Sebuah peluru berdesing. Lidia tak segan menembakkan tembakannya ke Rudi. Ia tak peduli. Dalam pikirannya Rudi bisa disembuhkan kembali asalkan peluru yang ia lesatkan tak mengenai organ vital lelaki itu. “Seorang kapten biasanya juga seorang sniper yang handal. Kok kamu nggak. Sudah berapa peluru yang nggak sanggup kamu kembalikan, ha?” oceh Lidia lalu meniup mulut revolvernya. Rudi menggeram. Beberapa bagian tubuhnya sudah mengeluarkan darah. Lidia benar-benar tak main-main dengan perkataannya. Dia bisa menembak ke arah manapun. Bahkan hanya untuk menggores kulitnya sekali pun, ia bisa. Gigi Rudi bertaut. Ia mendesis. Rasa perih mulai menjarahi tubuhnya. Keringat pun sudah saling berjatuhan. Walaupun baju yang Rudi kenakan kini sudah mulai berubah warna gara-gara darah, lelaki itu bel

