Karena merasa tak enak harus sering berkunjung ke rumah om Prima, Yoga berinisiatif untuk mengantarkan Sherly sampai di depan gerbang saja.
"Aku nggak mampir ya, meskipun emang terkesan nggak sopan tapi aku nggak enak aja, takut kamu kenapa-napa mikirnya."
Lah, PD banget sih! Siapa yang memikirkan siapa coba? Padahal Sherly malah leluasa karena si brondong tidak ke rumahnya, apalagi jam segini sudah pasti orang tuanya sibuk degan kegiatan rutin mereka.
"Nggak laper? Meskipun kemampuan memasakku gak se-chef kamu, setidaknya bisalah buat telur ceplok, atau dadar juga bisa. Nanti aku suruh bibi yang buatin."
Yoga menggeleng, itu sih sama aja bukan hasil tangan Sherly. Ia tak ingin berlama-lama. Menunggu Go-carnya sampai. "salemin ke tante Wulan aja kalau putrinya selamat sentosa sampai di rumah bersama supir dadakannya."
Baiklah, tapi Sherly tak berjanji akan menyampaikannya. Mereka sama-sama berjalan ke arah yang berbeda, pada detik berikutnya keduanya sama-sama menoleh, Yoga sedikit menyunggingkan senyum dan Sherly pun membalasnya.
Rasanya, ada sesuatu yang berkembang pesat di hati Yoga sekarang, sesuatu yang biasa disebut manusia jatuh cinta.
***
Sepulang dari Sleman, Yoga yang memang hanya leha-leha di kamarnya, mulai merapikan barang-barangnya. Ia akan tinggal beberapa bulan di Jakarta, lagi. Dan mungkin saja, statusnya sebentar lagi akan berubah. Dadah, jomblo!
Memikirkan perjodohannya dengan Sherly, kadang di otaknya selalu berpikir. Apakah Sherly tak ada rasa sedikit pun tertarik dengannya?
Notifikasi membludak, ia sering mendapat pesan ucapan selamat makan, selamat istirahat dan quotes-quotes bucin lainnya. Entahlah, padahal seingat Yoga, ia bukan tipe pria yang menyebarkan nomer dan akun pribadinya.
"Sherly udah pulang ya?" tanya Danu.
Memandang ayahnya yang sudah pulang dari pabrik. "iya, kebetulan tadi aku anterin dia."
"Kamu belum bilang kalau sebentar lagi kalian akan bertunangan? Udah mepet loh, Ga waktunya," kata Danu mengingatkan.
Di kamus hidupnya, Yoga tak akan maju lebih dulu kalau masalah beginian. Biarkan orang tua dan para sesepuh keluarga saja yang mengurusnya.
"Diam, tandanya belum. Kenapa? Kamu takut dia menolak?"
Menggeleng, menutup koper yang sudah dibenahi. "bukan, Yah. Hanya saja, Yoga gak mau terkesan menjadi pria yang menuntut. Apalagi ini adalah perjodohan. Pertanyaan kapan, apakah dia udah siap, terdengar seperti tuntutan. Biarkan saja Yoga mengikuti jalan yang ada."
Sepasrah itulah Yoga. Satu hal yang pasti, ia tahu kalau Sherly tidak akan menolak perjodohan yang sudah dijanjikan oleh dua keluarga.
Danu memilih keluar, menutup pintu. Entah perasaan apa yang dipunya oleh putranya terhadap calon menantunya nanti, semoga saja hubungan mereka untill Jannah sehidup semati.
Karena lumayan capek, akhirnya Yoga mulai berbaring. Heran, dari banyaknya chat kenapa tak ada pesan dari perempuan itu. Sherly Sheiladaisa, sebenarnya apa kehebatannya? Kenapa Yoga sampai bisa tak menggubris banyaknya kaum hawa di sekitarnya hanya demi menunggu Sherly membalas perasaannya. Ia percaya, cinta akan selalu menemukan jalan pulang bagi pemiliknya.
Tapi, Lagi-lagi semesta membuat Yoga kali ini benar-benar bersyukur. Satu pesan singkat padat jelas membuatnya memekik keras.
Siapa lagi kalau bukan dari Sherly kesayangannya?
"Udah gak jaman basa-basi kan? But, thank you."
Sekali lagi Yoga membaca pesan itu, senyum mengembang di permukaan bibirnya. "It's okey, aku tunggu traktirannya."
Dari tempat yang berbeda, jelas-jelas Sherly langsung manyun. Maksudnya si brondong minta dibayar atas kebaikannya gitu? Dih, sama calon istri aja gak ikhlas.
Tapi baiklah, Yoga adalah pria yang gak banyak bicara. Sekali bicara, merambat ke mana-mana. Teman yang asyik dan juga, tampan.
"Ini kamu minta diajakin makan?"
"Wah, gak nyangka. Kamu ngajak kencan? Oke, kapan dan di mana tentuin aja, waktuku longgar selonggar-longgarnya." balas Yoga.
Kenapa sekarang Sherly malah sering dipertemukan oleh Yoga entah sengaja atau tidak? Sejodoh itukah mereka?
"Haha. Jangan bikin asumsi yang enggak-enggak dong. Kencan itu buat sepasang, antara wanita dan pria, terikat dalam suatu hubungan. Efek jomblo bikin kamu nge-halunya ketinggian ya?"
Ya Tuhan! Ingin sekali Yoga memperjelas kalau hubungan mereka sebentar lagi lebih jelas daripada yang pacaran dan cuma gombalan janji-janji manis doang.
Yoga bukan pria romantis, tapi ia bisa belajar menjadi seperti itu dengan caranya sendiri. Terlebih, membayangkan mereka seatap, tentunya sebagai pria ia sudah memikirkan bagaimana caranya membuat pasangannya bisa membuka hati.
"Kan sudah kubilang, aku gak pernah pacaran. Gak pernah tahu kencan yang sebenarnya tuh modelnya kayak gimana, rasanya kayak apa, efeknya macam mana, tapi nanti kita kan resmi jadi pasangan yang sah secara negara dan agama. Yang kutahu, ada yang lebih menegangkan daripada kencan."
Sherly mengangkat alisnya, maksudnya apa sih si brondong? Kalau ngomong pasti harus diterjemahin dulu deh sama bahasa manusia. Muter-muter kayak drone.
"Plis, aku gak sepinter kamu ya! Maksudnya apa sih? Apa yang menegangkan? Aliran listrik kali tegang!"
"Menambah populasi manusia. Kalau kamu tahu biologi tentang reproduksi, pasti tahu jawabannya apa."
What! Dasar mesúm!
***
Sudah terlanjur punya janji untuk mentraktir Yoga, akhirnya Sherly bersiap-siap meskipun ini adalah hari weekend dan libur untuknya. Tetapi yang namanya janji tetaplah janji, harus dijunjung tinggi bukan?
Saat semalam ngobrol ngalor ngidul dengan kakaknya yang jarang banget pulang, ia kaget bukan main. Acara pertunangan dipercepat, ya! 3 Hari lagi!
Demi apa? Meskipun sejauh ini Yoga memang tak punya nilai negatif di matanya, tapi perasaannya belum tumbuh. Bekas putus dengan mantan pun masih tersisa, nyempil malah!
"Biasanya kamu gak pernah ribet kalau jalan. Baju seadanya, kenapa hari ini heboh sih?"
Mendapat komentar tentang penampilannya, sekali lagi Sherly bercermin. Ah, enggak kok! Sandy aja yang gak pernah update sama anak-anak selebgràm.
Suara mobil masuk ke halaman rumahnya membuatnya yakin kalau itu adalah Yoga.
"Yang serius ya kencannya. Dari perut, nyangkut di mata. Terus turun ke hati, tumbuhlah benih-benih cinta, eaaaa!"
"Berisik. Kamu tuh Kak, cari pacar lah! Jomblo kok dirawat," cibir Sherly.
Sandy masa bodoh. Ia kembali menarik selimut, shif malam membuat jam tidurnya harus dilunasi sekarang. Kayak hutang aja.
Menutup pintu, memelankan langkah takut ada orang rumah yang mengetahui kalau Sherly pergi dengan Yoga. Tapi mungkin mereka akan tahu sendiri karena pak satpam selalu laporan.
"Nunggu lama?" tanyanya.
Dilihat dari atas sampai bawah, Yoga terlihat berbeda. Biasanya pria itu selalu memakai hoodie, mirip sekali dengan cogan kampus semester 4 ke atas. Tapi sekarang, memakai kemeja yang dulu pernah dipilih Sherly saat menemani pria itu belanja, oke, hari ini mulut Sherly harus mengakui Yoga benar-benar masuk list pria ganteng yang pernah dilihatnya.
"Jalan sekarang?" ajaknya.
Tanpa disuruh, Sherly sudah masuk ke mobil Yoga, melihat pria itu yang juga mengikutinya. Mereka sudah keluar dari halaman rumah, tak tahu akan ke mana.
Baru setengah jalan, Sherly terkejut saat si brondong rem mendadak. "Dih, kalau mau mati jangan ngajak pasukan dong!" rutuknya.
"Maaf, kamu sih, kenapa ceroboh banget," ungkapnya.
"Ha?"
Yoga menepikan mobil, melepaskan seatbeltnya sebentar dan memasangkan seatbelt milik Sherly. "Aku cuma mau benerin ini,"
Lagi-lagi semesta membuat Yoga menang banyak. Tatapan mereka beradu, bertemu, bersatu.
"Oh, a-aku gak tahu. Lupa." ucap Sherly setelah pria itu kembali fokus menyetir. "Hmm, kamu tahu gak kalau sebentar lagi acara pertunangan kita akan di..?" tanyanya menggantung, mengurangi kecanggungan.
Yoga hanya mengangguk.
"Terus, kenapa enggak beri tahu aku?"
"Karena aku selalu menjawab ya setelah kamu."
"Maksudnya?"
"Aku akan mengikuti apa yang kamu setujui, kapan dan apa saja kemauanmu. So, aku hanya diam meskipun tahu. Lagian kamu juga bakalan tahu kan?"
Ah, benar juga. Tapi kenapa Yoga terkesan pasrah? Seakan, pria di sampingnya tak punya suara dengan pilihan hidupnya.
"Sebenarnya aku takut Yoga, aku takut dengan status kita. Status baru kita nanti, juga kehidupan kita ke depannya."
Cahaya matahari sedikit menyilaukan kaca depan, Yoga menutup sebelah matanya. Kembali fokus, khas dengan ekspresi datarnya.
"Kebetulan, aku adalah orang yang gak takut dengan apa-apa, kecuali Tuhan ya. Mulus enggaknya hubungan kita nanti, aku pastikan kamu baik-baik saja Sherly, denganku."
Ucapan si brondong membuat Sherly makin mantap untuk berganti status tahun ini.