“Ren, hutangmu sama om Prass mu sudah lunaskan?” tegur papaku saat menyusulku ke ruang kerjaku di rumah. “Kenapa pah?” tanyaku tepat dia duduk di kursi di depan meja kerjaku. “Papa hanya tanya, ayah mertuamu bilang, sudah lunas, papa hanya memastikan, kalo memang kurang pakai uang tabungan papa, papa masih uang deposito, minta Sella supaya bisa kamu cairkan” perintahnya. Aku menggeleng. “Sudah lunas sejak lama pah, rumah ini juga sudah lunas pada Nino. Papa tidak usah khawatir” jawabku. “Papa harus khawatir. Gimana pun hutang, setelah papa ikut tinggal denganmu, kamu yang biayai hidup papa. Papa tidak seperti ayah mertuamu yang masih bisa kerja membantumu. Papa gak mau kamu menumpuk hutang. Umur tidak ada yang tau Ren” katanya. Dan itu obrolan serius terakhir kami setelah aku pulang

