Apa aku harus menyerah secepat ini? *** Cessa sesekali tersenyum menanggapi celotehan teman-teman barunya. Satu perempuan bernama Adisti, cewek manis yang kini berada dalam rangkulan sahabat kesayangannya, Zian. Sisanya anak-anak cowok. Ia tidak menyangka kedatangannya akan disambut dengan begitu baik. Cessa tidak pernah menyesali kegagalannya. Ia justru bersyukur karena jika hal itu tidak terjadi, mungkin Cessa tidak akan pernah menyadari kesalahannya. "Gimana Ces, mau gak?" Cewek itu menoleh pada Zian dengan dahi mengernyit. "Apaan?" Zian berdecak. "Itu tawaran Adis yang kemarin, lo kayak nenek-nenek deh. Pelupa." Meringis, Cessa baru ingat kalau kakaknya Adisti yang memiliki sanggar tari sedang membutuhkan seorang pelatih. Temannya itu memang sangat menyukai tarian Cessa, terlebi

