"Kamu, udah sadar?"
Bukannya menjawab, Yoga malah tersenyum dan mulai duduk bersandar tembok. Tatapannya lepas menilai perilaku Sherly yang sedang mengkhawatirkannya.
Ada sedikit perasaan menggelitik karena tidak pernah dipedulikan oleh wanita lain selain ibunya. Sebenarnya banyak sih yang mendekat dan peduli, tapi Yoga jarang menyambut kepedulian mereka.
"Tadi mama lagi ke kantin. Laper kali, kamu mau makan apa?"
"Makan kamu."
"Ih!" pukulan ringan mengenai luka lengan Yoga. Ya, dari kecelakaan semalam, paling parah adalah area tangannya.
Entahlah. Siapa orang iseng yang sudah membuatnya celaka, haters gak ada, musuh gak punya. Aneh banget kan?
"Anyway, tadi dokter bilang kamu harus dirawat sehari lagi di sini dan besok baru boleh pulang."
"Mobilku gimana keadaannya?"
Bisa-bisanya Yoga malah lebih mementingkan keadaan mobil daripada keselamatannya. Dih, dasar manusia duniawi.
Karena terlalu lama pingsan, tenaganya tidak terlalu kuat untuk lama-lama duduk. Yoga kembali berbaring, menatap Sherly yang sudah sibuk dengan ponselnya.
Dari semua perempuan yang pernah ia lihat, hanya Sherly makhluk Tuhan yang paling cuek kepadanya.
"Tante Anggi sih katanya nunggu om Danu, dan mama juga udah telepon."
Oke, Yoga bukan tipe anak yang ingin membuat susah orang tua. Lagian, ia yakin kalau keluarga Prima akan merawatnya dengan baik, apalagi keberadaan Sherly memberi pengaruh baik juga.
Sambil menunggu sang mama di kantin, Sherly berinisiatif untuk menyuapi bubur. Bukan bubur buatannya, bubur asli dari pihak rumah sakit.
"Ini, karena tangan kamu masih sakit aku suapin. Jangan manja. Makanya jangan sambil tiduran dong."
Satu suapan sukses. Yoga menyambutnya dengan mesra, ibunya saja jarang menyuapinya.
Dua suapan, tiga suapan dan sampai tandas. Laper apa doyan?
Dari arah luar, Wulan cekikikan karena melihat anaknya menyuapi calon mantu. Dunia terasa milik mereka berdua.
***
Mobil sudah diperbaiki, Yoga pun sudah lebih baik keadaannya. Meskipun jalannya seperti robot. Dan satu-satunya hal yang membuatnya tertahan di rumah om Prima adalah karena menunggu orang tuanya menjemput.
"Disuapin lagi dong Kak Yoganya, tangannya kan belum bisa makan sendiri."
Padahal rasanya perut Yoga sudah kenyang. Banyak sekali sajian makanan yang masuk ke perutnya.
Telapak tangan Yoga mendorong piring, tanda perutnya sudah menolak keras untuk menerima suapan lagi. "Aku udah kenyang, meskipun gak bakalan gendut tapi aku masih sayang sama perutku, Sher."
Oke, akhirnya ujian sudah selesai. Manja banget kayak bayi, pacar bukan malah suap-suapan. Eh, tapi mereka kan terikat dalam perjodohan keluarga? Lebih dari kata pacar dong!
Mobil keluarga Danu sudah datang, itu tandanya sebentar lagi waktu kebersamaan Yoga dan Sherly semakin menipis. Meskipun ia tahu, nanti kedua orang tuanya akan mengobrol berjam-jam dengan keluarga Sherly.
"Ayah, Ibu," sapa Yoga. Sekuat tenaga untuk berjalan mendekat ke arah orang tuanya dan bersalaman.
Danu mengajak istrinya duduk, menyapa kawan lamanya. Melihat keadaan sang putra satu-satunya, dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Syukurlah, keadaannya gak parah. Si Yoga ini, kalau sakit pasti jarang bilang. Dulu, waktu kecil jatuh dari sepeda, jatuh dari pohon juga gak pernah bilang. Pulang-pulang udah meriang."
"Satu lagi ayah, Yoga kalau jatuh cinta juga gak bilang kan?" candanya.
Seketika, ruang tamu terasa riuh. Biasanya, orang tuanya jarang sekali menceritakan kebiasaan Yoga semasa kecil dan remaja.
Mungkin karena jarang berkumpul prima dan Wulan sangat menikmati kedatangan teman lamanya. Mereka pun mempersilahkan Sherly mengajak Yoga berkeliling.
Rumah orang tuanya bukan rumah yang megah seperti istana, tetapi cukup untuk membuat pesta pernikahan sebesar-besarnya. Apalagi ekerjaan Papa Sherly memang menjanjikan.
Tapi, keluarga Yoga juga bukan orang biasa mereka punya usaha perikanan di Gunungkidul yang memiliki omset jutaan per harinya.
"Gak nyangka, mereka masih setia. Dulu, aku juga ingin punya pertemanan yang seperti orang tua kita," ucapnya.
Yoga memaksakan diri untuk berjalan sendiri, menolak saat Sherly menawarkan diri untuk memapahnya. Tidak ingin terlihat lemah di depan perempuan yang ia suka, apalagi sebentar lagi mereka akan menikah dan menjadi pasangan suami istri.
Baginya, pertemanan sampai punya anak vibesnya berharga. Dari dulu, circle kehidupan Yoga terasa begitu-begitu saja. Bahkan, Yoga saja tak bisa terbuka dengan setiap orang.
"Karena mereka menjunjung tinggi yang namanya pertemanan. Emangnya kamu nggak punya teman?"
Yoga menggeleng, duduk di pondasi kolam. Menatap ikan-ikan mas yang bersembunyi di balik tumbuhan yang menjalar di sisi kolam. Mirip sekali dengannya saat didekati oleh orang baru malah bersembunyi.
"Kalau boleh jujur, kamu adalah orang pertama yang menjadi temanku dulu. Terlepas dari siapa orang tua kita, kamu memanggilku masih anak kecil."
Tatapan Yoga begitu dalam, dan payahnya Sherly malah menikmatinya. Ia kembali membuang muka. Entahlah, kenangan apa yang mereka punya, Sherly memiliki masa kecil yang ramai, penuh tawa, tidak sesepi seperti kehidupan si brondong.
"Semuanya bakalan baik-baik aja kalau kamu nganggap semua orang itu baik, buktinya, Aku punya banyak teman, punya banyak kenalan. Hidupku nggak sesepi kayak hidup kamu, nggak lurus kayak hidup kamu. Meskipun kamu itu senang dengan zona nyaman kamu, Yoga, kamu juga harus keluar dan menghadapi betapa luasnya dunia ini dengan mata telànjang kamu."
Bukannya hanyut dengan kata-kata motivasi dari Sherly, tatapan Yoga malah penuh tanya sekarang.
"Apa? Kenapa natap aku gitu? Pasti terharu ya dapat siraman rohani?"
"Bukan. Lucu memang sih, mendengar kata telànjang, otakku yang lurus ini jadi ke mana-mana."
Ya ampun, dari panjang lebar luasnya kalimat dari Sherly, Yoga malah fokus dengan kata senónoh itu.
"Bercanda, Sherly. Jangan natap aku horor gitu dong. By the way, mereka ngobrol lama banget, padahal tadi di telepon bilangnya gak bakalan lama, sungkan merepotkan keluarga kamu."
Namanya aja sahabat sejati, ketemu gak setiap hari, sekali ketemu lupa waktu dan tujuan.
Sherly ikut berjalan ke arah sisi kolam, tempat favorit saat galau. Berbasa-basi dengan ikan peliharaan kak Sandy, meskipun mereka tidak bisa berbicara, setidaknya Sherly punya keyakinan kalah ikan-ikan itu bisa mendengar.
"Tahu gak, mereka itu juga teman-temanku. Bahkan aku ngasih nama ke mereka, lebih plong aja gitu, daripada berteman sama manusia malah nyakitin. Apalagi punya ikatan yang serius sedikit, malah tambah sakit."
Sama-sama tertawa. Gila sih, topik pembahasan mereka berat sekali.
"Semua makhluk hidup itu perasa, Sher. Meskipun ikan-ikan itu nggak bisa bicara tetapi mereka tahu kalau ada orang yang mengajak mereka bicara."
"Begitu ya?"
Yoga mengangguk, "oh ya, aku mau menawarkan sesuatu denganmu."
"Sesuatu? Apa itu?"
Yoga malah mengulurkan tangannya, membuat Sherly makin bertanya-tanya. "Maksudnya apa sih?" batinnya.
"Karena aku nggak punya teman dan memang susah untuk berteman, bagaimana kalau kita berteman? Terlepas nanti kita akan menjadi pasangan sama istri."
Kening Sherly menyerngit, jarang sekali ada pria yang mengajaknya berteman. Biasanya mereka pede langsung minta nomer WA, bahkan langsung ngajak pedekate.
"Deal."
Tanpa mereka sadari, tidak ada yang berhasil dengan pertemanan antar lawan jenis.