Usai menemani sarapan, Sherly harus pamit. Ia ingin pulang tidak terlalu siang, malas berpanas-panasan dengan sang surya.
Belum lagi, merasa tak enak kalau menginap lebih lama. "Aku pulang dulu,"
"Oke. Salamin sama nenek Sarah, liwetannya enak."
"Iya, nanti disalamin. Aku juga mau pamit."
Eh, secepat itu? Belum terlalu lama Yoga bincang-bincang dengan calon istri, bicara dari mata turun ke jantung, melintas sampai ke hati, semoga.
Tapi, baiklah. Ia tahu, dunia Sherly tidak hanya memikirkan perjodohan mereka. Toh, cepat atau lambat status mereka akan benar-benar resmi. Tunggu waktu saja.
Ditatapnya perempuan berambut sebahu, menenteng rantang. Dari dulu, meksipun dari belakang, Sherly tetap saja menawan.
***
Mandi sudah, ganti baju sudah. Syukurlah, Sarah masih menyimpan baju-baju Wulan--mama Sherly. Setidaknya Hana dan Sherly tidak memakai kostum kemarin. "Temanmu nungguin siapa?"
Yeah, sejak tadi Hana mondar-mandir di depan. Ditanya malah kelihatan grusa-grusu, seolah tak ingin diganggu.
Dari kejauhan, motor CB model lama berdiri tepat di depan rumah sang nenek. Sherly kenal pria itu, Alif--pacar Hana. Ini maksudnya apa? Pulangnya Sherly harus jomblo ngenes gitu? Ngawal pasangan yang lagi bucin-bucinnya?
"Assalamu'alaikum," ucap Alif. Memarkir motor dan menghampiri Hana. Ini pasti keusilan Hana disengaja. Ya, pasti!
Mereka semua menjawab salam. Sherly sudah memasang badan ngajak baku hantam, menatap kesal pada Hana maupun Alif. "Kalian sengaja janjian kencan ya? Jahat lu, Han!"
"Lah, nenek Sarah gak bilang? Padahal gue udah ngobrol sama kakek lu loh, Sher. Gue males ah gantian depan, jauh tahu! Lu aja naik motornya pelan banget, ngantuk! Gak ada sensasi-sensasinya!"
Dih, memangnya ini uji nyali harus ada sensasi-sensasinya. Apalagi Gunungkidul jalannya memang zig-zag. Hana saja angkat tangan karena kemampuan motornya payah, tapi aneh sih, menyetir mobil malah udah bisa.
Tapi, sebenarnya apa rencana Hana yang disetujui kakek Atmaja? Atau jangan-jangan.. Ah, no! Sherly tidak sampai mikir ke situ.
Baru dibathin saja, orang yang ada di pikirannya sudah stand by. Rapi, dari pangkal sampai ujung. Ngalahin aktor ternama. Dasar Hana kamprét!
"Nah, orangnya udah dateng." tunjuk Hana.
Sesenang itu Hana melihat Yoga. Untung Alif sudah terbiasa dengan tingkah sang pacar yang selalu tersihir dengan ketampanan cogan.
"Janji kakek buat kamu, satu iket kepiting. Masih segar baru beli di pemasok," ungkap Atmaja. Entahlah, kakeknya juga sumringah dengan ide gila Hana.
"Kamu juga tahu rencana mereka? Hm?"
Yang paling menyebalkan bagi Sherly adalah, Yoga terlihat tak tahu apa-apa saat sarapan tadi.
"Aku gak tahu, kakek Atmaja yang mau. Lagian, lumayan kamu gak perlu capek-capek nyetir. Hana udah cerita kemampuan naik motornya, memprihatinkan."
Gelak tawa dari Alif tanda setuju. Itulah mengapa ia dengan senang hati sepagi ini sudah ada di pantai. Bagi seorang pria, punya waktu untuk menjemput, mengantar, mengawal dan selalu ada bukti bahwa pria itu bisa dipercaya dan diandalkan.
"Ya tapi kan aku gak mau ngerepotin kamu," kata Sherly beralasan.
Duh, membayangkan mereka semotor. Dengan jalan berkelok-kelok, pasti banyak modusnya si brondong.
Sudah pamit sejak tadi, Sherly akhirnya mau menuruti ide jahil Hana. Sempat tak setuju sekali lagi, kasihan juga Yoga harus bolak-balik Gunungkidul - Sleman - Gunungkidul.
Tapi pria itu tak masalah, punya kenalan banyak di Sleman. Gampanglah!
Dengan memberanikan diri, Sherly menyerahkan kunci motornya. Ia sudah duduk di belakang Yoga. Memasang helm, melambaikan tangan pada kakek dan neneknya.
***
"Kamu beneran gak mau nyusul Hana dan pacarnya?"
Dilihat dari kaca spion, sudah pasti Sherly menolak. Dasar, gak setia kawan kalau udah sayang-sayangan. Bisa-bisanya Hana malah putar haluan, katanya mau mampir di destinasi yang tengah viral.
Kalau diladenin, bisa-bisanya Sherly gak bakalan pulang.
"Oke kalau gak mau." tanpa disadari, Yoga tersenyum sendiri di balik helm yang menutupi. Bisa berdua, semotor begini sangat nano-nano rasanya.
Sama-sama diam, Sherly tak punya pembahasan. Harusnya, sebagai pria Yoga mestinya membuka ruang percakapan dong. Jangan cuma bicara saat ditanya saja. Memangnya hubungan mereka cuma buat sesi tanya jawab aja.
Tapi, 15 menit berlalu, Yoga tetap diam. Mungkin fokus dengan jalanan. Sherly sendiri selalu membatasi diri agar tidak sampai menempel punggung Yoga. Ia tidak kolot, biasanya nemplok setiap ngapel sama pacar. Masalahnya, Yoga bukan siapa-siapa. Jadi siapa-siapanya kalau udah sah.
"Kamu tahu gak perbedaan kamu sama barang - barang yang dibawa sama abang kurir?" Yoga mencoba memberi pertanyaan random.
Sedikit menyerong, melihat ke arah depan. "Hmm, gak tahu. Ini kamu pasti mau ngerayu kayak Andre Taulany kan?"
"Haha, enggak. Aku gak semahir itu kok," katanya.
"So?"
"Jadi, kalau abang kurir ngebiarin barang yang dibawanya tetap stay di belakang. Tapi kalau kamu kan bukan barang. So, bisa pegangan? Aku sebenarnya bisa aja ngebut, tapi dengan jarak aku dan kamu kayak gini, jujur gak imbang beratnya."
Tuh kan, entah modus atau apa? Tapi permintaan Yoga ada benarnya juga. Sherly duduk sangat berjarak. Membuat Yoga merasa berat motor yang dikendarainya terasa lebih berat muatannya di area belakang.
"Aku harus maju dan pegangan?"
"Perlu diajarin?"
"Ah, enggak. Aku bisa sendiri, kamu fokus depan aja."
Sherly mulai maju, mendekatkan kedua paha dan merapatkannya pada kaki Yoga. Kedua tangannya terayun dengan sengaja, sedikit mengulur dan mulai mencengkram hoodie pria yang ada di depannya. Sedikit demi sedikit, Sherly memberanikan diri.
'Mana bisa aku fokus dengan yang lain kalau ada kamu di belakangmu Sherly.' Ucapnya dalam hati.
Hening lagi. Benar-benar sunyi, hanya suara simpangan motor, mobil, kendaraan lainnya yang beradu kecepatan. Yoga pun kadang menyalip. Ia pengendara yang handal.
Karena gabut, Yoga iseng bernyanyi.
"Pepuja neng ati, nanging koe ngerti..
Koe sing tak wanti-wanti ..
malah jebul saik koe mblenjani janji
Jare sehidup semati nanging opo bukti,
Kowe medot tresnoku demi wedokan liyo..
Yowes ora popo Insya Allah aku iso, lilo..
Meh sambat kali sinten, yen sampun mekaten.. Merana uripku. Hok a hok e!"
Kaget, Sherly tak kuasa mencubit pinggang Yoga. Pria itu mengaduh, memang benar ya, cubitan kaum hawa selalu maut.
"Apaan sih, Sher. Kalau aku oleng gimana?"
"Ya kamu, ngapain nyanyi lagu itu. Nyindir aku?"
Bisa-bisanya pikiran Sherly se-dramatis itu? Padahal emang nyindir sih aslinya. Yoga juga tak suka kalau Sherly masih saja memikirkan barisan mantan yang dikasih hati eh malah ngelunjak minta jantung, paru-paru sampai ke usus-ususnya.
"Ya iseng aja kok, suer. Lagian, lagu itu asyik, kamu mah sukanya bahasa Korea. Kan?"
"IYA! KENAPA? Rasain aja, kalau kita nikah, lagu Korea yang bakalan jadi santapan kamu setiap hari. Wle!"
It's okey, tak masalah. Asalkan hidup seatap dengan Sherly, Yoga rela menjalani kehidupan dengan gaya apa saja.
"Gak apa-apa. Bukan berarti aku anti, cuma emang belum suka aja. Kalau kamu sendiri, mau jadi santapanku juga gak?"
Kalau bukan karena jalan yang sedikit curam, sudah dipastikan Sherly bakalan mencubit lengan Yoga sesakit-sakitnya. Meskipun sakit tapi tetap nagih, gimana dong?
____
Cerita ini eksklusif hanya ada di Dreame/ Innovel.
Jika kalian menemukan cerita ini dan dipublikasikan secara tidak bertanggung jawab, baik berupa pdf, ebook, video, foto dan lainnya bisa dipastikan itu adalah hasil curian. Saya sebagai penulis sampai mati pun tidak akan mengikhlaskan. Kehidupan penjual dan pembeli bajakan tidak akan berkah sampai ke akar-akarnya.
Ingat, seburuk-buruk karya sendiri lebih mulia daripada karya plagiasi. Terima kasih, salam hormat. Salam dunia literasi.
Chusnaavaro.