Cepat-cepat Sherly menepis tangan Yoga. Segera mensterilkan jemarinya, seolah baru saja terinfeksi kuman. "Tukang modus kelas kakap! Gini yang kamu bilang jomblo?"
Sherly buru-buru memasang sealtbelt. Ia takut Yoga modus lagi seperti waktu itu. Brondong banyak tingkah memang.
"Hanya membiarkan mamamu tidak menilai kita kaku, Sher. Hitung-hitung pemanasan, kabar yang didengar saat nikah nanti kita gak cuma pegangan tangan doang."
Yoga nyengir kuda, tidak merasa perkataannya bisa membuat pipi Sherly merona. Tentu saja perempuan itu tahu betul apa yang dimaksudkan Yoga. Bukankah dulu brondong itu pernah bilang tak akan melakukan hal-hal di luar batas kecuali memang keinginan bersama bukan sepihak saja?
Memilih diam, tangannya iseng memutar lagu. Otomatis terputar alunan lagu-lagu lawas Dewa 19. Oke, lumayan juga seleranya.
Sama-sama fokus dengan hal yang berbeda, tangan Sherly hanya memangku dagu, menatap ke arah luar jendela. Sleman tidak sedingin Gunungkidul.
"Semua kata rindumu, semakin membuatku.. Tak berdaya.. Memendam rasa kerinduan, percayalah padaku.."
Yoga tidak jadi melanjutkan lirik selanjutnya. Padahal, kalau boleh jujur suaranya enak didengar. Apalagi ia pernah tahu Sandy dan Yoga berbincang-bincang sambil main gitar. Aneh, se-sempurna itu kenapa gak pernah pacaran sih?
"Kenapa berhenti nyanyinya?"
Pria itu sedikit menoleh, "yeah, kamu gak ikutan sih. Siapa tahu kita bisa duet, collabs di Youtubé dan trending. Viral, jadi terkenal juga banyak uang. Diundang jadi bintang tamu. Lumayan kan?"
Hampir saja Sherly menertawakan kehaluan Yoga yang melangit tinggi. Bisa-bisanya ya!
"Jangan ngawur. Meskipun aku suka musik tapi gak mau juga jadi penyanyi, cukup jadi penikmat lagu aja."
"Hanya bercanda. Jangan terlalu serius, hidup aja yang serius kamunya jangan."
Mereka sudah sampai di depan sekolah. Ingatan tentang Bimo terputar sesaat. Bagaimana ya kabar si kampret itu? Batin Yoga.
Sherly langsung keluar dan melangkah masuk ke kelasnya. Bahkan tidak menyuruh Yoga ikut. Terserah, kan bilangnya cuma nganterin doang.
Setelah menyapa anak didiknya, Sherly pun seperti biasa, mengabsen satu-persatu. Rindu sekali dengan mereka. Mungkin bisa dibilang ini adalah sebagai bentuk perpisahan.
Dari seluruh 18 anak didik, semuanya berubah menatap ke arah pintu. Ada apa?
"Kamu?"
Lihatlah sekarang? Yoga berdiri di ambang abang pintu dengan mengcangking dua kresek berwarna putih ukuran jumbo.
"Ha-lo, se-la-mat pa-gi." Yoga menaruh dua kresek itu di lantai, memindai setiap sudut, setiap orang, juga setiap tatapan yang mengarah kepadanya.
"Pa-gi." jawab mereka serempak.
Si brondong mendekati satu-persatu dan menyebut nama. Menatap Sherly, memberi isyarat apa kekuarangan dari setiap anak. Meksipun tidak mahir-mahir amat, Yoga tidak buta gerakan isyarat.
"Mereka normal pendengaran, Ga. Hanya saja cara menangkap informasi dan pelajaran yang memang lambat, bukan tidak bisa."
Ah, begitu. Yoga kembali maju, membuka salah satu kresek dan menunjukkan isi yang ada di dalamnya.
"Mainan?" tanya Sherly lagi.
"Iya. Anak-anak seperti mereka lebih mudah paham dengan praktek, bukan teori, Sher."
"Oke, aku paham. Tapi skip slime ya, ada yang pernah keracunan soalnya."
Baiklah. Yoga mulai membagikan pada setiap anak. Ada senyum yang mengembang di hati Sherly, baginya jarang ada pria yang ramah begini.
Ia pun ikut membantu, bertanya apakah mereka menyukainya atau tidak. Mereka pun antusias menyambut dengan hangat.
Permainan dimulai, dari berhitung, menebak, membentuk lingkaran, dan hal-hal seru lainnya.
Lelah bermain dan belajar, Yoga kembali membuka kresek satunya. "Ini adalah susú rendah lemak. Ada roti juga pancake, mereka tidak pilih-pilih makanan kan?"
"Tidak. Terima kasih ya, maaf merepotkan."
"Sama-sama. Boleh aku mengatakan sesuatu?"
Sherly diam. Apa yang akan dikatakan Yoga? Pernyataan cinta? GR! Please, jangan sok cantik, Sherly, kamu bukan seorang putri apalagi bidadari.
"Saat di sini, kamu jauh lebih terlihat seperti manusia. Tidak seperti biasanya yang lebih mirip penyihir jahat dalam tokoh Disney."
Sialan! Meskipun benar, tetap saja Sherly keberatan. Tapi baiklah, karena berkat adanya Yoga juga ide cerdiknya, Sherly membiarkan si brondong berpikir apa saja tentangnya.
Ia ikut membagikan snack yang dibawa Yoga, menghitung rata, membantu anak-anak didiknya menikmatinya. Bahkan, tak juga lupa membagi ke kelas-kelas yang lain.
Rasanya lega, juga bahagia. Melihat banyak tawa, beban seolah tak ada juga tatapan ringan dari mereka. Sherly ingin sekali mengajak mereka keluar dari zona tak nyaman yang dinamakan kesempurnaan. Bagaimanapun juga, mereka berhak bahagia dengan versi sempurna mereka sendiri.
"Pak Yo-ga! Aku su-ka su-su va-ni-la!"
Yoga menyerahkan apa yang anak tadi lantangkan. "Ini, su-dah Pak Yo-ga tu-sukk-an se-do-tan-nya. Se-la-mat me-nik-ma-ti ya!"
Audy mengangguk. Langsung menyeruput dan memamerkan apa yang ia minum kepada yang lainnya. Bahagia selalu saja sederhana.
***
"Makasih ya, Bu, berkat anda Audy jauh lebih ceria hari ini," ungkap Riri--mama Audy.
Sherly mengelus puncak kepala anak didiknya, mengantarkan sampai masuk mobil.
Lega rasanya, hari ini banyak tawa dan juga kebahagiaan. Semua ini berkat Yoga.
"Pulang sekarang? Udah sepi nih," ajak Yoga kembali.
Tunggu, bukankah sekarang waktunya Yoga pulang juga? Pulang ke tempat tinggalnya. Bukan bentuk pengusiran, hanya saja Sherly merasa tidak ingin terus-terusan merepotkan calon suaminya.
"Hmm, aku harus membuang sampah. Tadi kelupaan, kamu duluan saja."
Sherly berjalan lagi, masuk kelas dan menyapu. Meskipun sudah ada pak tukang bersih-bersih, tapi tak apa bukan? Kebersihan adalah sebagian dari iman.
Tapi pria itu juga tidak pulang, ikut memungut dan memastikan setiap laci apakah ada sampah yang tertinggal.
"Kalau boleh tahu, kenapa kamu tertarik menjadi pengajar mereka? Dari jurusan yang kamu pilih sepertinya kamu bisa mendapatkan yang lebih tinggi dari seorang pengajar."
Ya, benar sekali. Bahkan Hana sempat merekomendasikan tempat-tempat yang menjanjikan. Gaji fantastis juga bonus melimpah.
Tapi bukan itu poinnya. Hidup bakalan terasa sia-sia jika sampai hari ini yang paling dijunjung adalah hanya tentang jabatan dan uang. Seperti kata Yoga tadi, Sherly jauh lebih terlihat manusiawi saat berada di antara anak-anak didiknya. Itulah mengapa alasannya tetap mengajar di sini.
"Karena cuma dengan begitu aku tahu makna hidup. Gak selalu emas itu selalu berkilau, bahkan baja hitam saja tetap mempesona. Bagiku, mental mereka sekuat baja. Ya kan?"
"Setuju. Ini biar aku yang buang, setelah itu kita cari makan dan mengantarkanmu pulang."
Tidak, tidak. Ini sudah jam berapa? Sherly tak mau lagi hal yang dulu dialami Yoga terulang kembali. Meskipun Bimo sudah meminta ampun, tapi rasanya tidak fair membiarkan Yoga pulang sendiri.
"Kamu tahu kan, rasa bersalahku itu masih ada sejak tahu kamu kecelakaan? Jadi, aku bisa pulang sendiri dan kamu juga bisa pulang. Bukan ngusir.. Hanya saja.."
"Khawatir? Kamu mencemaskan calon suami, hm?"
Sherly mencebik. Respon yang berbeda dengan ekspresi yang berbeda pula. "Enggak, jangan ge-er. Ya takut kalau kamu oleng lagi."
"Ya makanya do'ain biar selamat sampai tujuan."
"Emangnya gak hapal doa bepergian sampai nitip doa segala?"
Ckck! Dasar! Inilah sifat Sherly yang lebih mirip penyihir di tokoh Disney. Yoga yakin sekali sama persis.
"Santai. Aku akan seribu kali lebih fokus, ayo pulang. Serius aku ngajaknya, atau jangan-jangan kamu nunggu mantan kamu seperti waktu itu? Tepat di sini bukan waktu aku memukulnya?"
Sherly mengangguk malas. Kenapa bahas mantan sih! Yang udah ya udah! Gak perlu diangkat ke permukaan lagi, buang-buang tenaga aja.
Akhirnya Sherly membiarkan Yoga membuang sampah. Menunggu pria itu mencuci tangan dan akhirnya ikut lagi masuk ke mobil.
Sepertinya menolak pria itu dalam setiap ajakannya bukan perkara yang mudah.
"Sher?"
"Hm?"
"Kamu.. kenapa merasa bersalah waktu aku terluka?"
Duh, ingatan si brondong tajem banget sih. Setajem silét.
"Ya karena siapapun dia yang terluka karena aku, tetaplah aku merasa gak enak. Siapa pun orangnya gak mesti kamu."
Yoga manggut-manggut. Berbelok arah, mengikuti petunjuk. Ia rindu gudeg, sepertinya makanan itu akan menjadi menu makan siang hari ini.
"Baiklah. Kalau gitu buang rasa bersalahmu dengan satu syarat."
Perempuan itu menoleh, menunggu kalimat selanjutnya dari Yoga terucap. Pun pria itu sama-sama menoleh.
"Jangan jadikan pernikahan kita sebagai suatu kewajiban karena kamu disuruh menikah. Tapi jadikan pernikahan kita sebagai jembatan untuk kamu tidak terluka lagi dari siapa pun."
Glek. Maksud si brondong apa sih?