Bab 23
I Love You So
“Alhamdulillah… akhirnya kamu kembali,” kata ayah Safira.
“Mama senang, kamu sudah bisa membuka mata,” ujar ibu Safira.
Ustaz Reza dan istrinya pun ikut lega.
“Alhamdulillah ya Allah, terima kasih sudah mengabulkan doa-doa kami,” ujar Ustaz Reza.
“Mama senang. Nak, akhirnya kamu siuman. Sudah tiga hari kami cemas menunggu kamu membuka mata,” ujar istri Ustaz Reza.
“Jadi… aku...”
“Sudahlah, kamu jangan banyak mikir dulu. Alhamdulillah, yang penting sekarang kamu sudah kembali,” Sagara meremas jemari istrinya.
Safira merasa asing dengan kondisi seperti itu. Namun dia juga tak kuasa menolak. Lagi pula pula, orang yang menggenggamnya saat ini adalah suaminya sendiri.
Entah kenapa, hari ini, Safira merasa sangat istimewa. Mendapatkan banyak perhatian, mulai dari kedua orang tuanya, kedua mertuanya, dan juga dari suaminya.
“Kapan aku bisa pulang?” tanya Safira.
“Ya ampun, Fira. Kamu kan baru siuman. Kok langsung nanya kapan bisa pulang...” kata Sagara.
Orang tua Safira dan orang tua Sagara tergelak tawa.
“Kayaknya Fira sudah kangen rumah nih?” kata ibunya.
“Iya, kayaknya. Ara, coba kamu tanyakan segera ke pihak rumah sakit. Kalau bisa pulang hari ini ya nggak apa-apa,” kata Ustaz Reza.
“Oke, Ma...” jawab Sagara dengan ceria.
“Masa pemulihan bagusnya emang di rumah ya kan?” istri Ustaz Reza meminta persetujuan.
Semua orang di ruangan itu mengangguk.
Sagara pun pelan-pelan melepaskan genggamannya dari tangan istrinya. “Sayang, tunggu ya… aku tanyakan dulu. Mudah-mudahan hari ini kamu bisa pulang. Aku segera kembali,” ucap Sagara dengan lembut sambil tersenyum manis.
Safira terdiam. Seperti di alam mimpi, Safira terfana dengan wajah suaminya. Dia memang tampan.
Sekalipun saat ini, Safira tak memandagi lagi wajah Sagara, di benaknya masih terbayang jelas wajah suaminya. Kulit wajahnya putih. Alis matanya tebal. Hidung mancung. Rahang persegi. matanya yang tajam tapi saat tersenyum terasa meneduhkan. Kumis dan janggut tak terawat menghiasi wajahnya makin menambah kesan maskulin.
Mungkin beberapa hari ini dia belum sempat mencukurnya karena menungguiku, pikir Safira.
Ada apa denganku? Kenapa melihat lelaki itu sekarang jadi sangat berbeda.
Apakah aku sudah… Safira menyetop pikirannya yang menurutnya terasa liar. Ah, tidak… tidak… perasaanku padanya biasa saja. Bukankah aku selama ini membencinya?
“Nak, nanti pulangnya ke rumah Mama aja,” pinta istri Ustaz Reza.
“Iya, semenjak akad, kita sebenarnya sudah menanti-nanti Ara bawa Nak Fira ke rumah, namun qadarullah malah lebih dulu ke rumah sakit ternyata hehe,” ujar Ustaz Reza.
Safira tampak berpikir. Menurutnya benar juga, setelah menikah, dia sama sekali belum ke rumah mertuanya.
“Gimana, Nak, mau ke rumah Mama?” tanya istri Ustaz Reza.
“Hmmm… sepertinya saya pengen istirahat dulu. Insya Allah nanti kalau sudah baikan, secepatnya saya silaturahmi ya, Ma.”
“Iya, Fira masih butuh istirahat. Insya Allah nanti kalau Fira sudah siap, saya ikut nganter juga sekalian silaturahmi ke rumah Ibu dan Bapak ya,” ujar ibu Safira.
***
Setelah beberapa hari di rumah, kondisi Safira sudah jauh lebih baik.
“Baik, Pak.. sampai ketemu ya. Terima kasih,” kata Safira mengakhiri obrolannya di telepon.
Pagi ini dia sudah memilih untuk menyibukkan diri dengan beraktivitas. Dia sudah menetapkan targetnya sendiri.
“Ngobrol sama siapa sih? Kok kayak serius amat...” tanya suaminya yang sedari tadi mengamati Safira.
Mereka berdua di dalam kamar. Sagara masih mengenakan kaos dalam dan celana jogger pendek selutut. Sedangkan Safira sudah rapi mengenakan gamis dan kerudung.
“Kamu ini kok kepo banget sih. Bukan urusanmu,” Safira masih galak.
“Eiit, kamu kan istriku sekarang. Wajarlah. Aku harus tahu mau ngapa-ngapain. Apalagi kamu baru saja pulih, aku harus pastikan kamu tetap aman,” jelas Safira.
“Aku masih bisa mengurus diriku sendiri. Dengar ya, kamu ini bukan asisten atau perawatku. Lagian, aku menikah dengan bukan untuk menjadi menjalan tugas dan posisi itu.”
“Tapi aku punya kewajiban menjagamu,” Sagara tak mau kalah.
“Menjaga juga bukan berarti posesif kayak gini,” bantah Safira. Hatinya kesal.
“Kamu udah rapi begitu, mau ke mana?” tanya Sagara.
“Iiih.. kamu ini posesif banget ya… terserah aku aja mau ke mana,” balas Safira.
Kenapa sih, dia jadi over banget. Terlalu perhatian aku juga nggak nyaman, pikir Safira.
“Fira, Sayang, Aku ini suamimu,” Sagara berbicara dengan dan mencoba tersenyum meraih tangan istrinya. Safira ingin menolak, tapi genggaman Sagara sangat kuat. Dia tak ingin melepas tangan istrinya.
“Mau apa? Jangan coba-coba!”
“Ya ampun kamu ini galak banget ya. Aku pegang kayak gini kan nggak dosa. Suami pegang, peluk, bahkan lebih dari itu jadi ibadah. Itu ibadah terindah,” jelas Sagara.
“Modus kamu. Denger ya, aku nggak bakalan tergoda. Asal kamu tahu, suami juga nggak bisa maksa istri gitu aja. Kamu harus tahu, bahwa istri juga harus rela dan nyaman dan mendapatkan perlakukan yang baik dari suaminya,” balas Safira.
“Memangnya kamu ingin aku memperlakukanmu seperti apa, Sayang? Aku juga ingin memperhatikanmu lebih,” Sagara mendekati Safira. Dia mendorong Safira ke dinding. Safira terdesak dan tak bisa melawan. Napasnya tersengal karena jantungnya berdetak tak beraturan.
Safira menengadah menatap wajah Sagara. Kedua tatapan itu beradu. Sagara tersenyum lembut sembari memegang bahu Safira.
“Sayang, i love you so. Aku ingin membahagiakanmu. Berilah aku kesempatan,” Sagara menatap Safira dengan lembut dan mengucapkan kata-kata itu dari hatinya yang paling dalam.
Sagara mendekatkan wajahnya ke wajah Safira. Jantung Safira berdetak makin tak beraturan. Sungguh dalam posisi seperti ini, sangat kecil kemungkinan mampu menghindari serangan atau rayuan yang dilancarkan suaminya.
Kedua wajah suami istri itu kini sudah tak berjarak. Ujung hidung mereka berdua pun bertaut. Kemudian Sagara mengecup kening Safira perlahan. Safira pun menerimanya tanpa ada sedikit pengelakan. Keduanya sangat menghayati kedekatan yang tak pernah mereka berdua rasakan sebelumnya.
Mungkinkah benih-benih cinta di antara keduanya sudah bersemi dan saling merespon dengan respon yang positif?
Ah, betapa nikmat dan indahnya jika hubungan yang terjalin berada dalam ikatan yang sah dan halal, pikir Sagara. Kenapa aku dulu melakukan hal yang sangat bodoh dan sangat menyakiti dan juga merusak kesuciannya?
Usai mencium kening istrinya, Sagara memeluk erat tubuh istrinya. Safira terdiam. Dia menerimanya dengan rela.
Lantas keduanya bertatapan cukup intens.
Sagara merasa belum puas. Dia ingin kembali mengulanginya. Dia mendekatkan wajahnya ke arah Safira. Jika sebelumnya, dia sudah mengecup keningnya istrinya dengan tulus dan penuh cinta, kali ini dia memandangi bibir Safira yang ranum.
Dipandangi seperti itu, Safira jadi salah tingkah. Entah kenapa dia menjadi tak nyaman. Bayangan menyakitkan, trauma dirinya bersama Sagara saat malam ternoda itu kembali menghantuinya. Namun Safira mencoba untuk tentang dan melenyapkan bayangan yang menghantuinya itu.
Sagara mendekatkan bibirnya ke arah bibir Safira. Namun akhirnya dia menyadari sesuatu pada diri Safira. Tubuh istrinya yang gemetar seakan ketakutan menjadi sinyal dan pertanda buruk.
Safira mengarahkan wajahnya ke arah lain samping, menghindari wajah Sagara dan napas hangat Sagara yang sudah sempat dia rasakan.
Safira tergugu. Dia pun membenamkan kepalanya dalam pelukan Sagara.
Sagara mencoba menenangkan Safira dengan mengusap kepala istrinya dan menciumi ubun-ubun istrinya yang berbalut kerudung.
“Kamu nggak apa-apa kan, Sayang?”
Bersambung