bab 01. Undangan.

769 Kata
*** "Kak Xena(read:Sena), ada surat untuk Kakak." Aku menerima sebuah amplop yang di sodorkan oleh Lana. Dia adalah teman seruanganku, aku bekerja di salah satu perusahaan yang cukup terkenal. Perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan, dan juga Travelling. Aku sendiri bekerja sebagai sekertaris dari pemilik perusahaan. Dia adalah wanita yang usianya tidak jauh dariku, kami adalah teman saat Kuliah, dia Senior di jurusan ku dulu. Dan sekarang, dia menjadi atasanku. "Terima kasih." Tak lupa ku ucapkan terima kasih pada Lana. Dia anak magang yang baru satu bulan bekerja, kinerjanya bagus untuk ukuran anak magang. Surat yang dikirim oleh Loopsy, dia temanku saat di kampus dulu. Aku memang jarang memiliki teman. Tidak, bukan jarang, melainkan aku memang tidak memiliki banyak teman. Teman dekatku hanya Mikaila yang sekarang menjadi Bosku, dan Loopsy yang katanya akan menikah dengan seorang pengusaha batu bara. Surat yang dikirimkannya untukku ini adalah surat undangan. Dia akan menikah satu minggu lagi. Benar-benar mengagumkan temanku itu. "Alta, bisa keruanganku sebentar. Ada yang harus kamu urus." Suara interkom yang terhubung langsung dengan ruangan Mikaila terdengar. Aku segera membalas dengan berkata 'Ya," dengan singkat. Sampai di ruangan Mika, dia tampak menatapku dengan senyuman yang menghias bibirnya. "Ada apa Bu?" "Jangan formal gitu, kita 'kan hanya berdua." Beginilah Mikaila jika di kantor hanya ada aku dan dia. "Baik, ada apa?" aku kembali bertanya. Tentu saja aneh, melihat dia tersenyum begitu cerah. "Siang nanti, aku akan pergi ke acara makan bersama dengan seseorang. Undur semua jadwal yang ada." "Seseorang? Tumben sekali, siapa dia?" aku duduk di sofa ruang kerjanya. Mika segera menyusul dan duduk di sampingku. "Satria. Kamu ingat dia 'kan?" tentu saja aku ingat. "Dia senior yang dulu itu 'kan?" "Ternyata kamu ingat. Dia mengajakku makan siang, setelah itu kami akan pergi sebentar." "Jadi itu alasannya, kamu membatalkan semua jadwal sore ini." Mika tersenyum, memamerkan sederetan gigi putihnya yang dia rawat dengan baik. "Lain kali, kita pergi berdua." "Tidak perlu menyogok. Aku akan urus masalah yang kamu timbulkan. Itu 'kan pekerjaanku." "Kenapa sarkas begitu. Oh ya, bukankah temanmu akan menikah?" "Loopsy?" "Iya, aku dapat undangannya." "Aku juga." "Kita pergi bersama kalau begitu." "Kau tidak pergi dengan Satria?" "Itu lain cerita. Pokoknya, besok kita harus belanja gaun pesta." "Kenapa?" "Ahh, si cuek ini benar-benar! Tentu saja untuk menghadiri acara pernikahan Loopsy." "Aku masih punya banyak gaun di rumah. Kamu yang membelikannya." "Tidak! Acara ini 'kan sangat penting, ini acara pernikahan temanmu, kau harus tampil maksimal di acara itu." "Terserah bu bos saja." "Dasar!" Loopsy memang dekat dengan Mikaila. Aku yang mengenalkan mereka, dan ternyata mereka jadi akrab. Aku sendiri senang memiliki mereka berdua, saat kuliah dulu, aku benar-benar tidak memikirkan untuk memiliki teman, bahkan pacar. Ngomong-ngomong, namaku Xena Altafunnisa. Biasanya, orang-orang memanggilku Xena. Aku baru lulus kuliah dua tahun lalu dan langsung bekerja mengikuti seniorku, Mikaila Aditama. Dia mewarisi semua harta ayahnya, dan melanjutkan bisnis ayahnya yang sudah tidak mampu mengurus perusahaannya lagi. Jam pulang kantor adalah waktu paling ku tunggu. Tentu saja aku suka di dalam apartemen yang aku tinggali sendiri. Suasana sunyi dan ketenangan adalah suatu momen paling aku sukai, aku tidak suka kebisingan dan juga keramaian. Tentu saja, aku lebih suka suasana tenang, dengan cahaya remang dan aroma terapi yang selalu membuat rileks tubuhku setelah seharian bekerja. Aku tinggal di apartemen yang cukup mewah, ya bisa di bilang seperti itu. Satu tahun lalu aku membeli sendiri apartemen ini. Dengan gaji satu tahunku bekerja bersama Mikaila, tentu saja di tambah tabunganku selama aku kuliah. Aku anak tunggal dari pasangan yang sederhana. Keluargaku juga bukan keluarga terpandang seperti keluarga Mikaila. Ayahku seorang manager di sebuah perusahaan elektronik, sedangkan ibu hanya ibu rumah tangga biasa. Aku mendapat beasiswa kuliah yang membuatku bisa banyak belajar dan bersyukur sekarang aku sudah memiliki pekerjaan. Kedua orang tuaku sudah meninggal belum lama ini. Ayah meninggal karena serangan jantung mendadak yang membuat aku kehilangan Ayah tepat saat aku lulus dari bangku SMA. Sedangkan Ibu, beliau meninggal saat aku kuliah semester dua. Beliau mengalami tabrak lari dan meninggal saat akan di bawa ke rumah sakit. Kehidupanku baik-baik saja setelah Ibu atau Ayah meninggal, bukan karena aku durhaka karena biasa saja setelah kepergian mereka. Aku adalah tipe orang yang tidak ingin menyesali apa yang sudah terjadi. Jika sudah terjadi ya sudah, memangnya kita bisa apa? Bukankah kita hanya perlu menerima dan melanjutkan hidup kita kedepannya. Ibuku sudah meninggal, aku berdoa semoga Ibu bisa tenang dan bahagia di sana. Ayah juga begitu, semoga kalian bisa kembali bersama sebagai pasangan dunia dan akhirat. Aku tidak tau lagi harus berfikir apa selain berkata, semoga kalian tenang dan jangan cemaskan aku, aku pasti akan berusaha untuk yang terbaik di kehidupanku. a/n Xena Altafunnisa
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN