibu Safira mendengar hal itu. Kini orang yang memperhatikan Safira sudah bertambah. “Boleh banget. Besok deh Mama ajarin,” ucap Ibu Safira sambil tersenyum. Sagara pun menuju dapur. Dia membawa teko berisi minuman jahe dan cangkirnya. Saat memasuki kamar, dia menaruhnya di nakas dekat tempat tidur. Sagara tak menemukan sosok istrinya.  Ke mana dia? Mungkin dia di kamar mandi, pikir Sagara  Setelah hampir lama menunggu, Safira tak kunjung muncul. Lantas Sagara pun mengeceknya di kamar mandi. “Fira… Fira...” Sagara mengetuk pintu kamar mandi berulang kali. Sayangnya, tak kunjung ada jawaban. Saat mencoba membuka pintu kamar mandi, ternyata pintu kamar mandi itu tidak terkunci. Namun alangkah kagetnya, dia menemukan Safira yang masih mengenakan handuk, terkulai di lantai. “Fira, kamu kenapa?” tanya Sagara. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN