Padahal keluarga Yoga sudah pulang, kakek nenek saja pamit lebih awal. Kenapa si brondong masih haha-hihi di rumahnya?
"Nah, itu dia Sherly. Sini, sarapan sekalian. Hitung-hitung latihan nyiapin sarapan buat calon suami."
Trik apa lagi yang dimiliki Yoga, bisa membuat mamanya jadi luluh begini? Padahal, setiap pria yang mendekati putrinya, seolah Wulan selalu memberi nilai merah. Tak pernah lulus seleksi.
"Aku mau pemanasan dulu, Ma. Tinggal aja, ada yang pernah bilang sama aku kalau olahraga itu bisa bikin awet muda," cibirnya.
Ah, ternyata Sherly ingat juga saat dulu diajak jogging oleh Yoga. Lumayan, setidaknya ada hal positif yang bisa diambil darinya.
Perempuan itu sudah keluar, mencari ke mana perginya kak Sandy. Biasanya sih jam segini masih molor. Tapi, kamarnya kosong. Malas juga gembar-gembor kalau tidak ada jawaban.
"Kak Sandy di mana, Mang?"
"Oh, Den Sandy di belakang. Ngurus ikan-ikannya."
Langsung ke TKP. Memang sih, satu-satunya hewan yang tidak merepotkan dirawat adalah ikan. Segera Sherly menghampiri Kakaknya.
"Dih, dicariin. Ternyata jomblo temenannya sama ikan ya?"
Menoleh, kembali fokus ke ikan-ikannya. "Siapa tahu di antara mereka ada yang jelmaan putri, lumayan kan aku bisa manfaatin sisiknya biar jadi permata."
Hah! Gila! Sherly mendekat. Memang sih, belakang rumahnya sedikit rimbun. Harus melewati kolam renang dan masuk pekarangan. Banyak bibit tanaman yang belum ditanam di tanah lapang. Masih kokoh di dalam kresek hitam.
Baru saja berjalan, ia hampir terpleset. Bebatuan penuh lumut membuat kakinya tidak imbang.
Hap! Bukan Sandy dan mamang, atau bahkan pak satpam yang menangkapnya. Rengkuhan tangan Yoga menahan Sherly beberapa detik. Ia tidak menolak ataupun menghindar. Nyaman juga.
"Ehm!" suara pengganggu membuat Sherly langsung sadar dan kembali menegakkan badan.
"Kamu gak apa-apa?"
"Gak apa-apa. Makasih," canggungnya. Segera Sherly ikut nimbrung, memberi taburan makanan ikan. Entahlah, ikan jenis apa saja yang Sandy pelihara?
Sandy memang tak pernah memperdulikan Sherly mau diapakan Yoga. Malah ia sering memberi tips-tips solution untuk mendekati adiknya.
Baginya, Yoga benar-benar golden ticket. Shalat subuh gak pernah bolong, jamaah di masjid pula. Beda kelas sama dirinya, denger adzan malah pura-pura hilang ingatan. Eits, kadang-kadang ya.
"Bau asem ya, Kakak balik ke kamar dulu mau mandi. Nih, kasih makan, hitung-hitung ngasih lu beban sebelum nikah."
Tanpa menunggu jawaban, Sandy berlalu begitu saja. Lebih baik membiarkan Sherly dan Yoga berduaan biar makin akrab.
"Bisa ngasih makan kan?"
"Tunggu, itu pertanyaan? Kamu ngeremehin aku mentang-mentang kamu punya pabrik ikan?"
Dasar, sukanya suudzon sama calon suami. Yoga langsung menghalangi Sherly, mengambil alih tugasnya dan menaburkan makanan.
Aneh, apa lucunya sih ikan-ikan itu? Kenapa pakai senyum segala?
"Kamu gak kesambet setàn di sini kan?"
Yoga menggeleng. Memutar sisi kolam, tertib dan menyeluruh. "Kalau ada setàn di sini, berarti itu kamu, Sher."
Sialan! Sok kecakepan banget sih! Ya meskipun benar-benar cakep sih. Bahkan, Hana mengakui kalau calon suaminya bisa jadi rebutan di kampus dulu semisal mereka masuk di angkatan yang sama.
"Makhluk hidup itu semuanya harus dibaikin, Sher. Gak cuma manusia aja, tapi hewan, dan tumbuhan juga. Kalau kita ngasihnya sepenuh hati, mereka juga bakalan senang kan? Memangnya yang punya perasaan dan bisa baper cuma kita doang?"
Tunggu-tunggu. Kenapa merembet ke 'KITA?' aneh rasanya karena Sherly tidak mengakui sedekat itu dengan Yoga. Entah dengan waktu nanti di masa depan.
Perasaannya dengan Bimo masih sakit hati. Rasa jomblonya tidak juga menyiksanya meskipun sebentar lagi masa lajangnya akan segera usai. Gila sih, gak nyangka Sherly akan menikah dan menjadi istri orang.
"Apa maksud kamu bilang kita? Kamu nuduh aku baper sama kamu? Dih, amit-amit."
Gak enak memang punya perasaan sepihak. Tapi Yoga yakin, slow but sure. Gak ada yang gak bisa dia lakukan, mendapatkan hati Sherly harus sesabar Zulaika mendapatkan cinta nabi Yusuf.
Pelan-pelan menuju tujuan. Di tepian, Yoga akan menaburkan kasih sayang, baik bisa dilihat orang atau tidak terungkap sama sekali.
"Ya aku kan gak ngomong gitu maksudnya. Aku memisalkan, Sher, karena cuma ada kamu dan aku di sini, juga ikan-ikan ini."
Oh, begitu. Sherly pikir si brondong mengira dirinya sudah jatuh hati. Dia benar-benar tak tahu dengan tujuannya. Pertemanan mereka pun masih seumur biji jagung.
Setelah menuntaskan tugas dari Sandy, Sherly berbaik hati mengajak Yoga keliling rumah. Masih tersisa banyak waktu untuk bersiap-siap ke sekolah.
"Nanti mau dianterin?"
"Ke mana?"
Sambil melihat-lihat bibit tanaman dan membaca jenis nama tanamannya, Yoga ikut mengikuti jejak langkah Sherly. Membiarkan kakinya kotor menginjak tanah liat.
"Ke sekolah tempat kamu mengajar. Aku penasaran," usulnya.
"Sama sekolahnya?"
Pria itu tertawa sebentar. "Enggak, aku lebih penasaran bagaimana cara kamu mengajar, bagaimana cara anak-anak itu tidak takut berhadapan dengan bu guru yang super jutek ini."
Memangnya wajah Sherly kelihatan judes ya? Padahal, mantan-mantannya sering memuji kalau Sherly baby face, manis dan sedap dipandang. Apa ada yang salah dengan penglihatan Yoga?
"Santai. Aku jutek cuma sama kamu doang. Beneran."
Setelah berkeliling sampai ujung, Sherly berbalik badan. Menyuruh Yoga memimpin jalan, mencangking sandal yang sudah menggunung tanah liat yang menggandul.
Dari belakang, harus diakui. Yoga memang lebih kekar dari mantan-mantannya. Sempat terbesit di otaknya, apakah Yoga selalu ikut kelas fitness atau rutin nge-gym saat di Jakarta?
"Sher, tahu gak? Gak baik kesel sama orang. Kalau lama-lama kamu bisa suka sama dia." Yoga berhenti, sedikit menoleh ke belakang membuat perempuan yang mengikutinya ikut berhenti.
"Maksudnya, aku bakalan suka sama kamu, gitu?"
"Bisa jadi. Orang yang gak pernah pacaran belum tentu gak laku ya."
"Sombong, sok ganteng deh."
Lagi-lagi tawa Yoga benar-benar terdengar menyebalkan. Ini dia lagi ngeremehin pasti, dasar sok ganteng!
***
Bersiap-siap ke sekolah, Sherly beneran diantarkan Yoga. Pria itu pun sudah mandi, rapi. Mungkin sekalian blabas pulang ke Gunungkidul kali ya?
"Ma, aku berangkat dulu ya!"
Mengelus puncak rambut putrinya sebentar. "Iya, digandeng dong Yoganya, biar kalian mesra gitu. Ya kan, Ga?"
Glek! Apa? Bergandengan tangan? Pria itu sempat melirik ke arahnya. Haruskah? Tapi demi apa coba? Menjunjung tinggi soal kemesraan?
Hal yang paling menyebalkan untuknya adalah tanggal pernikahan sudah ditentukan. Intinya akhir-akhir bulan berikutnya. Rasanya waktu terasa merenggutnya terlalu cepat.
"Gak deh, Ma. Takut dia ke-gr-an."
Sherly langsung berjalan, menyuruh Yoga tidak menuruti perintah mamanya. Tapi, si brondong dengan pedenya malah menarik tangannya dan menyelipkan setiap jemari-jemari kokoh miliknya.
"Eh?" kaget Sherly.
"Kenapa? Kamu gak bakalan jantungan kan karena pegangan tangan doang? Gak dong pastinya, apalagi mantanmu lebih dari satu."
Ya ampun. Maunya apa sih si brondong? Nyindir kalau Sherly punya banyak mantan? Terus masalah buat dia gitu?
Beda lagi dengan Wulan yang senang putrinya bisa akrab, meskipun dengan tampang yang menakutkan.