***
Seperti rencana satu minggu yang lalu. Hari ini, aku dan Mikaila pergi ke pesta pernikahan Loopsy, kami tiba tepat waktu, saat acara baru saja di mulai. Loopsy tampak cantik mengenakan gaun putih berdiri dengan di dampingi seorang pria tampan di sampingnya. Aku yakin, dia adalah suami Loopsy. Aku tak terlalu mengenal pria itu, walaupun aku dan Loopsy adalah teman dekat, tapi aku tidak mau terlalu dekat dengan kekasih temanku. Tentu saja ada pengalaman tidak menyenangkan tentang itu beberapa tahun lalu, saat aku berada di bangku SMA.
"Selamat atas pernikahanmu." Suara Mikaila menyadarkanku, ternyata kami sudah berada di depan kedua mempelai. Loopsy tersenyum dan memeluk Mikala, aku berganti memeluk Loopsy.
"Semoga kalian bahagia." Aku tak tau lagi harus berkata apa, selain kalimat pendek itu. Loopsy tersenyum dan memencet kedua pipiku.
"Iya-iya sayangku, kapan kamu nyusul. Aku aja udah nikah! Kamu kapan?" Loopsy memang memiliki sifat ceria dan mudah bergaul. Beda denganku, aku sendiri tidak akan dekat dengannya jika dia tidak memulai duluan untuk membuat pertemanan.
"Tunggu waktu saja!" aku hanya menanggapinya sambil bercanda. Tentu saja aku belum terfikirkan untuk menikah. Pertama karena aku masih harus menata masa depan, kedua karena aku saja masih belum punya pacar. Loopsy dan Mika bilang, aku itu jomblo sejak lahir. Dan tentu saja itu tidak benar.
***
Acara resepsi pernikahan Loopsy memang begitu mewah, aku bahkan sampai kagum melihat dekorasi yang serba gold dan silver ini. Sangat menyilaukan, berkelas dan juga elegan.
"Aku harus pulang sekarang!" Mikalia menarik lenganku.
"Kenapa?" apa dia akan meninggalkan aku sendiri.
"Satria menungguku di depan."
"Lalu bagaimana denganku?"
"Xena, sayang. Kamu adalah sahabat terbaik ku. Kamu gunakan kartu atm-ku untuk naik taxi saja ya." Mikaila langsung berlari keluar setelah memberikan sebuah kartu yang aku sudah hafal nomor pin-Nya. Sebagai sekertaris sekaligus orang kepercayaannya, aku memang sudah mengetahui semua yang ada di dalam tas milik bosku itu. Termasuk nomor pin atm, password apartemen bahkan password ponselnya.
"Tapi Taxi tidak bisa bayar pake Atm!" pasti dia tidak sadar akan hal itu. Memang benar ya. Kata orang, cinta itu membuat buta dan gila. Ya sama seperti bosku itu. Tergila-gila dengan Satria.
Sebetulnya aku sudah sangat tidak nyaman berada di pesta ini, terlebih kebisingan yang membuat sakit kepla ini. Tapi, karena Loopsy menginginkan aku untuk tetap berada di sana sebelum acaranya selesai, maka aku terpaksa harus tetap berada di sini.
Dari pada aku hanya diam, akhirnya aku memutuskan untuk melihat-lihat sekeliling. Saat tengah menikmati minuman dingin yang tersedia, Loopsy datang bersama suaminya, mendekati ku sambil tersenyum.
"Bagaimana? Pestanya keren 'kan?"
"Iya." Tentu saja keren. Terlalu keren sampai aku tidak bisa berkata-kata lagi.
"Mikaila mana?" tanya Loopsy sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Dia sudah pulang."
"Apa!" Loopsy tampak cemberut. "Padahal aku mau kasih sesuatu. Kenapa dia buru-buru banget sih?"
"Satria menunggunya." Selain aku, Loopsy juga tau bahwa Mikaila tergila-gila pada pria bernama Satria.
"Pantas saja. Ngomong-ngomong, kok kamu masih betah sih, sendiri." Aku hanya tersenyum saja. Urusan pria biar nanti saja, jika aku sudah sukses.
"Aku ...."
"Hai Loopsy?" Aku menoleh begitu seseorang memenggil nama Loopsy dari arah belakangku.
"Oh, hai Leah." Wanita yang Loopsy panggil Leah itu berjalan mendekat di dampingi seorang pria di sampingnya.
"Apa kabar?" Leah memberi pelukan pada Loopsy. Sesaat keberadaanku seperti menghilang rasanya.
"Aku baik, Leah kenalkan, dia suamiku Albert, dan ini sahabatku saat kuliah Xena." Wanita bernama Leah itu tersenyum dan menyalamiku juga Albert.
"Oh ya, dan kenalkan, ini tunangan ku, Rion." Pria bernama Rion yang datang bersama Leah tampak tersenyum menanggapi ucapan Leah.
"Waah, nggak nyangka kamu udah tunangan ternyata."
"Ya begitulah." Leah tampak senang menggandeng Rion. Mereka pasangan yang serasi.
"Kalau begitu, nikmati pestanya, aku akan berkeliling sebentar." Loopsy pergi bersama Albert. Aku sendiri meninggalkan Leah dan Rion di dekat stand makanan.
Sebenarnya, aku sudah bosan dan ingin pulang saja. Tapi kembali lagi pada Loopsy yang masih ingin aku ada di acara itu. Padahal, aku juga tidak melakukan apapun selain berkeliling mencicipi beberapa menu makanan yang tersedia.
Lelah berkeliling, aku kembali mengambil gelas ketiga yang berisi soft drink. Seharusnya aku pulang saja, kenapa malah bertahan di sini!
Saat baru akan meminum soft drink di tanganku, seorang pria tak sengaja menabrakku.
"Maaf Nona, apa anda baik-baik saja?"
"Ah, iya aku tidak apa-apa." Untung saja air itu tidak tumpah mengenai baju ku.
"Aku akan ganti minumannya." Pria tadi segera mengambil minuman baru dan menyerahkannya padaku.
"Tidak, tidak perlu. Saya bisa sendiri."
"Tidak, saya harus menggantinya. Maaf sudah menabrak anda tadi."
"Iya, terima kasih." Pria itu langsung pergi begitu saja. Aku juga harus pergi, setelah meminum-minumanku aku bergegas meninggalkan pesta, biar nanti saja aku cari alasan pada Loopsy karena pulang lebih dulu.
Entah mengapa, aku merasa pusing, apa yang terjadi? Beberapa saat lalu aku masih baik-baik saja. Lalu kenapa sekarang, aku tak bisa menahannya. Bagaimana jika aku pingsan di jalan atau ahh, aku tak perduli lagi. Aku benar-benar tak bisa menahannya lagi.
a/n Altafunnisa