Sejak tadi, mereka hanya saling diam. Sesekali Sherly melirik pria yang tidak mudah ditebak bagaimana karakternya. Sebenarnya, kenapa Yoga bisa tahu di mana tempatnya bekerja? Apakah mamanya yang memberi tahu?
"Kalau mau bilang makasih, nggak usah. Anggap saja itu perlindungan pertama dari calon suami yang berusaha menjaga calon istrinya."
Huh, pede sekali. Belum pernah Sherly berhadapan dengan pria sepede Yoga, tapi dia memang merasa hutang budi sudah terlepas dari jeratan sang mantan.
Karena memang belum makan, ide brilian muncul di otaknya. Mungkin Sherly bisa mentraktrir Yoga makan.
"Berhenti!" lantangnya. Yoga rem mendadak mobilnya, beruntung pria itu masih bisa mengancang-ngancang.
"Kenapa? Kamu hampir saja membuatku menabrak tiang."
"Maaf, itu, di sana ada tempat makan. Ayo makan," tunjuknya.
Baiklah, Yoga langsung memutar mobil dan mencari tempat parkir.
Saling diam lagi. Entahlah, sebenarnya Yoga tipe pria yang mudah akrab, hanya sedikit berbicara. Ngomong seperlunya dan hanya bisa nyaman dengan Sherly.
"Anu.. Aku mau ngajak kamu makan, sebagai rasa terima kasih soal tadi."
Belum pernah Yoga melihat perempuan itu meragu dan terbata-bata. "It's okey, sebenarnya gak perlu tapi aku hargai tawaran kamu."
Yoga langsung masuk, tidak menunggu Sherly yang mematung karena sikap pedenya yang selalu junjung langit.
Mereka sudah memesan menu, kembali diam sambil menunggu makanan datang. Dari awal bertemu, Sherly memang tidak mengetahui sosial media milik Yoga, nomornya saja tidak disave.
"Nanti dianterin pulang gak?"
"Eh, apa?" saking banyaknya hal yang dipikirkannya, Sherly gagal fokus dan malah menerka-nerka sesuatu.
"Oh, enggak usah gak apa-apa. Lagian dari sini udah dekat kok, kamu juga banyak kesibukan."
Mengangguk-angguk. Bukannya tidak ingin mengantarkan Sherly sampai rumah, hanya saja Yoga tahu pasti nanti om Prima--papa Sherly bakalan menyuruhnya untuk menginap lagi. Gak baik untuk kesehatan jantung karena melihat Sherly ada di mana-mana.
Mereka sudah bersibaku dengan makanan yang terhidang. Melupakan gengsi masing-masing dan fokus dengan sajian di piring. Di belahan bumi manapun, urusan perut memang nomer satu.
***
Baru kali ini Sherly ditinggal begitu saja di dekat perumahannya. Ya, Yoga memang menurunkannya di jalan, hanya tidak ingin merasa sungkan dengan om Prima.
"Aku tinggal dulu. Gak mewek kan gara-gara jalan kaki?"
"Enggaklah, ya udah sana gih pulang. Itu, jangan lupa luka kamu dikasih salep. Paham?"
Mengangguk-angguk, Yoga langsung memutar mobil dan meninggalkan Sherly. Tanpa pikir panjang, akhirnya Sherly balik badan jalan kaki ke rumahnya.
Butuh waktu sepuluh menit sampai. Gila, ini sih namanya kayak olahraga. Glek, glek, glek. Sherly langsung mengambil botol minum.
"Huah, haus banget."
Tumben-tumbenan sekali Sherly terlihat lesu, biasanya selepas mengajar putrinya tidak seletih itu.
"Kenapa sih, kamu Sher?"
"Ma, pernah gak mama dibaikin sama orang padahal kalian gak dekat?"
"Kan baik sama orang gak harus dekat, Sher. Kalau bertemu orang di jalan dan kebetulan butuh bantuan, gak mungkin kan kita gak bantuin cuma gara-gara gak dekat? Masa bantuin orang pilih-pilih sih?"
Benar juga apa kata mamanya, mungkin saja Yoga baik dengannya sampai rela terluka hanya sebagai bentuk sesama manusia.
Tidak ada alasan untuk baik dengan seseorang terlepas siapapun dia.
***
Selepas mengantarkan Sherly, urusannya di Sleman memang belum selesai. Yoga sudah membeli keperluannya dan sekarang sedang menunggu Arman--temannya yang memang masih satu kota dengannya.
"Maaf nunggu lama. Macet tadi."
Oke, alasan klise. Tapi Yoga tak mempermasalahkan, toh ia hanya mampir sebentar di Sleman. Perutnya lapar, butuh asupan.
"It's okey, pesan makan gih. Nanti gue yang traktir."
Dari dulu, Yoga memang sering berbaik hati mentraktir seperkumpulannya, Arman salah satu pria beruntung karena dianggap teman dekat oleh pria kulkas seperti Yoga.
Di kampus, pamornya memang terkenal panas dingin, beda saat di dekat Sherly, hangat dan bikin bucin.
"Gue mau ngasih pengumuman."
Arman yang sedang menikmati minumannya hanya mengangguk-angguk. "Kayak di mading aja, pengumuman apa? Soal masalah di kampus?"
Bukan. Yoga tahu, banyak sekali gosip miring mengenainya, terlebih Yoga selalu tak pernah absen mendapat direct message, entah dari haters atau fans garis kerasnya.
"Gue mau nikah. Mungkin sebentar lagi, bisa jadi sebelum gue selesai skripsi. What do you mean, Bung?"
Jelas Arman langsung memuntahkan minumannya, tersedak dan batuk berkali-kali. Sialan, pemberitahuan macam apa ini? Bukankah Yoga sama sekali tak punya hubungan dengan siapapun, jangankan calon istri, gebetan aja gak punya.
"Lu gak lagi ngigau kan?" Arman kembali fokus, berpikir keras siapa perempuan yang beruntung bisa mendapatkan pria selurus Yoga.
"Gini ya, nikah itu gak harus jadi pemain handal kayak lu, gak harus punya sebaris mantan. Buktinya, gue gak pernah tuh pacaran tapi bisa ke pelaminan duluan."
"Sialan! Lu nyindir gue kan?"
"Bisa jadi. Hahaha, gue sebentar aja di sini, gak bisa lama-lama karena harus pulang."
"Semalem ini? Yeah, bukannya gue khawatir sih, cuma apa gak kemaleman?"
Yoga terburu-buru menghabiskan makanannya. "Intinya, kita harus siap gak siap kalau jodohnya udah siap, Man. Player gak harus jadi player kan?"
Hampir saja Arman melempari Yoga dengan gelasnya karena terus-terusan menyindirnya. Ia sudah terbiasa dengan segala bentuk persindiran dari temannya karena memang selalu gonta-ganti pacar dan pasangan.
Sleman masih ramai jam segini, beda lagi dengan kawasan Gunungkidul yang selalu sepi dari pengguna jalan. Mungkin hanya beberapa yang lewat.
Merasa aneh, karena sejak memasuki wilayah yang jalanannya sepi Yoga merasa ada yang mengikutinya. Gak mungkin Arman seiseng itu kan?
Gila, dengan beraninya motor tak dikenal makin mendekat ke mobilnya, Yoga harus benar hati-hati. Ia tak boleh oleng.
Makin dirasa, Yoga merasa motor itu memang membuntutinya. Ia tak punya waktu untuk menepi. Lebih gilanya lagi, ia sempat melihat pengendara mengacungkan jari tengah kepadanya, benar-benar mengajak perang. Siapa sih orang iseng di belakangnya? Di dunia ini Yoga tak pernah punya urusan dengan siapapun. Musuh? Mustahil. Bukankah Yoga selalu damai dengan semua orang termasuk dirinya sendiri?
Brak!! Yoga tidak punya pilihan selain harus membuat mobilnya tertabrak mobil. Motor itu langsung tancap gas, meninggalkan Yoga yang sudah lesu karena memaksakan mobilnya oleng.
Kepalanya agak pusing, ia sempat menghubungi sesorang. Tak lama kemudian Yoga pun pingsan.
***
"Dia pingsan atau mati suri sih, Ma?"
"Hust, gak boleh ngomong gitu. Namanya aja orang baru kecelakaan, didoain biar calon suami kamu cepat sadar."
Mendengar kata calon suami membuat Sherly merasa aneh. Tapi baiklah, ia tahu kalau Yoga pasti kecelakaan karena tadi sempat kehilangan tenaga melawan Bimo. Ya, itulah yang ada di pikirannya sekarang.
Menunggu pria itu sadar, Wulan membiarkan putrinya menjaga Yoga hanya berdua di ruangan rawat. Lebih baik keluar mencari makan.
"Duh, mama kenapa pergi sih?"
Baru saja akan beranjak dari kursi, sentuhan tangan membuatnya tertahan. Yoga sudah sadar?
"Di sini aja. Aku bakalan merasa baik-baik saja kalau ada kamu di sisiku."