Empat

641 Kata
Dokter segera memeriksa kondisi ibu. Sementara kami bertiga menunggu dengan cemas. Wajah lelah namun penuh harap besar tergambar jelas disana.  "Bagaimana dok?"  "Alhamdulillah pak, sepertinya kondisi Ibu mulai mengalami perkembangan. Melihat respon yang ditunjukan semoga ini tanda yang baik."  Kami menghela napas lega, rasanya sebuah beban berat terangkat sudah.  "A... a.. aya... " Aku terkejut mendegar suara yang lebih mirip rintihan itu.  "Mbak, Ibu..." Mbak Asya yang juga tak kalah terkejutnya segera menghampiri Ibu untuk mamastikan kalau suara itu keluar dari mulutnya.  "A.. a.. aya... " "Iya bu, ini Asya. Anak ibu." Katanya sambil mengengam tangan ibu.  "A.. a.. aya."  Aku mengernyitkan dahi, Aya. Kenapa ibu bisa panggil Mbak Asya Aya? Tunggu, kenapa nama itu seperti familiar. A.. Aya... Tunggu, kenapa nama itu sama dengan nama gadis yang sering datang di mimpiku.  Bapak menepuk pundak Mbak Asya.  "Kenapa Sya?" "I..itu Pak. I..i..ibu sebut nama Aya." Sekilas nama raut terkejut di wajah tua Bapakku. Lantas ku dengar istigfar keluar dari bibirnya. Dokter masih sibuk nemberikan instruksi pada asistennya yang langsung di catat di buku yang dia bawa.  "Jangan di ajak bicara dulu ya Bu. Kita tunggu dulu perkembangannya satu jam kedepan ada perubahan atau tidak. Saya tinggal dulu." Tanpa menunggu jawaban dari kami dokter dan perawat itu segera keluar dari ruangan.  "A.. aa.. ya.." lagi kalimat itu keluar dari bibir Ibu yang pucat.  Bapak dan Mbak Asya segera menyeret kursi dan mendekatkan ke ranjang.  "Bu, Ini Bapak sama anak-anak. Ini Asya dan itu Agung." Katanya lembut sambil mengusap kening Ibu yang berkeringat. Mata yang tertutup itu pelan-pelan terbuka dengan lambat.  "A.. aa.. Aya...," lagi, kalimat itu. Namun kali ini disertai dengan air mata yang mulai menetes dari sudut matanya. Nama itu. Siapa sebenarnya yang Ibu maksud.  "Bu, ini Asya Bu." Kali ini Mbak Asya mencoba berbicara dengan Ibu.  "Sya.. Aa.. Aya.." Air mata itu semakin deras, Mbak Asya juga tampak buru-buru menghapus butiran bening yang keluar dari matanya. Bapak mengeleng, meminta Mbak Asya untuk tak lagi mengajak Ibu bicara.  "Ibu istirahat dulu ya. Jangan mikir yang aneh-aneh. Biar cepat sembuh." Di betulkannya selimut yang tidak rapi itu. Dengan tisu di hapusnya tetesan air matanya. Meski mencoba menolak tapi Bapak memaksa Ibu untuk memejamkan matanya.  Ku pandangi bergantian raut muka Bapakku dan Mbakku, mungkin efek obat Ibu yang kondisinya belum begitu baik akhirnya tertidur. Menyisakan kami bertiga.  "Apa maksud perkataan Ibu, Mbak?" Hening. Tak ada sahutan. Mbak Asya malah merebahkan diri di sofa panjang dengan perlahan.  "Siapa yang disebut Ibu tadi Pak?" Tanyaku setengah tak sabaran. Aku paling malas berteka-teki seperti ini. Bapak meraup wajahnya kasar, di tinggalkannya aku dan dia memilih duduk di kursi yang dekat dengan ranjang.  "Jadi tidak ada yang mau bicara." Ucapku kesal menahan emosi.  "Istirahatlah Gung! Sudah malam. Besok kita bahas masalah ini." Jawab Bapak tanpa melihatku sama sekali.  Ada apa ini sebenarnya. Gadis dalam mimpiku itu juga bernama Aya. Ibu yang baru sadar dari pingsannya juga memyebut nama yang sama. Apakah mereka satu orang yang sama? Kenapa raut wajah Bapak dan Mbak Asya berubah murung mendengar nama itu.  Esok paginya aku yang sudah bersiap meminta penjelasan harus kecewa, Bapak menghilang sedari Subuh, Mbak Asya masih setia dengan membungkam mulutnya. Sementara jam sembilan aku sudah harus berada di sekolahan untuk mengajar. Dengan penuh kecewa dan tanda tanya akhirnya aku memilih pulang. Mandi dan bersiap berangkat kerja.  "Kamu nggak dinas?" Tanyaku begitu sampai dan ku lihat istriku Arina masih sibuk dengan tanamannya.  "Bentar lagi mas. Gimana kondisi Ibu mas?" Dia meletakan alat siram tanamannya dan mengikutiku masuk ke dalam rumah.  "Ibu sudah sadar." "Alhamdulillah, trus sekarang gimana mas?"  "Dia belum bisa di ajak bicara, hanya saja,, "  "Hanya saja, kenapa mas?" Tanyanya penasaran karena aku sengaja mengantung kalimatku.  "Hanya saja Ibu terus saja menyebut nama seseorang Rin."  "Nama seseorang? Nama siapa mas?"  "Aya."  "Astagfirulloh" kali ini aku sungguh terkejut dengan respon Arina. Sungguh ini hal yang aneh. Ada apa sebenarnya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN