Pahlawan?

1165 Kata
Seperti tersampar petir, Sherly yang baru saja makan malam langsung ditagih penilaian tentang sikap Yoga selama beberapa hari ini saat di Sleman. Bahkan, semua orang di meja makan antusias penuh semangat. Dia merasa ambigu, bisa-bisanya semua orang merelakan sesi makan malam hanya demi mendengar tentang sosok Yoga dari mulut Sherly. Tapi yang ditanya malah cuek bebek, dengan santainya tetap melanjutkan makan. Rasanya, perut Sherly jauh lebih penting daripada si brondong sok kecakepan itu. "Sher, mama sedang nunggu jawaban kamu, woy!" Sandy bahkan menghentikan perjalanan sendok yang hampir masuk mulut sang adik. Oke, cukup. Ini sangat menyebalkan. Siapa sih yang gak kesal kalau diganggu saat makan? "Ma, habiskan dulu makanannya. Lagian, dia gak ada sesuatu yang bisa kunilai. Puas?" Terburu-buru pergi dari meja makan, akhirnya Prima dan Wulan hanya bisa menghela napas panjang. Membiarkan putri semata wayangnya melakukan apa saja. Masih terlalu baru untuk menanyai tentang kedekatan mereka. Hubungannya dengan si brondong masih kentang. Sherly beranjak dari kursi, memungut piringnya sendiri diikuti Sandy-sang kakak. Pria yang jiwa kekepoannya membara melebihi siapapun. Sama-sama mencuci piring, Sherly bahkan beradu sejak tadi dengan sang kakak. Pria yang entah mengapa masih jomblo sampai sekarang itu, sibuk menggeser tubuh Sherly agar kesulitan untuk membilas cuci piringnya. "Apaan sih, Kak? Nyebelin!" "Kamu tuh, ditanya juga. Eh, by the way, Yoga anaknya super rapi banget ya? Kemarin waktu aku masuk kamar, beuh.. kayak gak kenal sama kamar sendiri. Kamarku jadi rapi plus bersih banget. Dia kan kata papa tidur di kamarku waktu aku lembur shif malam." Usai dari cuci piringnya, Sherly terdiam sejenak. Tunggu, lalu siapa yang menggendongnya ke kamar malam itu kalau kakaknya saja tidak pulang. Papa? Atau bahkan Yoga? Ah, membayangkan pria itu dengan beraninya mengangkat tubuhnya. "Dek, kok bengong? Itu loh, tangan kamu bisa membeku!" "Ah, iya!" Akhirnya tak mau ambil pusing. Terserah apa yang sudah terjadi. Sherly tak mau memikirkannya. *** Mendengar alarm terkutuknya berbunyi, Sherly dengan hati-hati mengamati ponsel dari kejauhan. Pantulan cahaya dari benda pipih warna hitam itu sering membuat matanya tak tahan dengan keadaan yang masih sepagi ini. Ya, Sherly memang sering memasang alarm jam 6 pagi. Karena ia harus terburu-buru, mulai bangun, membersihkan kamar kadang-kadang dan mandi plus sarapan. Belum lagi dandan ala kadarnya, tak mungkin juga Sherly memoles wajah berlebihan. Ia hanya pengampu di beberapa sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus. "Sher, sarapan bareng gak?" Suara mama membuat kesadaran Sherly memenuh. Ia memilih sarapan belakangan. "Nanti aja, Sherly ditinggal gak apa-apa. Akhirnya perempuan itu pun mulai meregangkan otot, menarik tirai di kamarnya dan melihat sinar matahari mulai menyapa. Oke, let's go! Semangat menjalani hari. 1 jam berlalu, dia sudah cantik dengan blouse dan juga rok span warna senada. Sedikit mengucir kuda rambutnya. "Ah, semoga ada hal baik terjadi." Mandi, udah. Dandan, udah. Oke, lanjut sarapan. Ingin meringkas waktu, Sherly hanya membuat roti selai dan minum segelas air putih. Pamit dengan terburu-buru, meminta pak supir andalannya mengantarkan ke tempat mengajar. Ia lupa mengisi bensin hari ini. Setelah kuliah, Sherly memang mengabdikan diri menjadi pembimbing untuk anak-anak yang tidak seistimewa anak lainnya. Tapi bagi Sherly, ia sangat bahagia karena bisa berbagi pengalaman dengan orang tua yang terkadang terlalu tidak mensyukuri anak-anak mereka yang tak sempurna, padahal istimewa di matanya. "Makasih ya, Pak Burhan. Saya masuk dulu." "Nanti dijemput gak, Neng?" Pikir-pikir, mungkin gak perlu. Toh, Sherly ingin jalan-jalan sebentar ke pusat kota. "Nggak, Pak. Nanti saya kabari lagi deh." Sherly keluar dari mobil, berjalan dan tersenyum ramah ke arah anak-anak yang sudah mengenalnya. "Selamat pagi, murid-murid kesayangan ibu." "Pagi!" balas mereka serempak. Sherly mengabsen, mendekati satu-persatu. Total di sekolah tempatnya mengajar adalah 3 kelas, dibagi mulai usia 7 sampai 10 tahun. Masing-masing kelas terdiri dari 18 siswa. Ia membuka buku, menatap satu-satu anak didiknya. Memutar kembali ingatan mereka tentang pelajaran sebelumnya. Mereka kadang menunjukkan sikap kebingungan, banyak bertanya, kadang juga melihat ke sisi jendela, berharap orang tua mereka masih stay menunggu mereka. "Audy, ada kesulitan?" Gadis kecil yang memiliki keanehan sulit bicara itu menggeleng, tapi jarinya menunjuk pada buku. "Hrrhhh.. hhhhhaaaa!" "Ah, ini. Jadi, bilangan ini ditambah dengan bilangan sebelumnya. Mari ibu ajarkan," Sherly mempraktekkan dengan jari-jarinya. Hampir tiga kali ia mengajari Audy. Sherly lanjut mendekati murid lainnya. Tak terasa, waktu terus melibas kegiatan Sherly. Ia pun harus ke kelas berikutnya sampai siang. Tak terasa, jam-jam pulang pun terlewati. Baiklah, Sherly pun berdiri, menunduk sopan pada ibu-ibu para muridnya. Dulu, saat Sherly masih datang ke tempat ini, banyak sekali para ibu yang mengutuk anaknya, mengutuk Tuhan, seakan malu dengan keadaan anak mereka. "Bu, duluan ya!" suara bu Gina menyadarkannya. "Iya, Hati-hati, Bu." Seandainya rumah mereka satu arah, sudah pasti Sherly akan ikut nebeng. "Ah, kenapa susah sekali terkoneksi dengan Go-car sih?" Bahkan Sherly sampai mengangkat ponsel, berharap ada sinyal dan pencarian kendaraannya berhasil. Nihil! Pada jam-jam segini, biasanya pak Burhan pasti tidur siang, terlalu hafal jadwal supir dan satpam di rumahnya. "Sherly. Ah, ternyata benar kamu di sini." Tunggu. Suara itu, suara yang tak ingin Sherly dengar. Ya Tuhan, kenapa pria itu muncul lagi? Siapa lagi kalah bukan si playboy tebar pesona sana-sini. "Kamu? Ya, Bimo Aldiantara. Pria yang dengan tega mengkhianati kepercayaan Sherly, malah memilih haha hihi dengan barista. "Ya, ini aku. Aku kelimpungan mencari kamu. Tapi sayangnya, aku gak berani ke rumah kamu karena.." "Takut sama papa? Ckckck! Udahlah, jangan sok perhatian. Bukankah sudah gak ada lagi apa-apa di antara kita, Bim?" Ah, sepertinya Sherly harus mensterilkan mulutnya karena menyebut nama pria brengsék itu. Najong! "Tapi kenapa? Apa salahku sampai kamu menghindar begini? Nomer kamu gak aktif, sosial media juga gak pernah online. Hana bilang, dia gak tahu kamu di mana? Aku jelas gak percaya!" Cukup! Terlalu basi mendengar penjelasan sampah dari pria yang tak bermutu untuknya. Eh, jadi Bimo mencarinya sampai tanya-tanya ke Hana? Kenapa Hana gak cerita apa-apa? Mungkin temannya memang tak ingin Sherly mengingat mantan lagi. Lagian, Sherly memang sudah berniat untuk tidak tergoda dengan pria yang mengajaknya sekedar pacaran. Diajak serius, langsung tancap gas, kabur! "Terserah. Minggir, kamu menghalangi pemandangan." Gak, Bimo gak mungkin menyerah. Bahkan ia merengkuh kedua bahu Sherly, mencoba menekankan kata balikan. "Duniaku hampa tanpa kamu, Sher. Please, kumohon kita balikan, oke?" Semudah itu, Ferguso? Jelas tidak! Sherly bukan perempuan yang gampang luluh. "Biarin aku menjalani hidupku, begitu pun dengan kamu, pria pembohong. Kita selesai." "No! Aku dan dia hanya sebatas teman. Kita bahkan sudah gak kontekan sejak kamu marah." Haha, terus Sherly harus setuju dan bilang Wow gitu? "Gak ada yang namanya teman tapi nyosor di setiap tempat, ya! Ih, minggir gak! Aku mau nyari taksi!" Dengan cekatan Bimo menarik tangan Sherly, memaksa mantannya untuk ikut naik motornya. Pemaksaan ini namanya. Tenaganya jelas jauh beda, Sherly hampir saja berteriak karena tak suka ditarik-tarik seperti ini. Sampai pada akhirnya, seseorang yang sangat tak diduga datang layaknya pahlawan, pangeran bermobil putih, bukan kuda putih ya. Ya, Yoga, si brondong itu dengan beraninya menghalangi Bimo yang hampir mendudukkan Sherly di jok motornya. "Sekali lagi anda menyentuh dia, anda berurusan dengan saya." Tajam, setajam silét. Dingin, penuh keberanian. Sherly bahkan kaget, kenapa si Yoga ada di depannya? Gak lagi nge-halu kan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN