ADAM

1069 Kata
"Bella ... ngapain kamu di sini?" Dengan santainya, Rangga bertanya. Ia berdiri hanya mengenakan celana panjangnya saja. Berbeda dengan perempuan yang ada di belakang pria itu. Vina menutup dirinya dengan selimut tebal. "Harusnya aku yang tanya, Mas! Ternyata kelakuan kamu begini?" Bella menggeleng kepalanya. "Kamu tau resikonya?" "Bella, lebih baik kamu enggak usah mengurus urusan kami." Vina menyela ucapan Bella. "Asal kamu tau, mau kamu laporkan atau bagaimanapun itu tidak akan membuat kami rugi." Satu sudut bibir Vina terangkat. "Karena kami sudah menikah siri." Bella semakin tersentak. Dadanya sakit mendengar ucapan Vina. Berulangkali, ia mendapat kejutan dari dua orang di depannya itu. Sekilas, Rangga menoleh pada Vina. Mereka berdua kompak melempar tatapan ejekan pada Bella. Dari tempat Bella berpijak, gadis itu mencengkeram tangannya sendiri. Lalu, Bella keluar dengan berlari. Buliran air mata terjatuh bersama langkah yang semakin jauh. Gadis itu menumpahkan semua sesak di hatinya sambil terus berlari. Ketika Bella hendak masuk ke dalam lift, kakinya tak sengaja tersandung bagian pintu. Gadis itu langsung terjatuh dalam pelukan seseorang yang ada di hadapannya. Begitu mendongak, Bella ternganga karena senyuman dari seorang lelaki. Sesaat, dunia seakan berhenti berputar karena kehadiran lelaki itu lagi. "Udah belum?" tanya lelaki itu. Bella pun lantas tersadar lagi dan ia segera melepas tangannya yang menyentuh d**a bidang pria itu. Lalu, dengan cepat membenahi penampilannya juga. "Mm ... maaf. Saya ... enggak sengaja." Bella mencoba mengatur degup jantungnya yang tak biasa. "Enggak apa-apa, kok." Pria itu tersenyum. "Lagi juga boleh." Bella mendelik. Lelaki dengan jambang tipis itu mendekatkan diri pada Bella. Sontak, Bella pun mundur dan menutup diri dengan kedua tangannya di depan d**a. Namun, apa yang ia sangka ternyata salah. Lelaki itu hanya ingin menekan tombol lift yang masih menyala merah. Pintu pun akhirnya tertutup, Bella mengembus napasnya melalui mulut. Sambil mengusap wajah, gadis itu melirik ke arah kakak kelasnya dahulu. Masih terheran-heran, kenapa dia bisa bertemu lelaki yang pernah membuatnya malu itu lagi. Telapak tangan semakin terasa dingin, tubuh meremang panas apalagi saat pintu lift tak juga segera terbuka. "Gimana kabar kamu?" tanya pria itu sambil menyandar dan kedua telapak tangan masuk ke dalam saku celana. Bella tampak gugup. "Baik, Mas. Eh, Abang." Gadis itu menelan ludah susah payah sambil menggaruk bagian pipi. Seketika lupa akan kejadian yang sempat membuat hatinya sakit tadi. "Sekarang mau ke mana?" tanya pria itu lagi. Sejak tadi, memperhatikan Bella dari belakang sambil mengulas senyuman manisnya. "Pulang." Pintu terbuka dan Bella pun segera keluar mendahului. Menghirup udara di luar hotel sedikit memberi ruang di hatinya, Bella terus berjalan mencari taksi. Namun, sambil menunggu, ia sempatkan mengirim pesan pada Mira. Ia tak bisa ikut acara reunian. Sebuah mobil putih berhenti di depan Bella berdiri. Gadis itu tak menghiraukan awalnya, tetapi saat kaca mobil diturunkan dan klakson berbunyi, Bella kembali terkejut. "Ayo!" Hanya sebuah kata yang terdengar, lelaki yang sama melambaikan tangan agar Bella segera masuk. Bella masih enggan. Ia terlalu lama berpikir, sehingga lelaki itu turun sendiri dan membukakan pintu untuknya. "Ayo, aku antar pulang. Sekalian mau ketemu Om dan Tante," katanya sambil tersenyum lagi. "Eh, Abang mau apa ketemu Mama sama Papa?" "Ya, silaturahmi aja. Udah lama enggak ketemu. Memangnya, kamu maunya aku ketemu mereka karena apa?" Seketika Bella tertunduk malu. Ia tak bisa berlama-lama menatap pria itu. "Enggak usah, Bang. Aku bisa pulang sendiri. Lagian juga nungguin temen," bohong Bella. "Udah, enggak usah alasan lagi. Ayo masuk!" Selama perjalanan, Bella tak berani memulai pembicaraan. Gadis berlesung pipi itu menatap lurus. Teringat lelaki yang berada di hotel tadi. "Bella, kamu masih ingat enggak saat kita duduk di pelaminan waktu itu?" celetuk lelaki bertubuh kekar itu sambil menoleh pada Bella yang kedua matanya melotot. "Apaan sih, Bang. Lagian udah lama banget. Udah bertahun-tahun. Aku lupa." Bella kembali berbohong. Padahal, sebenarnya ia ingat betul saat-saat itu. Di mana, dia merasa sangat malu. "Kita kan belum bercerai." "Bang Adam enggak usah aneh-aneh, deh. Orang itu cuman acara sekolah aja. Ngapa dibawa-bawa sampai sekarang?" Lelaki itu tertawa. "Masa kamu lupain begitu aja? Padahal ... aku enggak bisa lupain kejadian itu selama di Australia." "Australia?" Bella bergumam sendiri. "Iya. Australia." Lelaki itu mengangguk. Bella teringat sang kakak yang berada di sana juga. Mobil berhenti di depan rumah Bella. Pagar besi langsung dibukakan oleh seorang satpam rumah. Mobil Adam masuk ke dalam lalu mesin dimatikan oleh lelaki itu. "Mama sama Papa enggak ada di rumah, Bang. Abang pulang aja. Lagian sudah Maghrib," ucap Bella sambil melepas seat belt. "Kata siapa? Coba aja liat dulu." Bella semakin geregetan dengan pria yang pernah menjadi mantan kakak kelasnya sewaktu di SMA dulu itu. Adam langsung turun dan mendahului Bella. Pria gagah itu menekan bel rumah. Namun, Bella dengan wajah kesal langsung membuka pintu begitu saja. "Hai, Sayang. Kamu sudah pulang?" Wanita paruh baya membentang kedua tangan lalu memeluk tubuh rapuh sang putri. "Mah, tumben jam gini ada di rumah?" tanya Bella lalu melepas pelukan Mamanya. "Assalamualaikum." Suara dari belakang Bella membuat dua wanita itu menoleh. Kedua mata wanita berjilbab putih itu membulat. "Wa'alaykumsalam, alhamdulillah akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga." Wanita tua itu tersenyum. "Masuk, Dam. Kamu barusan datangnya?" "Sebenarnya ... saya datang bersama Bella tadi, Tan." Adam tersenyum lagi, sementara Bella melotot ke arah pria itu. "Masuk, yuk! Andra udah nungguin kamu dari tadi, tuh," lanjut Sarah sambil mengajak Adam untuk masuk. "Apa, Mah? Mas Andra dateng emangnya?" Bella terkejut saat nama kakaknya disebut. "Iya, kakak kamu baru saja datang. Oh, ya, pasti kamu enggak tau kalau mereka berdua itu kawan lama." Bella hanya bisa menggeleng kepala saat Adam ikut masuk ke ruangan keluarga bersama dirinya dan sang Mama. Ia menyaksikan dua lelaki yang bertemu saling berpelukan. Bergantian dengan Papanya yang baru saja keluar dari kamar. Adam tampak sangat sopan sekali pada mereka. "Hai, Cil! Duh, kangen nih gue." Andra, sang kakak langsung memeluk Bella. "Jangan panggil Cal Cil aja napa sih, Mas! Aku udah gede bukan bocil lagi." Bella memasang wajah kesal. Mereka semua yang ada di ruangan itu tertawa melihat kelakuan kakak beradik yang suka bertengkar. Andra, lelaki berkumis tipis itu lantas mengajak Adam duduk di sofa. Mereka membuka percakapan dengan saling menanyakan kegiatan masing-masing selama di negara sendiri. Sementara Bella yang masih berdiri masih memasang wajah cemberut karena merasa dibohongi. Ternyata, semua anggota keluarga sudah membuat janji dengan Adam untuk bertemu di rumah itu. Karena bosan, Bella langsung pergi ke kamarnya sendiri. Ia segera membersihkan diri. Begitu selesai, ia kembali dibuat penasaran dengan sosok yang ternyata sahabat kakaknya sendiri. Apalagi teringat ucapan Adam di mobil tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN