Saat masuk ke dalam, rumah tampak sepi. Bella pikir, kedua orang tuanya belum pulang dari rumah sakit. Gadis itu bergegas menutup pintu dan membalik badan.
"Sudah pulang, Non?"
Tubuh Bella tersentak. Gadis itu hampir saja terjatuh saat melihat pembantu rumahnya datang dan bertanya tiba-tiba. Bella memegangi dadanya sambil mengatur napas.
"Ya Allah, Mbok. Kaget aku." Bella menghela napas panjang sedangkan wanita tua itu hanya meringis saja.
"Non Bella kenapa basah semua? Habis hujan-hujanan?" tanya wanita tua itu dengan polosnya. Wajah keriput tampak menatap anak sang majikan dari atas sampai bawah.
"Kehujanan, Mbok. Papa sama Mama belum pulang?" Bella ganti bertanya. Gadis itu melepas sepatu dan bergegas menuju lantai atas.
"Belum, Non. Eh, tapi tadi sudah pulang sebentar terus berangkat lagi. Katanya ada operasi."
Ucapan wanita tua itu sudah tak terdengar lagi ke telinga Bella. Gadis itu pergi ke kamarnya dan segera membersihkan badan di kamar mandi. Guyuran air hangat membasahi sekujur tubuh. Air yang mengalir dari shower itu membuatnya lebih tenang.
Begitu selesai, Bella segera menarik handuk dan berganti pakaian. Malam itu, sunyi menemani Bella merebahkan diri di atas tempat tidur. Kedua orang tuanya sibuk kerja dan mengabdi pada rumah sakit. Bella lebih sering bersama Mbok Tari yang sudah berpuluh tahun lamanya bekerja di rumah itu.
Bella menoleh tatkala ponsel bergetar. Ponsel yang terbalut kain kering karena sempat basah itu menyala. Tampak sebuah pesan masuk secara beruntun dari kedua sahabatnya. Mereka tampak khawatir ketika Bella membaca pesan group. Setelah membalas pesan mereka, Bella kembali merebahkan diri di atas ranjangnya. Ia menutup malam dengan sakit hati yang luar biasa.
Gadis itu terpejam matanya, tetapi air mata terus mengalir. Kejadian setiap kejadian, kembali berputar dalam memori ingatannya. Hingga terbawa mimpi. Gadis itu terbangun lagi. Meremas kepalanya sendiri yang berdenyut nyeri.
Sejak saat itu, Bella lebih banyak berdiam diri dan menghindari berkumpul dengan teman-temannya. Ia lebih sering menyendiri menikmati senja selepas kerja. Ia sengaja duduk di luar garbarata sambil menatap lapangan luas yang menampakkan silih berganti pesawat landing dan take off.
Angin sejuk menerpa wajah Bella, ia rindu canda tawa dengan Rangga. Namun, lelaki itu juga yang telah menghancurkan segalanya. Semangat dan harapan untuk tetap berdiri, kini menjadi rapuh dan mengganjal di hati.
Di ujung sana, pesawat yang baru saja mendarat terlihat penumpangnya turun silih berganti. Ada Rangga juga yang tampak membawa koper sedangnya. Di belakang sana, ada Vina yang meminta Rangga untuk menunggu.
Dalam hati terasa perih sekali. Air mata merembes keluar tanpa aba-aba. Kasak-kusuk mulai terdengar membicarakan dua sejoli itu. Bella menunduk, berusaha melepas lelaki yang sempat mendiami relung hatinya.
"Mbak, bukannya itu calon suaminyaas Rangga, ya?" tanya seorang marshaller, lelaki yang biasa mengarahkan pilot untuk parkir pesawat.
Bella tak menjawab. Ia kesal dengan pertanyaan semacam itu. Gadis itu berdiri dan langsung pergi. Bella berjalan mengarah ke lobi keluar, tetapi seseorang berjalan mendahuluinya dengan sengaja menyenggol lengan Bella.
Sontak, Bella pun membulatkan kedua matanya karena kelakuan Vina yang dianggap keterlaluan. Tak lama, ada Rangga yang lewat tanpa menoleh. Dari punggung itu, Bella membatin. Dahulu punggung itu yang menjadi sandarannya, tetapi kini sudah ada wanita lain yang menggantikan.
"Mas, kamu lama banget jalannya." Vina memprotes. Ada lirikan tajam dari ekor mata wanita itu ke arah Bella.
Bella berhenti di depan tangga menurun. Ia menunggu sopir bandara yang biasa mengantar jemput. Ia risih saat Vina dengan sengaja membuat dirinya cemburu lagi dengan memperlihatkan perhatian manis pada Rangga.
"Sayang, apa kita jadi ke apartemenku lagi?" tanya Vina dengan nada mendayu.
"Tentu. Kita akan bersenang-senang di sana," balas Rangga dengan sengaja.
Bella pun semakin ingin membungkam mulut mereka berdua dengan sepatunya. Jikapun bisa, sudah ia lakukan sejak tadi. Mobil taksi menghampiri Rangga dan Vina, lalu keduanya masuk dan menghilang dari pandangan mata. Tak terasa, air mata pun tumpah begitu saja. Ingin sekali ia berteriak dan memukul wajah Rangga.
"Bel, lu ngapain di sini? Gua kira udah pulang." Mira datang lalu menyentuh pundak sahabatnya itu.
Bella langsung membalik badan dan memeluk gadis bertubuh gendut di sampingnya. Dari belakang sana, tampak berlari Melani menghampiri kedua temannya.
"Eh, ada apaan nih? Bella kenapa?" tanya Melani, panik.
"Udah, entar aja ceritanya. Mending, lu ikut kita deh, Bel. Kita ada acara di hotel Kartika. Siapa tau, lu di sana bisa lebih baik lagi karena ketemu temen-temen yang lain," lanjut Mira.
"Iya. Bener, Bel."
Mereka bertiga berjalan menuju mobil Mira yang terparkir tak jauh dari sana. Belum sempat kedua temannya bertanya, Bella mendahului dengan berkata, "Kalian tau engga? Rangga sama Vina udah makin terbuka. Mereka sudah enggak menyembunyikan hubungan mereka lagi."
Kedua sahabat Bella menghela napas panjang. Mereka saling melempar tatapan karena duduk bersisihan.
"Bel, mulai sekarang lu mending lupain deh si Rangga busuk itu. Buang dia jauh-jauh ke laut. Lu masih belum terlambat, Bel. Lu masih punya kesempatan mencari yang lebih baik lagi." Melani membalas. Ia sedikit kesal juga dengan Bella yang menurutnya terlalu lemah.
"Husst!" Mira memberi kode pada Melani agar memaklumi Bella. Beralih pada Bella, Mira mengalihkan pembicaraan. "Bel, lu tau kan, sekarang acara alumni kita, nanti di sana pasti mood lu jadi lebih baik."
Setibanya di hotel, Mira memarkir mobilnya mengikuti petugas parkir. Lalu, ketiga gadis itu turun bersamaan setelah Bella mengusap wajahnya dengan tisu berkali-kali.
"Gais, udah siap, kan?" tanya Mira setelah mereka menjejakkan kaki di lobi.
"Siap kan, Bel!" Melani menyenggol lengan Bella yang masih terbawa suasana.
"Iya, gue siap." Bella membalas.
Mereka bertiga berjalan memasuki lift dan menekan nomor lantai. Setelah pintu terbuka, tiga gadis itu berjalan melewati kamar-kamar. Bella yang sengaja berjalan lebih pelan dari kedua temannya itu, tak sengaja melihat sebuah pintu kamar yang tertutup tak begitu rapat.
Dari sana, ia mendengar suara tawa. Suara yang sepertinya tak asing di telinganya. Saat gadis berlesung pipi itu menghentikan langkah, ia semakin ingin mendengarkan suara siapa di dalam sana.
"Vin, kamu memang pandai sekali memuaskanku."
Bella langsung ternganga sambil menutup mulutnya. Tak tahan dengan ucapan pria di dalam sana, Bella pun langsung membuka pintu itu lebar-lebar. Kedua mata Bella berkaca-kaca melihat dua anak manusia yang tak punya malu itu tengah berduaan di kamar dengan penampilan telanjang d**a.
"Kalian ...."
"Kalian ngapain!"
"Dasar m***m kamu, Rangga!" teriak Bella.
Kedua mata hazel milik Bella hampir saja terlepas dari tempatnya saat mendapati Rangga berduaan dengan Vina di sebuah kamar hotel. Rangga dan Vina tampak gelagapan. Tak bisa menjawab setiap pertanyaan yang dilayangkan pada mereka.