Tunangan

1095 Kata
Hanya dihadiri kerabat terdekat, teman terdekat dan orang-orang tertentu saja. Sherly sudah memantapkan hati untuk mengiyakan segala acara kepada keluarganya. Mulai dari dress apa yang akan dia pakai malam ini. "Anak mama cantik banget, bikin pangling. Apalagi nanti kalau kamu nikah ya, tambah ayu tenan." Sherly memang bukan perempuan yang menjunjung tinggi soal kecantikan. Dia bahkan hanya sering memakai lip balm saat bepergian. Yang penting mah, skincare rutin tetap jalan. Setelah memastikan penampilannya sekali lagi, ia pun keluar dan menemui keluarga Yoga. Pria itu juga memakai pakaian yang warnanya serupa dengan apa yang dipakainya. Pasti ini rencana mama dan juga tante Anggi. "Sini dong, jangan mojok doang. Kakak mau poto nih buat kenang-kenangan." Sandy menyebalkan sekali, belum tahu kalau dari tadi adiknya memang menghindari supaya tidak banyak yang menatapnya. Tapi usahanya tetap gagal. Bagaimanapun juga hari ini dialah objek utamanya dengan Yoga. Acara tukar cincin pun dimulai, Yoga sendiri akan melanjutkan sesi lamaran tepat saat pernikahan mereka akan mendekati. Semuanya sudah dibicarakan. Tinggal menunggu waktunya saja. "Laper gak?" tanya si brondong. Bisa-bisanya pria itu pede banget menyerong ke arahnya, mendekat dan bahkan rasanya Sherly geli karena suara Yoga yang memang bikin gagal fokus. "Aku udah makan. Dan juga, kamu bisa geseran dikit nggak sih," gerutunya. "Gak bisa, Sher. Di samping kita udah ada keluargaku dan keluargamu yang mengapit. Aku di sini saja, gak mau geser ke mana-mana. Tuh, kita dilihatin dari tadi, kamu jangan masang wajah gak enak gitu dong." Satu kata untuk si brondong, NYEBELIN. Oh, jadi ini pria yang dibilang kakeknya bakalan membuat hidup Sherly berwarna? Redup iya! *** Lega. Akhirnya acara selesai dan sekarang waktunya untuk membersihkan sisa-sisa make up. Sherly paling tidak betah dengan polesan bedak, concealer, foundation dan lainnya. "Halo, Sher. Kamu ada di dalam?" Bukankah itu suara Yoga? Katanya pria itu dan keluarganya menginap di hotel? Kenapa masih ada di sini sih? Sherly membuka pintu kamar mandi keluarga, beruntung ia sudah selesai dengan urusannya. "Apa? Aku capek." "Laper," rengek Yoga. Dih, emang dengan pasang wajah melas gitu Sherly bakalan luluh gitu? "Terus? Maksudnya kenapa harus bilang aku dulu? Ya laper tinggal makan dong, masalah gitu aja kamu enggak bisa selesaiin." Sherly berusaha pergi, tapi dengan beraninya Yoga malah menahan tubuh perempuan itu dengan kedua tangannya ke tembok. Sungguh! Ini adalah momen paling tak disangka. Bisa-bisanya si Yoga gak takut kalau dimarahin Sandi ataupun papa Sherly karena terlihat ingin ngapa-ngapain calon istrinya sendiri. "Di rumah sepi, kayaknya mereka mau ngerayain acara kita tapi malah lupa sama kita. Aku kelaperan dan aku butuh teman makan. Masa aku makan sama bibi? Abangmu juga kayaknya keluar tadi, pak satpam udah kenyang. Satu-satunya orang yang bisa kuajak makan adalah kamu bukan?" Pedenya selangit! Sherly akhirnya berhasil keluar dari kungkuman Yoga. "Ya kan kamu bisa ngajaknya baik-baik Yoga, ga usah nempel-nempel kayak tadi dong." "Siapa yang nempelin kamu, bukan nempelin Sher, tapi ngajakin. Ya udah, aku tungguin di meja makan ya." Padahal Sherly belum mengiyakan ajakan Yoga. Meskipun mereka sekarang masih berada di atap yang sama tetapi Sherly memang belum terbiasa dengan keberadaan pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Tadinya Sherly ingin sekali merampungkan urusannya, sibuk dengan skincare rutin dan langsung tancap tidur, ingin bangun pagi karena sudah beberapa hari ini ia libur mengajar. Baiklah, Sherly juga lumayan lapar. Siapa tahu si brondong bakalan berbaik hati membuatkan sesuatu untuknya seperti waktu itu. Katanya kan pria itu jago masak. 10 menit kemudian, Sherly kembali turun dan melihat Yoga benar-benar sibuk dengan urusan potong-memotong. Baru dibatin, udah peka aja. "Beruntung kamu udah dateng. Karena acara tadi nasinya lumayan sisa banyak, aku jadiin nasgor aja. Kamu, gak apa-apakan meskipun itu nasi sisa?" "Tapi masih bisa dimakan kan?" Sherly nggak seribet itu kok untuk urusan makan, tapi karena Yoga yang mengajaknya, dia pun tidak ingin berinisiatif untuk membantu. Males juga untuk terjun langsung ke dapur, apalagi setelah memakai SkinCare. Dengan teganya Sherly malah haha-hihi scroll tik-tok. Aplikasi yang sedang digandrungi seluruh dunia dengan daya tariknya. "Aw!" pekik Yoga. Ia tak sengaja menyayat ibu jarinya saat memotong bawang merah. Lah, kan ada blender, kenapa mau yang ribet sih? Sherly pun menghampiri dan mematikan kompor sebentar. "Tangan kamu gak apa-apa?" "Gak apa-apa, kamu duduk aja nanti tinggal makan." Ini nyindir atau gimana sih si Yoga karena sejak tadi Sherly hanya duduk manis tanpa membantunya? "Ini yang kamu bilang gak apa-apa?" Sherly menarik jari Yoga, melihat ada darah segar mengalir tanpa mau berhenti. Tanpa pikir panjang, ia pun menarik Yoga, menghisap darah, mengeluarkannya dan mengajaknya untuk membasuhnya dengan air dingin. Tanpa sadar pula, jantung si brondong terus-terusan berdetak lebih heboh dari biasanya karena perlakuan manis dari Sherly. "Kamu aja yang sekarang duduk, sisanya biar aku lanjutin." "Tapi..?" bukannya meragukan kemampuan memasak perempuan itu, tapi Sherly sendiri yang mengaku tidak bisa masak. Meskipun Yoga sangat sayang terhadap calon istrinya tapi ia juga sayang dengan kondisi perutnya semisal rasa masakan Sherly tidak sesuai dengan lidahnya. "Santai. Aku gak buta-buta amat kok, bisa bedain mana garam mana gula. So, gak usah masang muka nyebelin kayak gitu seolah aku bakalan racunin kamu." Bete juga dianggap payah. Tapi kan kodrat perempuan gak harus mahir di dapur, kaum hawa memang melakukan pekerjaan rumah sebagai tanda cinta bakti terhadap keluarga dan juga suami mereka. Akhirnya Yoga tetap berdiri, memantau apa saja yang dimasukkan Sherly. Menghimbau dan memberi arahan seberapa banyak cabai, bawang merah, putih, micin, gula dan garam. Oke, bisalah dikasih nilai 7, setidaknya dari bau saja Yoga bisa memperkirakan kalau nasi goreng buatan Sherly bisa dimakan. "Tambahin kecap lagi gak? Siapa tahu kamu suka yang gelap." "Aku memang suka gelap-gelapan sih," candanya. Dih, malah ngaco. Sherly sudah mematikan kompor, menuangkan masakannya ke atas dua piring. Membawanya ke meja makan, jangan lupakan krupuk dan bawang goreng. Makan nasgor gak bakalan lengkap tanpa toping tersebut. "Silakan dimakan tuan sok sempurna. Semoga setelah ini kamu kapok makan masakanku." Sherly bodo amat dengan rasa masakannya. Tapi harus diakui, nasgor yang sudah masuk ke mulutnya lumayan bisa diterima oleh lidah, pedas dan asinnya pun imbang, tidak terlalu dominan hanya dengan satu rasa saja Melihat Yoga terus makan, tanpa memberi komentar membuat Sherly sedikit lega. Dia tuh laper apa doyan sih? Berharap dinilai masakannya, Sherly pun memasang wajah dramatis. "Hei, aku tanya kamu tahu enggak sih dari tadi. Masakanku gimana rasanya?" Yoga berusaha menelan suapannya, ia bernapas sebentar, meneguk air dan menghela berpikir panjang. "Nasi goreng buatanmu persis dengan nasi goreng pertama yang aku buat dulu. Tapi santai, enak kok, cuma kepedesan." "Ya kalau gak suka pedes kenapa tetap dimakan?" "Gak enak sekalipun tetap aku makan kok, aku sayang perutku sih, tapi aku lebih sayang kamu." Uweekk, mau muntah tolong! Kresek mana kresek?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN