Rasanya memalukan sekali. Belum pernah Sherly ke pasar lokal dan membeli pakaian dalam ditemani Yoga lagi, tapi ya gimana? Namanya kebutuhan. Sialan, brondong itu selalu saja merepotkan. Kenapa sih syarat dimaafkan harus sampai seribet ini? "Udah?" "Iya. Pulang yuk, aku lapar." "Tunggu, itu kode minta ditraktir makan atau kamu minta dimasakin?" "Terserah." Sepertinya bukan Yoga saja yang bisa ngambek, Sherly pun mulai memunculkan tanduknya. Ia tidak betah berjalan kaki lama-lama. Bukan gaya karena masuk pasar lokal, hanya saja luasnya memang tak kira-kira. Daerah tempat tinggal neneknya memang terbilang masih pedesaan. Bahkan beli apa-apa saja tidak selengkap saat di Sleman. "Kita berangkatnya ke bukit itu kapan? Aku baru tahu di Jogja ada bukit, gak seperti naik gunung kan? Awas

