Meresahkan, ya?

1125 Kata
Pantai Wohkudu dari Sleman bisa menghabiskan waktu sekitar 1 jam 38 menit. Sherly tak mungkin tancap gas pulang, lebih-lebih karena semakin malam Jogja dan sekitarnya tak aman. "Di sini saja ya? Nanti kamu bisa izin sama guru kalau bolos kerja sehari. Hitung-hitung temani nenek lah sesekali." Mau berkata apa lagi kalau neneknya sudah bertitah. Lagian, Hana juga terus-terusan memprovokasi agar menginap. Temannya memang paling antusias kalau pergi dadakan tapi berdekatan dengan view sebagus Pantai Wohkudu, kapan lagi coba? Sherly hanya mengangguk. Ia tahu, neneknya sangat sayang kepadanya, cucu yang dari kecil selalu dimanja. "Nek, maaf ya kalau Sherly ada salah." Mengerutkan kening. Keriput di dahi sang nenek makin kentara, Hana sedang sibuk bermain catur dengan kakek Sherly di pendopo, meskipun skill-nya masih amatiran setidaknya kemampuannya tidak sepayah Sherly. "Salah? Apa mengenai Yoga?" cucunya mengangguk, meskipun tidak menolak dijodohkan tapi Sherly takut hasil akhirnya tidak akan seperti harapan dua keluarga. Tangan renta nenek Sarah menepuk pelan bahu cucu kesayangannya. "Gak apa-apa, cah ayu. Yang penting nanti kamu aman sama dia, kata mamamu, banyak pria yang gak bener tapi selalu modusin kamu. Beda kelas kan sama Yoga? Dia itu cekatan, gak pantang menyerah, juga ganteng lagi." Dih, sejak kapan neneknya tahu kata modus, bisa menilai kegantengan dari seorang pria lagi. Mengangguk, tak ada yang bisa dikatakan sekarang. Diam adalah cara paling elegan yang Sherly punya. Karena gabut, ia memilih keluar dan menengok kegiatan sang kakek. Biasanya, kakaknya--Sandy pasti bosan saat kakeknya mengajak catur. Tapi lihatlah sekarang, Hana begitu antusias setelah dijanjikan akan diberi hadiah seikat kepiting besok pagi saat kembali ke Sleman. "Han, gue keliling sebentar ya?" Jari Hana membentuk huruf O tanda mengiyakan, Jalan-jalan dengan Yoga membuat kakinya kelelahan. Lebih baik besok pagi saja sekalian melihat sunrise dari lautan. Malam-malam begini, daerah pesisir anginnya memang menampar pipi Sherly. Damai, padahal suara ombak begitu kentara. "Mari, Cah ayu," sapa segerombol bapak-bapak yang sudah siap dengan alat tempur dan snorkling. Mencari anakam cumi dan juga udang. Memasang umpan di pinggiran. Sherly menunduk, bahkan sempat menghitung berapa orang yang akan masuk ke sisi bebatuan pantai. "Brr!" ucapnya sambil mengusap-usap lengan. Kenapa Sherly bisa lupa membawa jaket ataupun cardigan? Tanpa diduga, sebuah jaket cap perusahaan motor menutupi bahunya. Ia refleks menoleh dan menyadari kalau semalam ini Yoga begitu tampan. Wajar sih mereka bertemu di sini, apalagi di sinilah daerah calon suaminya tinggal. "Maaf. Aku gak tahu kalau kamu bakalan jalan-jalan selarut ini, jadi ya aku bawanya jaket hadiah motor, baru dari muter-muter." It's okey, meksipun gak aesthetic sama sekali tapi setidaknya hangat. Lebih tebal dari cardigan rajut dan anti air lagi. Di kota, jam 9 tidak terlalu malam baginya, masih ramai. Kadang-kadang Sherly serabutan mencari aktivitas terlebih malam minggu. Ingin seperti manusia lainnya yang punya pasangan. Nongkrong di cafe, ngapelin barista handsome, ngabsen para jomblo yang berwajah ganteng. Intinya jangan sampai gabut deh. Mereka berjalan bersisian. Entahlah, mungkin setelah dijodohkan mereka jadi sering ketemu. Yoga mensyukuri itu. "Boleh tanya gak?" sela Sherly. Ia memang suka kesunyian, tapi kalau diam-diaman kayak gini kan sepi juga. "Tanya aja. Seribu pertanyaan dibuka untuk kamu." Sherly sedikit menoleh, sadar kalau alis Yoga berbentuk melintang seperti cacing pita. "Nanti, misalkan kita udah nikah apakah..?" Sama-sama saling menghadap. Ragu sendiri dengan perkatannya. Sial, kenapa gugup begini sih? "Apakah apa?" "Apakah kita akan sekamar?" Ah, Ya Tuhan. Ternyata pertanyaan itu, Yoga pikir apa tadi. Ia hanya mengulas senyum, senyum yang semena-mena mematahkan hati para betina. "Enggak perlu meskipun perlu. Bukan aku ngajarin kita jadi pasutri yang durhaka ya, tapi ya Sher, aku gak seintim itu kok, aku gak seseram yang ada di pikiran kamu. Aku tahu batas meskipun aku punya hak atas kamu. Jadi, gak bakalan ada sesuatu yang kamu khawatirin seandainya kamu memang gak menginginkannya." Sungguh lega. Sherly pikir Yoga akan langsung mengajaknya nananinadududu, berharap hamil, punya anak, nambah lagi, hamil lagi, siklus wanted semua pria setelah menikah. Meskipun tidak salah, tapi Sherly tidak ingin pernikahan yang seperti diatur oleh orang lain. "Kecuali.." Yoga melipat bibir, menggantung kalimatnya dan membuat Sherly penasaran. "Kecuali apa?" tagihnya. Kepala Yoga mendekat, tak ada sekat di antara mereka. Dih, mau modus ya si brondong. "Kecuali kalau kamu memang mau itu," bisiknya mendekat ke ujung telinga Sherly. "MAU APA?!" paniknya. Ya Tuhan, baru bahas dari garis start aja udah ketar-ketir gini. Gimana kalau diajakin goyang? "Gak apa-apa, cuma bercanda. Yuk pulang, muka kamu udah merah itu loh," efeknya lagi. Bahkan Yoga refleks mengacak-ngacak rambut Sherly dengan sengaja. Perempuan itu menghindar, berlari karena hal yang paling ia benci adalah rambutnya rusak. Sudah cukup angin pantai yang membuat rambutnya mengayun sejak tadi. *** Belum pulih kesadaran, Sherly sudah terganggu dengan suara bising dari dapur. Ya, neneknya memang lebih suka memasak dengan tungku, lebih khas rasa liwetan nasinya. "Bangun, itu dikasihkan sama Yoga dan Anggi, kamu belum ngobrol kan sama mertua kamu, Bram juga nanya terus kok calon istri cucunya gak pernah nongol," tunjuk neneknya ke arah alat makan yang sudah lengkap dengan sayur dan lauk, juga sambal. Baiklah, Sherly gegas cuci muka ala kadarnya. Hana sudah pergi entah ke mana, semangatnya minta ampun saat kakeknya mengajak untuk olahraga pagi-pagi buta. Sherly sendiri harus membawa rantang, menuju rumah pria yang jalan-jalan dengannya semalam. Yoga, sebenarnya pria itu punya apa sih? Kenapa dunia begitu memuji dan memuja sampai-sampai Sherly harus menikah dengannya? "Assalamu'alaikum," ucapnya. Melirik ke samping rumah. Sudah ada jemuran yang masih basah, itu tandanya pasti ada orang. "Wa'alaikumsalam." Kebetulan sekali yang membuka adalah Anggi, "Waduh, mantuku, Yoga cerita kamu ke sini. Ayo masuk, dia lagi mandi." Masih sungkan karena bibi Anggi menyebut kata menantu, Sherly memang belum terbiasa dengan panggilan itu. "Ini, ada nasi liwetan dari nenek, Bi." Anggi agak kecewa. Bukan panggilan itu yang ingin ia dengar. "Manggilnya juga couplean dong sama Yoga, ibu gitu. Coba," Eh, sekarang banget? Batinnya. Sherly menelan ludah, menarik napas seakan sedang menjalani tes lisan. "Iya, Ibu." "Nah, gitu dong. Sebentar, ibu ganti rantangnya, sekalian tak cuci ya. Kamu duduk di sini dulu, sarapan bareng. Yoga itu jago masak, dia buat nasi goreng tadi. Ibu juga buru-buru ke pabrik, ayahnya sudah duluan berangkatnya." Hanya diam saja. Anggi sudah masuk ke dapur, bersamaan dengan Yoga yang baru saja keluar dari kamar mandi. Pede sekali pria itu hanya mengenakan handuk yang memperlihatkan kotak-kotak yang menonjol pada perutnya, belum lagi lengannya yang lumayan kokoh. Tetesan air yang masih mengalir dari rambut membasahi bidang dadà. "Sherly, aku ganti baju dulu ya." Diam seribu kata. Ini pertama kalinya Sherly melihat pria yang seterbuka ini penampilannya selain para oppa-oppa Korea. "Sher? Are you okay?" Yoga malah sedikit mendekat, membuat Sherly refleks mundur. Mau bikin senam jantung? "Okay! Sana gih ganti baju, jangan kelayapan kayak gitu!" Tawa renyah Yoga membuat pandangan Sherly membabi buta. Apa ia yakin kalau setelah menikah nanti akan tetap stay cool dan gak ngapa-ngapain kalau suaminya se-indah dan se-handsome itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN