Ternyata ide untuk naik bukit tidak buruk-buruk amat. Tapi Sherly menikmatinya. "Hmm, terima kasih untuk liburannya," Sherly tak bisa menyembunyikan ke-haruannya. Tepat di depannya, pria bernama Yoga tersenyum bahagia. Senyum pertama kali paling tulus yang pernah ia lihat selama mereka dekat. Kepulangan pria itu menjadi tanda tanya besar bagi Sherly tentang ucapan Yoga. Ah, semoga saja akan ada hal baik yang terjadi nanti, ya, semoga saja. *** Hari-hari berjalan sebagaimana mestinya. Sherly hanya bisa menantikan hari kapan dia akan menikah. Sudah hampir dua minggu ini Sherly tidak melihat Yoga. Pria itu menjauh bak ditelan bumi. "Kesibukanmu hanya rebahan, Dik?" "Kenapa? Gak suka! Cari pacar sana! Ganggu aja orang lagi halu." Sandy berlalu, matanya gatal melihat Sherly yang ngan

