Adam terus melangkah dengan gagahnya, dengan tangan menggenggam erat tangan Bella. Mereka berjalan menaiki anak tangga dan berakhir pada ujung tempat itu. Begitu sampai di tempat yang paling tinggi, Bella masih bingung. Apa maksud Adam membawanya ke sana. Di atas gedung beratapkan langit dunia.
"Ngapain kita ke sini, Bang?" Bella menatap sekeliling yang tampak luas itu. Mereka berada di atas gedung bandara.
"Aku suka di tempat seperti ini. Langit menjadi atap dan gedung ini menjadi pijakan. Sinar senja yang selalu kurindukan." Tangan kanan Adam terangkat dan Bella mengikuti arahnya. Adam menunjuk sinar matahari yang hampir tenggelam.
"Sunset." Kedua bola mata bening itu tampak berkaca-kaca. Bella terpukau dengan keindahan matahari sore itu.
"Apakah kamu mengingat sesuatu?" bisik Adam dengan lirik.
Seketika tubuh meremang dan bulu kuduk berdiri. Ucapan Adam bertahun-tahun lalu kembali terngiang. Saat-saat kelulusan mereka, pria itu mengajak Bella menyaksikan sunset di tengah padang rumput.
"Abang masih ingat?" Bella tersenyum miring.
"Tentu." Adam tersenyum. "Aku yang mengajakmu, masa iya aku lupa."
Beberapa saat mereka duduk di atas gedung itu dan menatap ke arah barat. Bella teringat masa kecilnya. Kedua tangan mereka mengikat kedua kaki, sama seperti saat itu.
"Tadi kamu kenapa? Sedih gitu kayaknya." Adam menoleh.
"Enggak. Cuman masalah pribadi aja," balas Bella tanpa menoleh. Sejuk angin sore itu membuat sedikit ruang dalam hati. Bella merasakannya sambil memejamkan mata beberapa detik.
"Sekarang, apa yang menjadi masalahmu, jadi masalahku juga." Ayo, cerita."
Bella menoleh cepat saat pria dewasa itu berucap. Gadis itu menggeleng kepala sambil berdecak. Tak begitu menghiraukan ucapan Adam yang tampak serius.
"Balik, yuk! Sudah waktunya kembali." Bella mengalihkan pembicaraan. Lalu, berdiri dengan segera.
Adam tak memaksa Bella untuk bercerita padanya. Pria berhidung bangir itu hanya ingin membuat Bella merasa nyaman saja. Adam pun segera mengekor di belakang gadis itu sambil terus menatap setiap langkah Bella.
Sore itu, bukan mereka yang mengendalikan pesawat. Tugas mereka sudah selesai dan hanya menjadi penumpang saja untuk kembali ke Jakarta. Bella duduk di bagian paling belakang sambil menatap ke jendela.
Ia mendengar suara Rangga memandu penumpang memakai dan melepas sabuk pengaman. Ada yang nyeri di dalam d**a. Namun, sebisa mungkin Bella menyembunyikan. Setiap kali terdengar suara atau terlihat wajah pria itu, hatinya seperti teriris-iris.
Tak lama Adam datang dan langsung duduk di sebelah Bella. "Udah siap pulang?"
Bella menoleh sekilas. "Ya." Seperti tak bersemangat lagi gadis itu.
Pesawat siap berangkat, mereka berdua tak banyak bicara. Pramugari datang dan menyapa dengan sopan lalu menghidangkan dua gelas kopi. "Sore, Kapten. Kopinya."
Adam mengangguk sambil berterima kasih. Begitu pula dengan Bella. Mereka segera menyesal perlahan minuman yang masih mengepul asap itu.
Ketika Rangga melangkah untuk kembali duduk di bagian belakang, ia melihat Bella dengan Adam bersebelahan. Tatapan Rangga tampak kesal saat Adam tak mengalihkan pandangannya dari Bella.
Rangga terus berjalan dan menarik kursi lipat tempatnya duduk seperti biasa. Lalu duduk dan memasang sabuk pengaman. Dalam hatinya ada yang membara. Lelaki berdasi hitam itu segera mencari cara untuk membuat Bella dan lelaki di sebelahnya tadi tidak lagi bahagia alias sengsara.
"Aku tidak akan membiarkan kalian tertawa di belakangku. Lihat saja Bella, karena kau telah dengan mudah melupakanku, maka aku tidak akan membiarkan itu berlangsung lama."
Saat lelaki berwajah muram itu tengah bergumam, Vina datang lalu duduk di sebelahnya. "Kamu kenapa, Mas?"
Rangga langsung memalingkan wajahnya. Ia menatap ke jendela agar Vina tidak terus bertanya. Namun, semakin lama Vina semakin ingin tahu. Rasa penasaran membuat wanita dengan sanggul rambut tinggi itu menyentuh paha Rangga lalu menggoyangkannya.
"Mas, kamu kenapa? Kenapa kutanya malah diam saja."
"Mas!"
"Ck." Vina berdecak sambil membenahi roknya yang ketat itu.
***
"Kamu kok mau sih sama dia? Emang dari awal enggak ada felling kalau dia tukang selingkuh?" celetuk Adam saat mereka masih duduk bersebelahan.
"Duh, kepi banget." Bella malas menjawab. Sejak tadi hanya diam saja.
"Beneran aku. Biasanya cewek itu kan, peka. Pasti ada firasat. Masa kamu enggak sama sekali? Kalau, sama aku gimana?" Adam menatap lekat wajah Bella sampai-sampai Bella yang sudah berpaling pun tetap diikuti.
"Biasa aja."
"Oh, biasa aja. Biasa aja kok deg-degan gitu kayaknya," sindir Adam sambil menahan tawanya.
"Siapa bilang? Aku biasa aja."
"Tapi, tangan kamu dingin banget dari tadi. Kalau aku sih, ya, deg-degan kalau posisi begini." Adam tertawa.
Bella terkejut. Gadis itu segera melihat tangannya yang tak terasa digenggam erat oleh Adam. Bella menatap Adam yang terus menyunggingkan senyuman. Ingin melepas tangannya, tetapi Adam tak mau.
"Abang, lepasin tanganku! Malu diliatin orang." Bella terus menarik tangannya. Akan tetapi, Adam tetap tak merubah posisi itu.
"Biarin aja orang liat. Biar dikira kita pasangan. Kamu untung, aku juga untung." Senyuman pria itu tak pernah padam. Pesonanya membuat gadis-gadis di sebelah mereka terus melirik.
Mereka saling berbisik ketika Adam menoleh dan membalas dengan anggukan. Berbeda dengan Bella yang masih saja kaku dan mendadak berkeringat dingin.
"Ya Allah, kenapa ini?" batin Bella berteriak. Jantungnya berdebar kencang. Berbeda dengan saat ia duduk bersebelahan dengan Rangga dahulu.
Rangga lebih sering mengalihkan perhatian dan sibuk sendiri. Pria itu lebih suka dengan ponselnya dan seperti tidak menghargai kehadiran Bella. Perhatian Bella hanya sebatas selingan baginya.
"Aku sibuk, Bel."
"Mas Rangga, makan dulu. Aku sudah bawakan ini untukmu. Masa kamu enggak mau padahal aku sudah buatin pagi-pagi."
"Kamu aja yang makan. Aku udah makan sama Vina tadi."
Bella terdiam. Ia kecewa tetapi tak punya rasa cemburu karena ia pikir Vina tak mungkin menikung, sebab mereka berteman sejak lama.
"Eh, ya udah. Nanti aku makan." Rangga langsung merebut kotak bekal itu dari tangan Bella. "Aku duluan, ya."
Bella masih terpaku. Ia bingung dengan sikap Rangga yang mudah berubah. Ketika ia mengikuti langkah Rangga dari belakang, ternyata kotak makan tadi dibuang oleh Rangga ke tempat sampah dalam bandara saat itu. Betapa sakitnya hati Bella.
Bella berlari sambil mengusap wajahnya. Lalu, kedua temannya datang untuk menenangkan. Sejak saat itu, Bella mulai menaruh curiga. Namun, belum ada kesempatan untuk membuktikan. Hingga akhirnya, semua terbongkar dengan jalan yang tak pernah disangka.
Pesawat landing dengan sempurna. Bella hendak melepas sabuk pengaman, tetapi tangannya masih dipegang erat oleh Adam. "Abang, lepasin."
"Oh, dengan senang hati," balas Adam sambil tersenyum.
Bella bingung dengan jawaban pria itu. Apalagi saat Adam sendiri yang melepas sabuk pengaman yang melihat pinggang Bella.
"Eh, Abang mau ngapain!" Kedua bola mata Bella melebar.
"Melepas sabuk pengaman lah, kamu kan yang minta sendiri."
Bella ternganga seraya memijat keningnya sendiri. "Bukan itu maksud aku."
"Lah, terus apa?"
"Lepasin tanganku. Bukan sabuknya."
Adam tertawa. Senyumnya memang memabukkan. Namun, Bella tak mau mengakuinya. Ia malu menatap Adam terlalu lama. Pria bertubuh atletis itu segera melepaskan genggaman tangannya.
Beberapa orang di sebelah kiri mereka pun tampak berbisik membicarakan Bella dan Adam. Sepasang pilot yang tampak romantis sejak pertama pesawat take off.
"Tuh, kan. Jadi malu. Mereka ngomongin kita."
Dengan santai, Adam menjawab, "Biarkan saja. Memang kenyataannya begitu. Kita memang pasangan serasi, bukan?"
Mereka sampai di Jakarta lagi. Bella berjalan sambil menarik kopernya. Beriringan dengan Adam yang selalu ada untuknya. Ada tatapan kesal di belakangan sana. Mereka melewati jembatan penghubung dari pesawat hingga ke bandara lagi.
"Kamu mau pulang apa mampir?" tanya Adam sambil menyentuh tangan Bella yang terlihat memegang gagang koper.
"Aku mau pulang, Bang. Capek. Aku duluan." Bella hendak berjalan lagi, tetapi Adam mencegah.
"Aku antar, ya."
"Enggak usah. Aku biasa sama sopir bandara."
Kali ini, Adam manggut-manggut saja. Pria gagah dengan postur tubuh timur tengah itu menunggu sampai Bella masuk ke dalam mobil. Bella membuka kaca lalu berkata, "Makasih, Abang. Aku duluan."
"Be careful, Honey." Adam melambai.
Bella hanya meringis saja melihat kenekatan Adam memanggilnya begitu di tempat umum. Begitu tak terlihat lagi, Adam langsung menuju ke dalam mobilnya sendiri.
Mobil yang membawa Bella membelah jalanan yang begitu licin. Hujan deras mengguyur wilayah itu dengan merata. Guntur menggelegar tanpa henti. Bella merasa sedikit ketakutan. Apalagi, teringat suatu malam saat ia tengah berkendara sepeda motor dengan Mamanya. Menerjang hujan deras demi membeli obat untuk Papanya.
Usianya yang beliau begitu kental melekat pada ingatan setiap peristiwa yang terjadi. Kedua orang tuanya baru saja pindah dan belum bekerja di rumah sakit lagi. Mengontrak di rumah yang tak begitu luas, terkadang hanya makan seadanya. Bersama Andra, sang kakak yang selalu melindungi.
"Pak, hati-hati jalannya. Enggak usah buru-buru," ucap Bella sambil menutup telinga.
"Baik, Mbak." Sopir bandara tersebut membalas dengan sopan.
Namun, tak berapa lama sebuah mobil melaju dengan kencang lalu meenyalip. Mobil tersebut menyenggol muncul mobil yang ditumpangi Bella. Sontak, sang sopir pun terkejut sampai membanting setir ke kiri. Mobil menabrak sebuah pohon dan terdengar suara klakson menggema.