Kemarahan Sherly tidak bisa mereda begitu saja, setidaknya ia harus membuat tubuh Bimoli merasakan apa yang dirasakan Yoga.
"Ta-tadi, kamu bilang apa, Sher? Calon suami?" pancing Bimo.
Sherly menggagahkan ucapannya. Ya, untuk hal kebaikan seperti sekarang ini, mengakui pria sebagai calon suami adalah jawabannya. Toh Sherly tidak ngibul.
"Jelas dong. Pria seperti dia itu serius dalam segala aspek. Gak modal kata-kata doang." Sherly kembali memungut helmya, mengacungkan jari tengah tanda belum baikan di antara mereka.
Sedangkan si Bimoli hanya diam di tempat. Belum pernah dipermalukan seperti ini di depan teman-temannya.
Terlebih Hana, perempuan itu bahkan sempat merekam aksi gelut. Lumayan kan bisa trending di Youtube. Siapa tahu nanti diundang di Rumpi No secret.
"Kita harus ke sana," ujar Sherly setelah pergi dari cafe tersebut.
Hana yang diam saja tahu ke mana arah tujuan Sherly. Tapi apa gak terlalu jauh? Bahkan butuh waktu berjam-jam untuk sampai di Gunungkidul? Ya udahlah, makmum mah bisanya cuma nebeng doang. Sendiko dawuh sama imamnya.
***
Tak bisa dipercaya, Yoga hanya memasang wajah bloon saat Sherly sampai di depannya. Gak lagi mimpi kan?
"Hey, malah ngelamun! Aku boleh kan masuk?"
"Ah-boleh! Maaf, aku harus kumpulin kesadaran kalau yang dateng itu beneran kamu."
Hana sempat melihat Yoga yang mematung beberapa menit, pasti pria itu tak menyangka calon istrinya bakalan datang. Mereka pun duduk, sayang sekali orang tua Yoga masih sibuk di pabrik kerupuk ikan.
Keduanya saling melihat-lihat. Mendengar Yoga sepertinya kesulitan di dapur membuatkan hidangan, Sherly pun berinisiatif membantu.
"Dih, sok jagoan. Sini biar aku saja, kamu temanin Hana mengobrol saja. Dari dulu dia sering banget ngajak aku mantai, tapi aku udah bosan."
"Bukan karena ada aku kan?"
Sherly mencebik. "pede, cuma gak mau makin item aja sih, makanya aku heran kamu gak sedekil kayak anak pesisir."
"Rajin pakai sunblock, Dear," Yoga keluar untuk menemani Hana.
Baiklah, konon katanya mendekati seorang perempuan harus dekat juga dengan teman-temannya mereka. Entahlah, metode dari siapa.
Hana hanya celingukan, matanya menilai setiap sudut rumah Yoga. Meskipun di pesisir dan jauh dari peradaban kota, keluarga Yoga tidak ketinggalan jaman.
"Di sini susah sinyal, kalau kamu mau tanya kenapa HP kamu gak terkoneksi."
"Terus selama ini, kamu pakai hpnya gimana? Jangan bilang manjat-manjat kelapa?"
Yoga tertawa demi menghormati lelucon Hana. "Monyet dong. Ya tapi gak seburuk itu kok, kadang aku keluar dari rumah, ke pedepokan. Atau ke pabrik, masih adalah sinyal kalau cuma buat kirim pesan."
Termangu dengan penjelasan Yoga. Bagi Hana, kehidupan tanpa teknologi ada plus minusnya, meskipun sedamai itu tetap saja Hana tak bisa. Bagaimana dengan maraton drakornya? Netflix kesayangan, belum lagi V live-nya.
Sherly kembali dengan menyajikan teh hangat, juga beberapa cemilan. Ia tahu bibi Anggi adalah orang yang tertata kehidupannya. Pasti calon mertuanya punya banyak cemilan. Cielah, calon mertua.
Mereka berbasa-basi sebentar. Dan inilah ujungnya, mau tak mau, malu tak malu, Sherly harus meminta maaf atas kejadian yang menimpa Yoga. Sungguh, meskipun ia tak menyukai Yoga sebagai pria yang dicinta, setidaknya jangan sampai pria itu terluka karena membelanya.
"Aku, sungguh minta maaf. Kalau kejadiannya bakalan kayak gini, tahu gitu mendingan kamu tidur sama aku."
Eh, belum sah udah ngajak yang ekstrem aja nih si Sherly.
Sadar akan ucapannya, ia segera merapat sebelum bibir rombeng Hana makin merajalela. "Hmm, maksudnya tidur di rumahku, Ga."
Bukan masalah besar. Malahan, Yoga merasa beruntung karena bisa dijenguk langsung oleh perempuan itu. Pasti ibunya tak menyangka, satu langkah lebih baik dari dugaannya. Ah, rencana Tuhan selalu indah bukan?
"It's okey. Kamu sebenarnya gak harus ke sini kalau cuma mau minta maaf, Sherly. Jaman sekarang ada yang namanya IG, sss, Twitter, dsb. Yeah, bahkan kemarin saat aku kecelakaan, orang yang pertama aku kabari adalah mama kamu. Haha, ternyata mama kamu lebih gaul daripada kamu."
Sial. Itu pasti kode untuk saling tukar nomer telepon kan? Memang sih, keduanya masih malu-malu kucing garong. Si Yoga sudah meraung-raung minta pedekate, tapi Sherly-nya malah sibuk dengan dunianya sendiri.
"Mana ponsel kamu?"
"Buat apa?"
Lah, malah balik gak peka. "Ya katanya aku gak gaul. Meskipun sebenarnya aku yakin kamu pasti sudah punya nomer aku."
Sepede itulah si Sherly. Hana saja malu dengan tingkat kepedean temannya sekarang. Udahlah, obat nyamuk diam aja di pojokan. Biarkan dua insan yang sedang pendekatan nyaman dengan argumen mereka.
"Oh, sebentar," Yoga pun masuk ke kamarnya. Ia bukan tipe manusia yang setiap detik harus memegang gadget. Mau sepenting apa, Yoga hanya akan melihat notifikasi sesekali.
Ia menyerahkan ponselnya, entahlah apa yang akan dilakukan Sherly.
Anehnya, Sherly malah geleng-geleng kepala. Padahal Yoga bukan tipe pria yang mengkoleksi sesuatu yang sangat memprihatinkan.
"Kamu, gak pernah lock ponsel kamu?"
Pria itu menggeleng. Kehebatannya adalah tak pernah menyimpan hal-hal rahasia di ponselnya. "Kenapa harus dikunci kalau semua rahasianya aman sama pemiliknya."
Tak tahu maksud ucapan Yoga, Sherly pun mengembalikan ponselnya. Ia hanya mengecek nomernya di ikon kontak dan benar, pria itu sudah memiliki nomernya, meskipun tanpa nama. Aneh memang.
"Ah iya, di sini itu emang rata-rata jadi nelayan ya?" sambung Hana. Daripada jadi kambing congek, bolehlah sesekali nimbrung.
Yoga pun menjelaskan beberapa profesi yang paling menjanjikan di daerahnya. Mulai dari pedagang dekat pantai, penjual kelapa muda, petani, nelayan, juga pabrik ikan seperti milik ayahnya.
Memang sih, hasilnya tidak seheboh pekerja kantoran di kota. Tapi setidaknya saat mereka suntuk, mata lelah mereka akan terbayarkan dengan berhadapan pada pantai lepas yang membentang luas. Gulungan ombak juga sunset setiap harinya. Keindahan yang tidak semua orang bisa menikmatinya.
"Wah, keren. Nanti kalau lu udah tinggal di sini, lu pasti jadi eksotis kayak mbak Nicki Minaj deh, Sher," ejek Hana.
"Ih, kok gue sih yang kena. Lagian sejak kapan Nicki Minaj jadi mbak lu??
Tahu betul kalau perempuan itu emang masih abu-abu soal hubungan mereka. Tapi Yoga akan melakukan apa yang ia bisa.
"Kalian mau kuajak jalan-jalan, tapi karena sepertinya Sherly udah bosan sama keadaan di sini mungkin aku bisa mengajak Hana. Mau kutinggal atau ikut?"
Tatapannya mengarah kepada Sherly. Sudah jelas dunia tahu kalau Yoga sengaja membawa nama Hana, siapa tahu calon istrinya cemburu gitu.
"Hmm, ikut aja deh. Aku malu nanti kalau bibi Anggi dan om Danu pulang kamunya gak ada."
"Sama mertua sendiri malu," balas Yoga. Sayang sekali Sherly tak terlalu mendengarnya.
Mereka pun meneguk teh buatan Sherly. Yoga sempat mengambil koleksi cardigan ibunya, meminjamkannya pada Hana dan Sherly. Siapa tahu mereka nanti masuk angin karena biasanya jam-jam segini angin pantai memang makin kencang.
"Dia, romantis ya Sher. Yakin gak bakalan oleng sama si brondong?" Bisik Hana.
Dasar provokator. Batin Sherly. Entahlah, dia sendiri tak tahu ke depannya. Yang terpenting tujuannya ke sini sudah tersampaikan dan Yoga pun tidak masalah dengan musibah yang menimpanya karena pria itu sudah menebak siapa dalangnya sebelum Sherly menjelaskannya.
"Yoga, tungguin!"
Pria itu menoleh, menawarkan diri untuk memegangi tangan Hana. Berjalan di pasir memang membuat sebagian kaki merasa berat untuk mengambil langkah selanjutnya. Ia sempat melirik Sherly. Kok manyun gitu, cemburu?