"Jadi, cowok itu dia?" Cessa menatap Zian tak mengerti. "Cowok yang buat lo gak bahagia atas pertunangan itu," tambah Zian. Cessa hanya menghela nafas dalam, kemudian mengalihkan tatapan pada rumah di seberangnya. "Adis udah cerita sama gue," ujar Zian membuatnya berdecih. Harusnya Cessa tahu kalau mereka memang tidak bisa saling menyimpan rahasia satu sama lain. "Gue bisa liat ketulusan di matanya." Cessa tak ingin terpengaruh. Ia akhirnya mendorong bahu cowok itu. "Lo mau ngajak gue ngobrol sampe kapan? Gue harus cepet masuk, entar dia keburu pulang." "Cess, gue tau, banyak ketakutan yang lo rasain. Tapi, apa gak sebaiknya lo pikirin lagi? Cinta emang ada yang datang karena terbiasa, tapi itu gak selalu berlaku." Ucapan Zian terasa menohoknya. Cessa memang sudah memutuskan untuk b

