I'm Sorry

1090 Kata
Bukannya merasa kesakitan, remuk di badan, sejak keluar dari rumah om Prima, Yoga malah cengengesan. Gila kali! "Kesambet setàn ya, Nak?" Yang ditanya malah tambah tertawa. Di pikirannya sekarang, ia tahu kalau rasa sakitnya tak ada apa-apanya dibandingkan karena status kedekatannya dengan Sherly. Meskipun baru sampai di tahap pertemanan, Yoga rasa itu lebih dari cukup. "Ga, Ayah yakin kalau kecelakaan kamu ini gak murni." "Susú kali, Yah, murni." "Ya ampun, Yoga! Ayah kamu serius. Kamu kan orangnya hati-hati, apalagi dari dulu gak pernah tuh kamu oleng nganterin ibu ke mana-mana. Aneh tau gak, masa iya karena kamu ngantuk. Itu hanya alasanmu kan agar kami ini gak khawatir?" Yoga malas memperpanjang masalah. Ia juga tak mau membuat orang tuanya ikut terseret dengan kejadian yang dialaminya beberapa hari yang lalu. Ia tahu, motor super misterius itu pasti salah seorang musuh. Tapi masalahnya, siapa? Atau jangan-jangan si kunyuk Bimoli--mantan Sherly? Dih, childish banget! Baku hantam kalau berani. Tapi itu bisa dipikir nanti setelah tangannya sembuh. Apalagi skripsinya harus segera ditangani. Jogja jauh lebih indah saat Yoga kini punya teman. Mungkin sebentar lagi ia akan bertunangan. Begitulah pembahasan yang ia dengar dari orang tua dan juga keluarga om Prima. Saat itu ia sempat melirik Sherly. Tidak sehoror dulu saat dibahas tentang perjodohan. Meskipun Yoga tahu, Sherly belum menyukainya. Tapi jangan meremehkannya, Yoga-anak pesisir sangat mahir menggunakan sihir agar nanti perempuan itu terkilir cinta. *** Siang begini, karena kelas mengajarnya sudah selesai, Sherly malas untuk pulang. Apalagi banyak keperluan yang harus ia beli, salah satunya cemilan. "Hana mana sih??" gumamnya pada diri sendiri. Berkali-kali melihat jam dan ponsel. Mengecek apakah ada balasan terbaru dari teman karibnya. Ia padahal tahu, si Hana memang selalu ngaret kalau diajak ketemuan. Sambil mengaduk-aduk bubble tea-nya, Sherly mencoba melihat deretan pria yang memfollownya, semuanya tampan. Tapi sayang, otak Sherly sudah lepas muatan dari spesies dari makhluk bernama pria yang masuk kategori tampan. Beruntung Hana sudah sampai, sama-sama tak punya kesibukan sesiang ini lebih baik travelling ke mana gitu kan? "Sorry lama. Biasa, tadi motor gue tiba-tiba ngambek, ya udah pesan gojek aja." Ya, sangat maklum. Entahlah, Hana seperti manusia Jogja lainnya, suka motor tua klasik meskipun sering mogok tiba-tiba. "Kita ke cafe Sinar yang lagi viral itu yuk! Suntuk banget gue!" ajak Sherly. Hana sudah sibuk memesan bubble tea Taro kesukaannya. Butuh menetralkan napasnya karena baru saja sampai di TKP. Jarak dari posisinya sekarang ke cafe Sinar lumayan jauh, tapi bodo amat. Yang nyetir kan si Sherly. Mereka langsung tancap gas, menuju lokasi. Di umur segini, saat perempuan seusia mereka sibuk menyebar undangan, mereka malah sibuk bikin story di instagràm. Setelah sampai di cafe yang viral itu, Sherly langsung menuju tempat duduk di pojokan. Sialnya, Lagi-lagi semesta mempertemukannya dengan mantan kamprét yang menyebalkan. Pasti pria sok tampan itu bakalan nyamperin. "Eh, itu si Bimoli kan?" tebak Hana setelah memesan minuman lagi, padahal baru saja membeli buble tea. Lucu, sebutan Bimoli malah mengingatkan tentang Yoga. Pria itu juga menyebutnya dengan panggilan yang sama. "Tau ah, bodo amat. Kita di sini kan mau selfi-selfi." Ya, secuek itulah Sherly. Mau Bimo ngemis-ngemis sampai mulutnya karatan, rasa sakitnya sudah permanen tak bisa disembuhkan. "Tapi, ngomong-ngomong, katanya dia udah jarang ke cafe barista ganjén itu lagi. Mereka udah putus kali ya?" Ini kenapa sih, Hana bahas si Bimoli terus? Padahal tujuan mereka ke sini hanya untuk mengisi waktu luang. Pesanan mereka sudah datang. Bahkan Sherly kaget saat tagihan juga sudah dibayar oleh meja 25. Meja yang sama yang diduduki oleh Bimo. Caper banget sih? "Tunggu sebentar, Han. Gue samperin si kunyuk itu dulu ya, nyari gara-gara terus!" "Eh, serius? Apa tadi, lu manggil dia si kunyuk? Sejak kapan lu--" Ucapannya terpotong karena Sherly sudah lebih dulu pergi dari tempat duduknya dan menghampiri Bimo. "Maksudnya apa bayarin makananku, heh? Ngejek aku gak bisa bayar?" Yang ditanya malahan sok ganteng. Menunjukan deretan giginya. "Ya kan aku berbaik hati, Sher. Dulu kan aku juga sering nraktir kamu." Hah, dulu ya dulu. Sekarang udah beda, kunyuk! "Mau ditransfer berapa?" "Hah? Maksudnya Sher?" "Ya maksdunya hitung semua uang yang kamu keluarin saat bayarin semua makanan yang kumakan dulu sewaktu kita masih pacaran. Gak sudi punya hutang budi sama orang yang gak pernah nepatin janji." Bimo menolak keras. Apa-apaan? Bukan itu maksudnya, ia hanya bercanda tadi. Plur mentraktir Sherly karena berharap bisa dimaafkan kesalahannya karena telah berselingkuh. Tapi rasa sakit hati Sherly sudah memuncak membentuk piramida. Tak bisa diruntuhkan hanya dengan iming-iming traktiran. "Dengar ya, Bimoli, hubungan kita itu udah selesai saat kamu dengan beraninya malah menggoda cewek lain dan bilang itu bukan kesalahan kamu. Bodoh atau nggak peka sih?" Panggilan Bimoli membuat teman-teman Bimo menertawakannya. Tentu saja pria itu merasa malu karena baru kali ini Sherly mengejeknya habis-habisan sudah ditolak mentah-mentah tidak dimaafkan dituduh selingkuh meskipun bener, dan sekarang dipanggil Bimoli. "Pasti gara-gara si cowok kemarin yang sok pahlawan itu kan? Gara-gara dia kamu jadi gak bisa maafin aku, hm?" "Kalau iya emang kenapa? Suka-suka dong! Kamu aja bisa mendua, mentiga apalagi aku?" tantang Sherly. Dari tempat duduk Hana, ia hanya bisa geleng-geleng kepala. Tahu betul kalau sahabatnya itu ingin sekali melemparkan Bimo ke rawa-rawa karena sudah menghianatinya, tapi sekarang kafe malah semakin ramai karena ada perseteruan antar mantan. Ya, Bimo dan Shery kayaknya gak sadar sudah bikin keributan. Ia harus menarik Sherly sebelum diusir dari sini. "Sher, balik yuk! Udah, jangan diladenin, gak bakalan puas cuma ngomel-ngomel doang. Rugi gede, mubadzir tenaga aja buat orang kayak dia." tunjuk Hana. Benar juga kata Hana. Sherly berbalik, sebelum itu ia menendang kaki Bimo. Dan sialnya, Bimo malah keceplosan mengaduh. Ya, pria itulah yang iseng mengejar mobil Yoga. Kesal karena dikalahkan. Kakinya sempat bersapa dengan aspal malam itu. Masih kesal, Sherly tetap stay di parkiran. Ia sempat melirik ke arah Bimo yang juga sama-sama keluar tetapi pria itu tidak melihat keberadaan Sherly. "Kayaknya lu harus pakai jurus jitu deh, baru kali ini Bimo kalah ngerayu cewek, ya nggak?" ejek salah satu temannya. "Udahlah, Sherly nanti gampang belakangan, yang penting gue udah balas dendam sama pacarnya yang sok kegantengan itu." "Oh, makanya motor lu agak peyok depannya ya? Gara-gara lu nekat mau bikin oleng dia?" Ya. Bimo sempat kesal dan mengikuti ke mana perginya gebetan si Sherly. "Songong sih! Si cowok itu emang dia siapa sih?" tanya teman Bimo. "Nggak tahu, gue juga baru lihat. Kayaknya sih gebetannya Sherly atau mereka udah jadian. Udah lah kita pulang aja." Sudah tak tahan, Sherly melempar helm yang sedari tadi di tangannya. Bughk! "Bimoli! Jadi lu yang udah nyelakain calon suami gue, hah!!" Bimo dan teman-temannya menoleh, terkejut melihat helm yang tiba-tiba terlempar ke udara. Mampus!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN