Tiga

695 Kata
"Kenapa itu muka? Pagi-pagi kok udah lemes aja." sambutan yang lumayan hangat tapi nyatanya belum cukup menghangatkan hatiku. Tanpa menghiraukan Andi yang sibuk mengikutiku segera ku ambil kursi dan mendudukinya.  "Mimpi lagi?" pertanyaan kedua pagi ini. "Ibu masuk Rumah Sakit." jelasku, kulihat wajahnya terkejut.  "Ibu mu? Kapan? Kok bisa?" heran. Jelas. Selama menjadi temanku dia sangat tahu kondisi keluargaku. Ibu sangat jarang sakit.  "Kemarin. Pulang sekolah itu Bapak nelepon ngasih tahu Ibu pingsan di kamar mandi. " "Ya Allah.." serunya penuh kecemasan. "Terus sekarang gimana kondisinya ?" Aku menghela napas berat, menarik resleting tas dan mengambil laptop di dalamnya.  "Ibu belum sadar Ndi. Om Indra bilang ibu kena stroke." Mendengar kondisi Ibu Andi juga shock, wajahnya pias. Di paksanya tubuhnya duduk di kursi depan mejaku.  "Nanti siang aku ikut ke Rumah Sakit ya." Aku mengangguk menanggapi permintaannya.    Seperti rencana tadi pagi, pulang dari ngajar aku langsung menuju ke Rumah Sakit bersama Andi. Dalam perjalanan aku sempatkan membeli makan untuk kakakku yang sedang menjaga Ibu. Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam. Tak ada pembicaran menarik yang biasanya mengiringi kebersaman kami kali ini. Mbak Asya sedang menelpon saat aku memasuki kamar perawatan Ibu, Bapak tak nampak disana. Entah beliau sedang dimana. Mungkin di mushola.  Ku pandangi wajah Ibu, guratan-guratan tuanya tak mampu mengikis wajahnya yang masih kelihatan cantik.  Kudengar Andi sedang berbincang, saat ku toleh tampak Mbak Asya sedang menyapanya, sepertinya acara menelponnya sudah selesai.  "Makan dulu Mbak? Tadi aku belikan nasi padang." kataku seraya mengangsurkan plastik yang ku bawa. "Makasih Dek. Kamu sudah makan Gung, Ndi? " "Sudah tadi Mbak. " Dokter masuk ruangan bertepatan dengan Mbak Asya yang menyelesaikan suapan nasinya. Tampak mereka memeriksa, dan melakukan beberapa tindakan yang tidak aku tahu itu apa. Bapak datang menghampiri kami yang sedang menunggu penjelasan dari dokter.  "Bagaimana dokter? Kondisi Ibu saya?" Tanyaku setelah dokter itu selesai dengan pekerjaannya.  "Kondisi Ibu sudah mulai membaik hanya saja kita harus menunggu sampai beliau sadar untuk mengetahui apakah serangan stroke yang beliau alami berdampak apa."jelasnya sambil menginstruksikan sesuatu pada asistennya.  "Jadi kita hanya bisa menunggu saja dok?" Tanyaku lemas. "Betul Pak. Menunggu sambil berdoa semoga Ibu segera di beri kesehatan." "Terima kasih dokter." Suara Bapak memecah keheningan yang sempat tercipta.  "Kalau begitu saya tinggal untuk memeriksa pasien lainnya. Jika ada apa-apa langsung hubungi kami ya pak." Kami hanya mengangguk tanpa berniat mengeluarkan sepatah kata.  "Bapak makan dulu ya. Ini tadi Agung bawain nasi."  "Bapak sudah makan tadi Sya. Nanti aja."  Mataku menatap jam dinding yang bertenger di atas ranjang rawat Ibu, jam 3 sore waktu yang tertera disana.  "Mbak aku ke mushola dulu ya." Pamitku yang ternyata juga diikuti Andi.  Dalam sujudku tak lupa ku mohon kesembuhan untuk Ibuku, wanita pertama yang mencintaiku tanpa syarat. Kunci surgaku. Masih teringat jelas bagaimana rasa sayang dan pedulinya padaku dan Mbak Asya. Ibulah yang selalu menjadi orang pertama yang mendengarkan segala keluh kesah kami.  Selesai sholat Asyar aku dan Andi kembali ke ruang perawatan Ibu. Seperti biasa mbak Asya menyuruhku pulang dan tak perlu memcemaskan kondisi kesehatan Ibu. Aku bergegas pulang, karena ada Andi yang perlu ku pulangkan juga. Tapi malam ini aku berniat untuk kembali lagi Rumah Sakit. Mbak Asya menatapku kaget saat habis Isya aku sudah berada di ruangan ibu.  "Kamu besok apa nggak ngajar kok kesini?" Tanyanya sambil membersihkan sofa yang ada di ruangan ini.  "Masuk siang mbak." Jujur tubuhku juga sangat lelah pulang balik kesini. Entah karena AC atau memang aku yang sudah tidak mampu menahan kantuk segera saja mataku terpejam.  Aku seperti berada di halaman belakang sekolahan, entah sekolahan mana. Langit senja tampak indah dari sini. Dari kejauhan seorang gadis berseragam SMA berlarian mendekat ke arahku. Wajah itu terasa tak asing. Dia semakin mendekat, dua langkah lagi sampai di hadapanku. Langkahnya berhenti, di tatapnya wajahku dengan ekspresi yang sulit aku artikan. Tak ada sepatah kata yang keluar dari bibir nya, hanya sebuah seringai dan bisikan kecil di telingaku, sebelum akhirnya dia berlari dengan cepat meninggalkanku sendirian..  "Ayaa.... "  "Gung, bangun! Agung."sebuah tepukan keras mendarat di pipiku. Aku tersentak kaget, buru-buru menghirup udara secepatnya. Belum juga terkumpul semua kesadaranku sebuah suara lemah terdengar.  "A.. a..ya..."  "Ibu.." sedetik aku dan Mbak Asya berpandangan sebelum akhirnya kami segera berlari menghampiri ranjang Ibu.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN