Bab 25
Orang Ketiga
Sagara tersenyum mendengar pertanyaan itu. Hatinya bertabur bunga-bunga.
“Ya, aku sangat mencintaimu. Aku ingin belajar mencintaimu karena Allah.”
“Tapi kenapa kamu dulu menyakitiku?” Safira bertanya kembali, dia teringat lagi masa-masa kelam itu.
“Dulu mungkin cintaku padamu salah. Cintaku padamu hanya karena nafsu dan menjadi dosa besar. Sekarang aku ingin menebusnya dengan cinta suci. Dan aku harap kamu bisa memberiku kesempatan membuktikannya.”
“Maukah kamu memaafkanku?”
”Aku tidak janji. Tapi… aku akan terus belajar memaafkanmu,” balas Safira.
“Sekarang aku yang balik bertanya. Maukah kamu menerima cintaku?”
“Aku tidak janji. Tapi… aku juga akan belajar untuk mencobanya.”
“Makasih banyak, Sayang. Kamu sudah berikan aku kesempatan. Aku akan terus berdoa agar Allah menggerakkan hati dan perasaanmu, agar aku bisa mendapatkan tempat spesial di hatimu. Sungguh, aku ingin mengarungi bahtera rumah tangga yang sakinah bersamamu.”
Tak terasa obrolan mereka menjadi sangat serius. Keduanya tak peduli pembicaraan mereka di dengar oleh orang-orang yang lalu lalang. Yang pasti kedua hati mereka kini menghangat, sehangat mentari pagi hari ini.
“Ayo jalan, Sayang. Nanti kamu telat lagi,” ajak Sagara sambil menarik lengan Safira.
Safira menurut. Keduanya terus melangkah hingga akhirnya tiba di depan fakultas.
“Sudah sampai. Kamu kayaknya nggak bisa masuk ke ruang dosen deh,” kata Safira.
“Nggak masalah. Aku tunggu kamu di sini.”
Sagara berpikir lagi. “Tunggu.. Tunggu… kamu ketemu sama dosennya di lantai berapa?” tanya Sagara sambil menatapi gedung fakultas berlantai lima itu.
“Lantai tiga. Emang kenapa?”
“Woow, berarti kamu harus naik lift ya. Aku anter lagi deh. Aku nggak tenang. Minimal sampai kamu masuk ke ruang dosen, dan nggak apa-apa aku mungkin nanti bisa menunggu kamu di bangku koridor ya.”
“Oke.. makasih banyak untuk semua yang sudah kamu berikan hari ini, Ara..”
Safira memanggil Ara dengan kata yang masih canggung.
“Panggil aku Sayang, Beb, atau apa gitu biar lebih romantis lah,” pinta Sagara sambil tersenyum.
Keduanya melangkah menuju lift.
“Memangnya kamu mau aku panggil apa?”
“Sayang boleh, Cinta juga boleh...”
Safira terkekeh.
Aku harus panggil dia apa ya? Manggil dia sayang, aku masih malu, lidahku jadi cadel, pikir Safira.
“Panggil Cayang aja ya...” Safira terkekeh lagi.
“Nah, gitu dong...” Sagara sangat senang. Dia melihat perkembangan banyak pada diri Safira.
Semoga ini pertanda baik, pikir Safara.
“By the way, kamu mau bimbingan tapi kok nggak bawa apa-apa sih?”
“Kan draft skripsiku udah di dosen pembimbingku. Dia dulu minta waktu untuk ditelaah lebih lanjut. Karena waktu itu dia sibuk banget, nggak bisa langsung kaji. Itu Udah lama banget. Makanya hari ini aku tinggal nerima revisiannya aja.”
“Oooh.. gitu baguslah. Aku siap bantu kamu nanti pas ngerjain revisinya ya?”
“Bantuan apa?”
“Ya, sekadar nemenin kamu kalo-kalo kamu harus lembur sampe malam.”
Mereka berdua keluar dari lift. Safira masuk ruang dosen. Sementara Sagara memilih duduk di bangku koridor kampus.
“Sayang, cepetan bimbingannya ya, jangan lama-lama!” pinta Sagara.
“Kenapa emang?”
“Aku nggak mau jauh-jauh sama kamu. Pengen lengket terus sama kamu… Love you..” ucap Sagara sambil melayangkan kiss bye.
“Tunggu ya, Sabar… ” kata Safira, “Waktu kita kan banyak. Malam juga nanti masih panjang,” goda Safira.
Sagara mencerna perkataan istrinya. Apakah ini pertanda Safira akan mengizinkannya tidak tidur di lantai lagi?
Apakah istrinya malam nanti membolehkannya tidur di ranjang bersamanya?
Ah, pikiran Sagara makin liar dan tidak terkendali. Sungguh dia tak sabar menantikan momen-momen indah dan romantis itu.
Safira pun masuk dan menutup pintu ruangan para dosen itu. Dia duduk di hadapan dosen dan mendengarkan baik-baik dan revisi untuk draft terakhir naskah skrpsinya.
“Ini revisi terakhir ya, habis ini kamu udah ok. Tinggal ikutin sidang aja,” kata dosen pembimbingnya.
“Beneran nih, Bu?” kata Safira sangat riang. “Wah, alhamdulillah, makasih banyak ya, Bu.”
“Iya, sama-sama,” balas dosennya itu sambil tersenyum.
Dosennya itu lantas melihat perut Safira yang membesar. “Gimana kondisi kehamilanmu?”
“Baik, Bu. Alhamdulillah.”
“Syukurlah. Moga-moga lancar ya persalinannya. Lahir dengan lancar dan selamat dua-duanya.”
“Aamiin. Makasih, Bu udah didoain.”
Sebenarnya bimbingan itu sudah selesai. Namun obrolan Safira dan dosen pembimbingnya lebih ke obrolan personal. Maklum mereka sudah lama tidak ketemu.
“Pesan ya, Fir. Kamu jalani masa kehamilan tanpa stres. Memang tak mudah, karena kehamilanmu tidak biasa. Tapi kalau ada kemauan, pasti semuanya bisa berjalan dengan baik.”
Safira mengangguk.
“Ngomong-ngomong, bagaimana Sagara, apakah dia benar-benar menjagamu?”
Safira tersenyum. “Untuk saat ini aku rasa dia sangat perhatian. Aku bisa bersahabat dengannya?”
“Hanya bersahabat aja?” dosen pembimbingnya itu penasaran. “Semoga bisa lebih dari itu. Dia bisa melindungimu seutuhnya.”
“Ya, saya juga masih berproses Bu, belajar untuk menerimanya,” ujar Safira.
“Alhamdulillah. Kamu memang luar bisa. Kamu wanita yang kuat. Ibu belum pernah membayangkan ini sebelumnya.”
“Kamu berangkat ke sini sendirian?”
“Enggak kok. Justru dia yang mengantarku. Dia nunggu di luar, di bangku koridor.”
“Wah, asyik nih. Sekarang kamu punya bodyguard,” bu dosen itu terkekeh. Sementara Safira menahan senyumnya.
Sementara itu, di bangku koridor Sagara sedari tadi membuka ponselnya. Dia mengecek pesan yang masuk. Untuk menghilangkan rasa bosannya saat menunggu, dia pun sesekali membuka media sosial.
Sedang fokus-fokusnya menatap monitor ponselnya. Tiba-tiba tangan seseorang merayap dan mengusp leher dan pundaknya.
“Kamu udah beres ya, Yang?” tanya Sagara tanpa memandangi sosok yang bergelayut di pundaknya. Dia yakin bahwa orang yang dia ajak bicara adalah Safira.
“Sayang, aku kanget banget sama kamu.” ucap suara itu manja.
Sagara terperanjat. Suara itu bukan suara istrinya.
Dia pun bangkit karena sosok yang menggerayangi pundak dan lehernya ada Granita, si gadis seksi yang selama ini selalu mengincarnya.
“Apa-apaan? Kamu ngapain di sini?” Sagara kaget. Dia pun teringat istrinya. Berkali-kali dia memandangi pintu ruangan dosen, namun Safira tak kunjung juga terlihat.
“Aku kan mahasiswa fakultas ini. Kamu ke mana aja? Aku terus nyariin kamu lho. Untungnya bisa ketemu di sini,” Granita mendekat sambil memegangi kerah baju Sagara dengan manja.
Ada beberapa mahasiswa yang lewat dan memandangi kedua.
Sungguh Sagara benar-benar risih.”Stop, tanganku kok kayak kagatelan banget sih. Berhenti megang-megangin aku?” Sagara mencoba melepaskan tangan Granita.
Sayangnya, gadis itu makin agresif. Dia malah memeluk Sagara dan bergelayut di pundaknya.
“Eh.. eh.. Aku peringatin kamu ya. Aku sekarang sudah punya istri.”
Granita malah memeluk erat Sagara.”Aku nggak peduli. Kamu menikah dengannya karena terpaksa kan. Kamu hanya mencintaiku kan?”
Sagara makin geram. “Jangan halu kamu!” Sagara menjitak kepala Granita.
“Auuww… Sakit tauu. Huuuhu..” Granita memegangi kepalanya sambil menangis manja. Lalu dia memeluk lagi Sagara.
“Denger ya, aku mencintai Safira sepenuh hatiku,”
Sagara mencoba mengambil jarak dan menjauhi Granita. Sayangnya Granita tak sedikit pun melepaskan Sagara.
“Lepaskan aku!”
“Nggak mau aku cinta kamu. Kamu hanya milikku!” teriak Granita.
Pintu ruang dosen terbuka dan Safira keluar dari sana. Dia sangat kaget menyaksikan pemandangan Sagara dan Granita
“Jadi kalian ini punya hubungan spesial?!”
Bersambung