"Heh, melamun aje lu, Bel. Napa? Mikirin si Rangga? Udeh, lupain aja dia." Melani yang baru saja melihat sahabatnya itu langsung menyenggol lengan Bella.
Gadis yang baru saja keluar dari terminal 2 itu terkejut. Topi pilot langsung ia lepas bersama dengan napas letihnya. Bella sempat menguap beberapakali setelah perjalanan di atas awan tadi.
"Capek aku, Mel." Bella tetap berjalan dengan malasnya. "Bikin kaget aja, lu."
Mereka dilewati oleh beberapa kru diantaranya ada pramugari dan pramugara serta pilot yang tadi terbang bersama Bella. Mereka berhenti di sebuah bangku dan duduk di sana. Sekadar mengistirahatkan tubuh sebelum ganti jadwal.
Bella menyandarkan punggungnya serta menatap ke depan. Lalu lalang orang lewat dengan berbagai urusannya, dua gadis itu hanya duduk berdua saja.
"Bel, minum dulu nih." Melani menyodorkan sebuah botol minuman yang sudah dibuka pada Bella.
Baru saja Bella hendak meraihnya, tiba-tiba seseorang lewat dengan cepat dan sengaja menabrak tangan Melani. Alhasil, minuman berwarna kekuningan itu tumpah membasahi seragam pilot Bella.
Seragam yang awalnya berwarna putih bersih, kini berubah keruh dan basah. Serta lengket di badan Bella. Bella pun langsung berdiri dan menatap ke arah wanita yang saat ini memasang wajah mengejek itu.
"Oops, sorry. Aku enggak sengaja, Bel."
Melani ikut berdiri. "Harusnya kalau jalan pake mata! Jalanan luas begini pake nyenggol segala. Sengaja, ya!" Begitu kesalnya dengan Vina, Melani hampir mendorong tubuh wanita itu.
Bella yang tak ingin keadaan semakin buruk pun lantas menarik lengan Melani untuk mundur ke belakang. "Udahlah, Mel. Percuma ngomong sama dia. Buang-buang waktu kita aja."
"Makasih, Bella. Gara-gara kamu, sekarang aku sudah menjadi istri seorang Rangga Putra." Vina tersenyum lebar.
Bella tampak menahan amarahnya. "Ambil saja laki-laki begitu. Untungnya, aku tidak jadi menikah dengan dia. Kalau saja pernikahan itu terjadi, aku akan lebih menyesal lagi. Jika dia berani berkhianat dengan satu wanita, maka bersiaplah, kau akan jadi yang kedua kalinya."
Kedua mata Vina hampir melompat dari tempatnya. Ia tak pernah menyangka Bella berani membalas perkataannya. Sejauh ia mengenal gadis itu sejak sekolah, Bella selalu mengalah. Namun, sekarang telah berbeda.
Bella dan Melani lantas meninggalkan Vina yang masih menahan kemarahannya dengan kedua tangan mengepal dan bibir mengatup rapat. Mereka pergi mengarah ke toilet.
"Mel, tunggu sini bentar. Aku mau ganti."
"Tapi, Bel. Lu bawa gantinya enggak? Hari ini kan, cuman 3 jam aja kita terbang. Biasanya lu enggak bawa." Melani membantu Bella membuka koper sedang yang sejak tadi Bella bawa itu.
Bella menatap ke dinding melepas satu persatu atribut yang melekat pada seragamnya. Belum sempat menjawab, Bella teringat sesuatu lalu menghentikan gerakan tangannya. Bella bergegas ikut melihat koper yang ternyata tertukar itu.
Kedua wajah mereka saling menatap. Koper Bella kosong tanpa isi. Satu pun barang milik Bella tak ada di sana. Termasuk ponsel dan dompet.
"Loh." Bella terbelalak. "Kenapa ini isinya?"
"Lah, mana gua tau. Lu kan yang dari tadi bawa ini koper. Masa enggak kerasa isinya kagak ada. Yang bener aje lu, Bel. Ah elah, teledor ini namanya. Dari dulu mah elu kagak berubah." Melani menggerutu.
"Duh, Mel. Gimana dong? Masa ketuker?" Bella bergegas memasang lagi kancing kemejanya yang sempat ia buka satu biji.
"Balik lagi sono. Yang mana tadi lu ambilnya? Kenapa bisa salah, sih." Melani menggeleng kepalanya. Gadis gendut itu heran pada tabiat Bella yang masih sama saja sejak dulu.
"Masa iya gue harus keluar lagi, nyariin koper. Sementara baju kotor begini." Bella semakin bingung. Gadis itu akhirnya keluar lagi dari toilet dan duduk di luar.
Sambil berpikir bagaimana ia bisa kembali tugas dengan penampilan begitu. Mereka berdua duduk sambil menatap ke depan.
"Enggak mungkin kan, elu pake baju gue. Pasti kedodoran, Bel."
"Iya jelas, Mel. Masa gua harus pulang dulu. Ambil baju terus ke sini lagi. Telat lah."
"Lagian lu mikirin apaan sih! Gue perhatiin dari tadi melamun terus. Mana muka ngantuk begitu. Semalam enggak tidur emang?"
"Gue masih sakit hati, Mel. Tepat di ulang tahun gue, Rangga malah begitu. Enggak mudah gue lupain begitu aja."
"Buset, masih lu pikirin si busuk itu? Eh, gue bilangin ye, laki-laki masih banyak di luaran sana. Kalo perlu sama Abang gue aja gimana? Dia cakep, kok." Melani tertawa sementara Bella hanya meringis sambil menggeleng kepala. Meratapi nasibnya yang malang.
***
Bella sendirian di dekat toilet sambil menunggu Melani mencarikan kopernya yang keliru dengan milik orang lain tadi. Sambil mengayun kakinya, Bella teringat kebersamaannya dengan Rangga dulu.
"Aku benci dengan dia. Tapi, aku susah untuk melupakannya. Apa aku sudah gila dibuatnya? Andai aku tak pernah bertemu dengannya, dan jika dia bukan jodohku, kenapa harus seperti ini jalannya, Tuhan."
Bella mengembus napas berat. Masih terbayang sosok yang pernah menyakitinya. Cinta memang benar-benar membutakan mata hatinya.
"Hai." Suara lembut yang tiba-tiba menampar dengan napas harum itu membuat Bella terlonjak.
"Mas Rangga!"
Rangga yang kebetulan ingin ke toilet pun berhenti dan sengaja menghampiri Bella. "Kenapa kamu ada di sini sendirian?"
Bella membuang muka ke samping dan tak sudi membalas tatapan pria itu saat ia teringat masa itu. Nampaknya, Rangga juga baru saja turun dari pesawat. Pria dewasa itu langsung duduk di sebelah Bella.
"Aku tau, kamu pasti masih marah denganku. Dan, sayangnya aku tak peduli akan hal itu." Rangga menyeringai. "Asal kamu tau, membuat kedua orang tuamu kesal itu adalah kebahagiaan bagiku."
"Kamu jahat, Mas!" Bella langsung mendorong tubuh Rangga sampai terjungkal ke samping. Rangga terjatuh ke lantai, tetapi ia masih saja tersenyum dan merasa puas dengan apa yang sudah dia katakan tadi.
"Asal kamu tau, Mas! Aku sudah punya calon suami penggantimu!" bohong Bella. Ia semua ia katakan demi menutupi kesedihannya.
Bella melangkah hendak meninggalkan Rangga yang baru saja berdiri, tetapi Rangga segera mencekal tangan Bella dan menariknya hingga membentur d**a bidang pria tampan itu.
Bella pun panik dibuatnya. Namun, Rangga tetap mendekap tubuh gadis itu. Sayangnya, tak ada orang yang melihat kejadian itu.
"Dengarkan aku, Sayang. Tidak akan ada yang bisa menikahimu. Tidak akan ada laki-laki yang akan mau denganmu. Aku akan pastikan itu."
Kedua mata Bella mendelik saat Rangga mulai memangkas jarak dan semakin ingin menciumnya. Namun, Rangga menghentikan aksinya itu saat mendengar derap langkah mendekat. Pria itu langsung melepaskan Bella dan cepat-cepat melewati dinding lalu pergi dari sana.
Bella terisak dengan lirih. Ada dua orang wanita yang masuk ke dalam toilet luar menatap Bella sambil berbisik. Mereka langsung memasuki toilet perempuan dan tak lama Melani datang dengan koper Bella yang sudah didapatkan.
"Bel, ini koper lu," ucap Melani sambil memerhatikan wajah Bella yang sudah basah dengan air mata. "Lu kenapa, Bel? Ada masalah apa lagi?"
"Rangga."
Bella menceritakan apa yang sudah terjadi padanya tadi. Setelah semua terungkap, Melani yang mendengarkan pun ikut emosi. Namun, ia juga kesal dengan Bella yang dianggapnya lembek.
"Lu harus bangkit, Bel. Bukannya mewek terus kayak gitu. Lagian Rangga begitu juga karena elu mudah dibohongi. Sekali cinta, malah kebabalasan. Saat elu enggak mau lupain dia, Rangga akan terus mengganggu hidupmu. Makanya move on dong."
"Tau ah. Gue kesel pokoknya. Sakit banget, Mel."
Setelah Bella ganti pakaian, ia segera keluar dari toilet luar bersama sahabatnya itu. Bella tak sempat makan siang, gadis itu langsung menuju ruang dalam pesawat dan bertemu dengan kru. Baru saja selangkah masuk ia melihat Rangga tengah berdiri di sebelah Vina.
Bella pun dengan wajah tak acuh langsung berjalan menuju ke ruangan pilot. Gadis itu duduk di bagian kokpit lalu memasang sabuk pengaman. Ia tak melihat jika di sebelahnya ternyata adalah Adam.
"Hai, kenapa cemberut?"
Bella hanya menggeleng kepalanya. Sambil terus sibuk dengan mengecek semua sistem sebelum berangkat.
"Wajah kamu sembab. Habis nangis?" tanya Adam lagi.
"Enggak." Bella menjawab dengan raut tak bersemangat. Meskipun demikian, Adam tahu kalau Bella sedang tidak baik-baik saja. Pasti sudah terjadi sesuatu dengannya.
Mereka terbang siang itu menembus langit Jogjakarta. Dalam diam, sekilas Adam memerhatikan gadis itu. Gadis yang ceria, kini berubah menjadi pendiam.
Bella berjalan dengan tatapan tak tentu arah. Ia menitipkan kopernya pada bagian informasi lalu pergi menyendiri. Ia ingin membuang perasaan itu di kota itu. Kebetulan, Jogjakarta adalah kota tempat Bella pertama kami bertemu dengan Rangga.
Beberapakali menghela napas, menatap pada lapangan landasan udara yang begitu panas, Bella menyentuh kaca pembatas.
Jemari lembut, polos tanpa cincin itu disentuh oleh seseorang. Senyum manis menghiasi bibir kemerahan.
"Ayo, ikut aku!" Adam dengan segera menarik tangan Bella dan mengajaknya pergi.
"Ke mana? Dua jam lagi kita balik ke Jakarta." Bella bingung, Adam terus saja melangkah dan membawanya entah ke mana.