Bab 24
Sang Pelindung
“Jangan kuatir, Sayang. Jika kamu merasa belum siap. Aku tidak akan melakukannya. Aku ingin membuatmu tetap nyaman dan merasa tidak tersiksa dengan perlakuanku,” bisik Sagara ke telinga istrinya.
Safira membayangkan apa yang terjadi antara dirinya dan Sagara beberapa hari ini. Meskipun kebencian Safira pada Sagara belum hilang sepenuhnya, namun Safira merasa ada sesuatu yang beda.
Dia merasa sangat spesial. Sepulang dari rumah sakit, Sagara sangat perhatian. Dia selalu memperhatikan segala kebutuhannya.
Kamu tidak sepenuhnya jahat seperti yang selama ini aku pikirkan. Aku dapat menemukan dan merasakan sisi baik dari dirimu, ucap Safira dalam hati.
Safira menarik kedua tangan suaminya yang tengah menempel di bahunya. Safira memberanikan diri menggenggam tangan Sagara. Dia dapat merasakan kehangatan jemari suaminya.
“Aku menghargai segala usahamu. Aku hanya bilang, terima kasih kamu sudah memperhatikanku beberapa hari ini,” ucap Safira.
Safira pun melepas genggamannya pelan-pelan.
Sagara tersenyum. Hatinya lega dan terasa berbunga-bunga. Perubahan ini tentu selalu dia nantikan. Dan yang pasti, Sagara menginginkan lebih dari itu.
Sagara kembali memegang kedua bahu Safira.
“Makasih banyak, Sayang. Aku sangat senang mendengarnya. Bolehkah aku minta sesuatu?”
“Katakan, apa yang kamu mau?”
“Aku ingin mendapatkan tempat spesial di hatimu!”
Safira terdiam. Dia paham maksud Sagara. Tidakkah permintaan ini terlalu cepat dan sangat mendadak? Safira bertanya-tanya dalam hati. Sementara Safira sendiri tidak tahu, apakah Sagara layak mendapatkan tempat di hatinya.
“Kumohon berilah aku kesempatan, Sayang.”
Sagara merangkul mencoba memeluk istrinya. Perlahan dia merapatkan tubuhnya ke arah Safira. Dia abaikan perasaan khawatir istrinya akan menghindari pelukannya.
Sagara pun akhirnya memeluk istrinya. Safira sama sekali tak menolak. Justru dia malah salah tingkah. Dia masih bingung dengan tangannya apakah dia harus mengusap atau meletakkan kedua tangannya di bahu Sagara. Safira terbengong memandangi kedua telapak tangannya.
Perlahan dia meletakkan kedua tangannya di bahu Sagara.
“Apa pun akan aku lakukan asal kamu bahagia, Sayang,” bisik Sagara ke telinga Safira.
Safira belum siap sepenuhnya menyerahkan dirinya pada suaminya. Dengan gugup, dia segera melepaskan tubuhnya dari pelukan Sagara.
“Hmmm… sudah siang, takut telat, mau ke kampus, sudah janji dengan dosen,” jelas Safira sambil merapikan pakaiannya.
“Aku akan mengantarmu,” kata Sagara.
“Tidak perlu. Aku tidak butuh bodyguard.”
“Kamu nggak boleh sendiri. Kamu minta atau tidak, setuju atau tidak, kamu harus terima aku harus mendampingimu,” jelas Sagara.
“Aku….” belum sempat Safira bicara, Sagara menutup mulut dengan telunjuknya.
“Sstt… sudah jangan banyak membantah,” kata Sagara. Dia pun memikirkan suatu alasan yang tak bisa dibantah Safira. “Dengar, wanita itu kalau keluar rumah harus didampingi suami atau mahramnya. Dan saat ini aku yang paling layak menemanimu, karena aku adalah suamimu.”
Safira terdiam. Pinter ya… kamu jadikan dalil dan prinsip agama untuk kamu manfaatkan demi kepentinganmu sendiri, pikirnya. Safira memanyunkan mulut dan memandang kesal suaminya.
Sagara tak peduli. Dengan mesra, dia menggandeng tangan istrinya. “Ayo berangkat, Yang. Aku pastikan kamu aman.”
Begitu keluar kamar, keduanya yang bergandengan mendapatkan sorotan dari kedua orang tuanya dan Berliana.
Pak Yahya dan istrinya saling lirik dan sangat senang melihat Safira dan Sagara.
“Ehemmm… pada mau ke mana nih, so sweet banget sih,” goda Berliana.
“Apaan sih, Lian,” nada bicara Safira terkesan datar. “Aku mau ketemu sama dosen pembimbing.”
“Ketemu apa mau pacaran nih, jalan bareng?!” Goda Berliana lagi.
“Beneran, Lian. Kakak cuma mau anter kakakmu. Takut dia kenapa-napa, jadi aku harus selalu berada di sisinya, Benar kan?” ucap Sagara sambil merangkul Safira yang ada di sampingnya.
Safira hanya diam. Entah mengapa dalam hatinya, muncul sedikit rasa nyaman saat mendengar ucapan Sagara dan mendapatkan perlakukan spesial darinya.
“Ya udah hati-hati di jalan ya. Jagain Kak Fira ya,” ucap Berliana sambil tersenyum.
“Pasti, aku akan selalu jagain kakakmu,” ucap Sagara dengan mantap. Dia melepaskan rangkulannya dan kembali menggandeng Safira sampai masuk ke mobil.
***
Safira keluar dari mobil saat Sagara membukakan pintu untuknya.
Adegan ini mengingatkannya pada Benua. Dulu, lelaki itulah yang selalu memperlakukannya spesial seperti itu.
Sudahlah, aku harus melupakan Benua. Sebentar lagi dia akan menjadi adik iparku.. Saat ini lelaki yang mengantarmu adalah Sagara, pikir Safira.
“Tunggu, Sayang,” kata Sagara sambil meraih tangan Safira untuk digandengnya.
“Sudahlah, malu dilihat orang,” kata Safira sambil melepaskan tangan Sagara. “Lebih baik kamu tunggu di mobil aja atau ke tempat lain, ke kafe misalnya. Aku mau bimbingan. Biar cepat beres.”
Orang-orang di kampus hampir semua memperhatikannya. Semua civitas akademik di kampus ini sudah tahu kasus Safira dan Sagara.
Safira makin risih.
“Udah cepetan, orang ngelihatin kita,” Safira kesal. “Kan aku udah bilang, kamu tunggu aja di mobil.”
“Bodo amat, orang lihatin kita. Kita ini sudah jadi suami istri. Sudah halal,” kata Sagara Santai.
“Oia, hari ini bukannya kamu harus kerja, kamu kerja aja sana, nanti aku hubungi kamu lagi kalau aku udah kelar,” kata Safira mencari alasan agar Sagara tidak terus mengikutinya.
“Aku bisa monitoring pekerjaan karyawanku dengan telepon. Hari ini tidak ada agenda yang penting-penting banget. Agenda pentingku hari ini hanya menemani,” Sagara menggombali Safira.
“Kamu tuh ya, gombal mulu. Bosan aku dengarnya.”
Safira dan Sagara melangkah menuju gedung fakultas ekonomi dengan beriringan dan jaraknya pun sangat dekat. Orang-orang terus memperhatikannya. Dan yang paling penting banyak dari mereka yang memandang aneh perut Safira yang mulai buncit.
Bahkan saat berpapasan dengan beberapa orang mahasiswa, mereka terdengar menggunjing Safira.
“Oh my god, jadi dia hamil rupanya…. ”
“Ya ampun malang sekali nasibnya.”
“Kasihan banget sih dia. Lha terus gimana rencana pernikahannya sama Benua?”
Obrolan itu terdengar sangat jelas. Safira merasa sangat tidak nyaman. Sagara pun memahami hal itu.
Dengan sigap, Sagara mendekati kerumunan mahasiswi yang sedang bergosip ria.
“Hmmm… maaf, aku peringatkan kalian pertama sekaligus terakhir. Tolong jaga ucapan kalian...”
Para mahasiwi itu tampak malu-malu.
“Iya, maaf,” kata salah seorang dari mereka.
“Kami janji tidak akan mengulanginya,” kata yang lainnya.
“Dengar baik-baik. Aku dan dia sekarang sudah resmi menikah. Dan kalian nggak berhak untuk menghakimi. Apalagi menyakiti hati istriku,” kata Sagara.
Safira menghentikan langkahnya saat mendengar pembelaan Sagara. Setidaknya kalimat itu membuatnya sedikit lebih tenang. Sekarang dia, sadar, Sagara adalah pelindungnya.
Dari jarak beberapa meter, Safira menatap punggung Sagara yang sedang berhadapan dengan segerombolan mahasiswi tukang rumpi. Dia memandangnya penuh haru.
Sagara pun berbalik badan, dan kini dia tengah melangkah ke arah Safira. Waktu seakan melambat. Sagara terus melangkah dan Safira menunggunya.
Safira menitikkan air mata dan tak henti-hentinya menatap Sagara.
“Sudah… Sudah jangan menangis lagi ya, Sayang!” bisik Sagara seraya mengusap air mata istrinya.
“Aku punya satu pertanyaan. Apakah kamu benar-benar mencintaiku?” tanya Safira.
Bersambung