Pernikahan Impian Yang Gagal

1107 Kata
"Oh ya, Dam, si Bella bulan depan mau nikah. Kamu datang, ya. Harus pokoknya. Ajak Mama sama Papa kamu. Sudah lama Tante dan Om tidak bertemu mereka." Mama Bella tampak begitu akrab sekali dengan pria gagah di bawah sana. Bella yang dari tadi memerhatikan dari pagar lantai atas pun, kini mendelik saat mendengar Mamanya mengumumkan pernikahannya dengan Rangga. Ingin mencegah, tetapi sudah terlanjur. Gadis itu hanya bisa menggerutu saja. "Duh, Mama! Kenapa pakai cerita segala lagi. Gimana aku bilang ke mereka kalau aku udah memutuskan pertunangan dengan Mas Rangga." Gadis dengan piyama tidur itu memijat keningnya sendiri sambil mondar-mandir. Ia harap, akan ada waktu besok untuk menjelaskan. Teringat undangan sudah disebar, katering sudah dipesan, dekorasi dan semuanya akan berakhir pada tanggal yang sudah ditentukan. Bella tak sanggup membayangkan saat-saat itu. Tak ingin terus mendengar obrolan mereka, Bella pun membalik badan dan kembali ke kamar. Ia membuka ponsel dan bercerita tentang apa yang sudah terjadi pada kedua temannya. Bella ingin meminta bantuan mereka. Namun, dari balasan pesan yang Bella dapat, Mira dan Melani pun bingung harus memberi saran apa. Bella lantas melakukan video call dengan mereka berdua karena tak puas dengan jawaban yang ia dapat. ["Duh, Bel. Gue juga bingung mau kasih saran apa. Lagian, tanggal pernikahan Lo itu udah deket juga."] Mira tampak menggaruk kepalanya. "Makanya gue tanya kalian. Please, bantuin. Hati gue udah hancur, ditambah masalah ini. Gimana nanti perasaan kedua orang tua gue." Tatapan Bella terarah pada Melani yang sejak tadi diam membisu. Tampak gadis bertubuh gendut itu menggigit-gigit kuku jemarinya. Melani yang dengan posisi tengkurap itu membatin sejak tadi. "Mel! Gimana!" Bella semakin tak bisa menahan diri. ["Gue ada ide."] Melani meringis sambil manggut-manggut. "Apaan?" ["Bel, mending Lo cari penggantinya si Rangga busuk itu. Pas hari H udah tiba, Lo enggak perlu malu lagi. Karena memang pernikahan enggak jadi batal. Cuman ganti orang aja."] Bella kembali melotot. "Ide lu bener-bener gile, Mel. Masa iya gue cari orang secepat cari sendal jepit. Mana mungkin. Gue kenal Rangga udah bertahun-tahun aja masih diselingkuhin. Gimana yang cepet." Mira dan Melani kembali dibuat bimbang oleh Bella. Karena tak mendapat solusi, Bella pun menutup panggilan. Ia memutuskan untuk tidur saja karena kepalanya mulai berdenyut nyeri. *** "Selamat pagi, Non. Bapak sama Ibu sudah di ruang makan menunggu," ucap seorang asisten rumah tangga yang berpapasan dengan Bella di tangga. "Makasih, Mbok." Dengan gugup, seraya membenahi dasinya, Bella melangkah. Belum sampai di tempat, ia mendengar pembicaraan dari balik dinding. Lagi-lagi mereka membicarakan tentang pernikahan Bella yang sebentar lagi. Bella akhirnya muncul. Gadis itu tetap menunduk dengan kedua telapak tangannya dingin seperti es batu. Setelah menggeret kursi lalu duduk dengan pelan, mengembus napas berat, Bella membuka suara. "Mah, Pah, Mas Andra ... Bella mau bicara. Tapi, sebelumnya ... Bella minta kalian jangan syok." Semua orang yang ada di sana tampak diam mendadak. Sendok garpu mereka letakkan dengan perlahan. Mereka tahu, jika Bella sudah berkata kaku seperti itu, tandanya memang ada yang serius. "Ada apa, Sayang? Kamu ... enggak lagi sakit, atau ada masalah sama siapa pun, kan?" Sarah mengalihkan tatapan pada Sandy, sang suami. Perasaannya mulai khawatir. "Mah, Pah, Bella mau membatalkan pernikahan dengan Mas Rangga." Semua orang di meja itu sangat terkejut. Tiba-tiba Sandy memegangi dadanya. Yang semula baik-baik saja, kini terasa seperti tersengat sesuatu. "Pah ...." Sarah segera memegangi pundak sang suami. Andra pun ikut panik dan segera mendekat pada Papanya. "Bella, apa yang sudah kamu katakan? Kamu ingat ... pernikahan kamu sebentar lagi. Kamu sendiri yang dahulu memohon pada kami untuk merestui hubungan kalian. Kenapa sekarang minta batal setelah semua persiapan sudah di depan mata!" Wanita tua yang wajahnya mendadak mendung itu tak habis pikir dengan jalan pikiran putrinya. "Iya, Bel. Kamu yang bener aja. Kenapa mau batalin? Kasian Papa Mama yang udah ...." "Cukup, Mas Andra! Aku juga punya keputusan sendiri. Aku juga enggak mau sebenarnya jadi begini. Apa kalian tau kalau Mas Rangga ada hubungan dengan temanku sendiri? Mereka bahkan sudah menikah siri." Bella mengatur napasnya. Dadanya bergemuruh, siap mendengarkan amarah dari mereka semua. "Apa!" "Apa! "Hah!" Mereka semua semakin terkejut lagi. Rumah mendadak gaduh karena berita dari Bella. Mereka semua saling menyalahkan Bella. Gadis itu hanya tertunduk sambil menebalkan telinga. Bella tak membantah satu kata pun yang keluar dari mulut kedua orang tua dan kakaknya. "Wah, kalau ketemu si Rangga, aku enggak akan segan-segan kasih dia pelajaran, Bel!" Andra menggebu-gebu. "Mama juga! Mama enggak akan memaafkan Rangga karena dia sudah membuat keluarga kita menanggung malu." Sarah terisak lirih. "Dari dulu, Mama sudah enggak setuju kamu sama dia. Tapi, kamu tetap saja membantah. Sekarang tau sendiri akibatnya, kan!" "Sudah-sudah! Papa yang akan memutuskan semuanya di sini," tegas Sandy kala jantungnya sudah terasa aman. "Papa sendiri yang akan carikan Bella jodoh. Enggak peduli Bella mau terima atau tidak." Bella ternganga. Namun, ia sudah tak bisa lagi membantah seperti dulu. Pagi itu, setelah berpamitan, Bella segera memasuki mobil jemputan dari bandara. Sepanjang jalan, ia teringat apa kata Papanya. Bella turun setelah sampai dan segera melangkah menuju ke ruangan khusus mengecek kesehatan sebelum terbang. Gadis itu tampak lemas, tak bersemangat seperti biasanya. Apalagi, saat melihat Rangga dan Vina berjalan beriringan. Mereka terlihat semakin bahagia saja. "Bel, gimana?" "Iya, jadi gimana? Udah dapet solusi belum?" Kedua sahabat Bella datang dan langsung duduk di dekat Bella yang tengah diperiksa tensi darahnya. Karena tak segera menjawab, Melani menyerobot lagi, "Bel, denger-denger ada kapten pilot baru." Bella hanya diam. Ia tak peduli dengan dunianya yang sekarang. Saat ini hanya kedua orang tuanya saja yang ia pikirkan. Setelah mereka selesai diperiksa, ketiga gadis itu terpaksa berpisah karena jadwal mereka berbeda. Bella pun segera memasuki ruang dalam pesawat. Setelah sampai di belakang kursi kokpit, betapa terkejutnya gadis itu melihat lelaki kemarin malam sudah duduk di sana dengan anteng. "Ndri, itu siapa?" tanya Bella pada pilot yang baru datang dari belakangnya. "Siapa?" Andri, rekan pilot satu pangkat di atas Bella pun menyembulkan kepalanya ke depan dan melihat siapa di sana. "Oh itu ... dia kapten kita yang baru. Jam terbangnya lebih dari 1000 jam. Udah, duduk aja di sebelahnya. Masih singgel loh dia." Andri memainkan kedua alisnya sebagai tanda sindiran untuk Bella. "Apa? Aku harus duduk di sebelah dia? Apa-apaan ini." Begitu mendengar Bella berbicara sendiri, lelaki berkacamata hitam itu menoleh. Dia hanya menyunggingkan senyuman. Bella pun segera duduk di bagian kiri lelaki itu. "Abang, kenapa ada di sini?" Bella bertanya tanpa menatap lelaki itu. "Memangnya kenapa?" Sambil menghela napas kasar, gadis itu memutar bola matanya karena mendadak saja gugup. Lalu, mengecek semua sistem dalam pesawat sebelum berangkat. "Benar apa kata Mama kamu, kalau ... kamu mau menikah sebentar lagi?" tanya Adam dengan santai. "Enggak tau." Bella cemberut. Ia berusaha mengalihkan perhatian dengan menatap ke jendela samping.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN