Setia Menjaga

1147 Kata
Bab 22 Setia Menjaga Tidak ada jawaban. Kelopak mata Safira masih mengatup. Tubuhnya sangat dingin. Perasaan Sagara benar-benar campur aduk. Firasatnya tak enak. Jantungnya terasa mau copot. Jangan-jangan dia sudah pingsan dari tadi lagi, pikir Sagara. Sagara segera mengangkat Safira. Dia membawa Safira ke atas kasur. Lantas, setelah menutup tubuh Safira dengan selimut, Sagara berlari keluar kamar. “Ma, Pa… tolongin Safira!” teriak Sagara. Orang tua Safira segera berlari dan masuk ke dalam kamar Safira. Langkah keduanya diikuti oleh Berliana dan Sagara. “Kamu kenapa, Nak?” Ibu Safira mengusap kepala Safira. Putrinya sampai saat ini belum siuman. “Kakak… ” Berliana ikut panik. “Gimana kejadiannya ini?” tanya Pak Yahya kepada Sagara. “Kemungkinan dia jatuh dan pingsan di kamar mandi, Pa. Tadi aku temukan dia tergeletak di kamar mandi,” jelas Sagara. Setelah ditunggu sekian lama, Safira belum juga sadarkan diri.  “Ma, Pa… kita bawa Safira ke rumah sakit aja ya,” ujar Sagara. “Baiklah, ayo segera berangkat,” kata ibu Safira. “Tunggu, aku bantu Kakak mengenakan pakaian dulu,” kata Lian. Sagara dan kedua orang tuanya baru menyadari, Safira kenyataannya masih mengenakan sehelai handuk. Di bantu oleh ibunya, Berliana pun melaksanakan tugasnya. Setelah tuntas, Sagara mengangkut Safira dan membawanya ke dalam kendaraan.  Ayah Safira membukakan pintu mobil agar Sagara mudah memasukkan Safira ke dalam mobil. Disusul kemudian, Ibu Safira masuk. “Lian, kamu di sini aja, tolong jaga rumah baik-baik ya,” kata Ibu Safira. “Oke, Ma. Kabari aku kalau Mama butuh bantuan ya,” ucap Berliana. “Iya, doakan kakakmu. Mudah-mudah dia bisa kembali sadar dan selamat.”  Ayah Safira melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Suasana terasa makin genting. Saat di perempatan, lampu merah menyala sangat lama. Jalanan pun terlihat sangat padat. “Gimana ini, apa mau diangkut pake ojek online aja?” tanya ayah Safira mulai panik. “Tidak! Tidak!… gimana caranya? Nggak aman Pa? Kuatir Fira malah jatuh,” tolak Ibu Safira.  “Habis ini, kok lama banget lampu merahnya!” kata ayah Safira. “Kita tunggu lampu hijau aja, Pa.. mudah-mudahan bentar lagi,” ucap Sagara mencoba membuat keadaan jadi lebih tenang. Benarlah. Tak lama setelah Sagara bilang seperti itu, lampu hijau menyala, dan kendaraan pun kembali melaju dengan pelan karena suasana jalan masih tampak padat merayap. Usai melewati jalanan yang padati selama kurang lebih 10 menit, akhirnya ayah Safira bisa lebih leluasa menaikkan kecepatan. Jalanan sudah kembali lancar.  Setengah jam kemudian, kendaraan itu tiba di depan sebuah rumah sakit. Di bantu petugas kesehatan di rumah sakit itu, Safira diangkut menggunakan stretcher ke ruang emergency rumah sakit. *** “Aku tahu saat ini kamu belum bisa jawab, tapi aku yakin kamu bisa mendengarkan ucapanku,” kata Sagara sambil menggenggam tangan istrinya. Sudah tiga hari Safira dirawat, belum ada tanda-tanda ia membaik.  “Sayang, jika kamu nanti sudah bangun. Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Aku ingin membawamu ke rumah impian kita. Insya Allah di rumah itu, kita akan membangun keluarga penuh cinta, keluarga bahagia. Aku ingin menebus kesalahanku padamu. Aku ingin hidup sakinah bersamamu,” ucap Sagara. Dia terus berbicara sendiri dan tetap yakin bahwa Safira bisa mendengar dan memahami semua yang telah dia ucapkan. Dari ruang emergency, Safira dipindahkan ke ruang ICU sejak dua hari yang lalu. Selama itu pula, Sagara menungguinya sambil terus mengajak Safira berdialog. “Maafkan aku, karena belum bisa menjagamu sepenuhnya. Aku berjanji, jika kamu nanti sudah sehat kembali, aku akan menjagamu sepanjang waktu,” Sagara tak kuasa menitikkan air mata. Air mata itu jatuh membasahi jemari Safira yang tengah di genggamnya. Suara pintu ruangan itu dibuka terdengar. Ayah dan ibu Safira masuk. Sagara secepat mungkin menghapus air matanya. Dia tak ingin, kedua orang tua Safira melihatnya bersedih. “Ara, sudah tiga hari ini kamu menungguinya. Biar gantian sama kami. Kamu butuh istirahat,” kata ayah Safira. “Iya, Nak. Kamu istirahatlah, biar Mama yang jagain Fira,” ucap Ibu Safira. “Tidak, aku akan terus menunggui dia sampai dia sadar. Akulah yang paling bertanggung jawab, Safira bisa seperti ini,” ujar Sagara. “Sudah… sudah… kamu jangan menyalahkan diri sendiri. Ini sudah takdir Allah,” kata Pak Yahya. Sagara teringat, waktu itu dia menyuruh istrinya mandi pagi. Seandainya, Safira hanya berwudu saja. Ah, tidak, walaupun sekedar berwudu, peluang dia jatuh di kamar mandi, tetap sama. Benar kata Papa, ini sudah ketentuan Allah, pikir Sagara. “Kamu sudah makan, Nak?” tanya Ibu Safira. Sagara menggeleng. Perutnya sebenarnya sudah terasa perih dari tadi. Namun dia tahan-tahan karena ketika hendak keluar mencari makan, dia tidak tega meninggalkan Safira seorang diri. “Kalau gitu, aku titip dulu Fira ya, Ma. Aku makan dulu,” kata Sagara sambil bangkit. Kemudian dia menduduki kursi di sebuah sudut ruangan itu untuk menikmati makanan. Sekalipun selera makannya berkurang, dia paksakan karena dia merasa harus kuat untuk bisa menjaga istrinya. Pada saat makan, Ustaz Reza dan istrinya masuk ke ruangan itu. Seperti hari-hari lainnya, orang tua Sagara pun selalu memantau perkembangan Safira. Orang tua Sagara bergabung dengan orang tua Safira. “Bagaimana kondisinya sekarang?” tanya Ustaz Reza. “Masih belum siuman,” jawab Pak Yahya. Usai makan, Sagara kembali duduk di samping Safira sambil memegangi jemari istrinya. “Ara, kamu mungkin pulang dulu, biar gantian sama kami,” kata Ustaz Reza. “Aku tetap di sini, Pa,” jawab Sagara. “Dari tadi kami juga sudah bilang begitu, dia tetap bersikeras,” kata ibu Safira. “Kalau aku pulang, aku tetap kepikiran. Lebih baik di sini saja,” jawab Sagara. “Ya sudah kalau gitu,” ucap Ibu Sagara. “Kami juga bawa makanan. Nanti bisa buat makan malam kamu.”  “Iya, makasih banget, Ma.” Ibu Sagara pun menyerahkan sebuah termos nasi berukuran sedang berbahan stainless kepada putranya. Sagara menerimanya. Dia sejenak melangkah untuk menaruh termos itu di tempat tadi dia makan. Lantas dia pun kembali duduk di samping istrinya. “Bangunlah, Sayang. Aku, dan seluruh keluarga sudah menantimu,” kata Sagara sambil menggenggam dan menciumi tangan istrinya. Tak terasa, air matanya tumpah lagi, jatuh di jemari istrinya. Jemari Safira bergerak perlahan. Sagara yang masih menggenggam tangan jelas dapat merasakan hal itu. “Alhamdulillah, Ma… Pa…dia bergerak Ma,” Sagara tampak girang. “Syukurlah, dia sebentar lagi sadar,” kata Pak Yahya. Ibu Safira mengusap kening putrinya. “Bukalah matamu, Nak. Kami sudah 3 hari menantikanmu kembali,” bisik Safira ke telinga Safira. “Insya Allah, kamu akan kembali sehat, Nak,” ujar ibu Sagara seraya mengusap-usap kaki Safira yang tertutup oleh selimut. Dalam kondisi mata yang masih terpejam, Safira bisa mendengar suara lembut ibunya. Perlahan, Safira membuka kedua kelopak matanya. Samar-samar dia melihat sosok di hadapannya, yang paling pertama kali jelas dilihatnya adalah Sagara. “Kamu… ” ucapan Safira terputus. Ekor matanya mengedar ke sekeliling. Dia juga bisa melihat ibu dan ayahnya yang tersenyum. “Ma… Pa… di mana aku?” Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN