bab 04. Penyesalan.

1240 Kata
**** "Sekarang kau puas! Pasti ini adalah keinginanmu bukan? Kau sudah berhasil, cara licikmu ini berhasil!" Rion tertawa sumbang, setelah itu membanting gelas yang ada di tangannya. Xena tampak berbaring lemah di lantai . Sudah satu bulan lamanya dia menjadi istri sah seorang Arion Zulfan Asghar, tetapi pernikahan yang Xena harapkan sangat jauh dari kenyataan yang dia terima. Kenyataan bahwa Rion sangat membencinya sudah cukup membuatnya sangat menderita, di tampah lagi kekerasan fisik yang dia terima selama sebulan terakhir ini. "Bangun!" Rion mencekik leher Xena agar membuat wanita itu berdiri, "ku bilang bangun sialan!" Rion semakin murka saat melihat Xena justru tak berdaya dan kembali terjatuh ke lantai. "Apa sudah selesai?" tanya Xena lemah. Wanita itu duduk di atas lantai yang dingin dengan beberapa luka lebam di bagian lengan dan pipinya, juga bekas cekikan yang membiru di lehernya. "Apa kau bilang!" Rion hampir melayangkan satu pukulan lagi untuk Xena. Namun, seseorang mengetuk pintu apartemennya. Dengan terpaksa Rion menghentikan aksinya dan membuka pintu. Ernon, sahabat serta merta merangkap sebagai seorang kepercayaan Rion datang setelah di tugaskan ke magelang beberapa hari yang lalu. "Astaga, Bos!" Ernon berlari dengan sangat cepat menyambar tubuh Xena yang hampir tak bisa bergerak lagi, "apa yang lo lakuin!" Ernon menatap Rion penuh tanda tanya. "Biarin aja dia!" Rion memilih bergerak ke dapur dan mengambil gelas baru untuknya minum. Ernon mengecek keadaan Xena yang tampaknya masih sedikit sadar. "Gue bawa ke rumah sakit ya, Bos!" "Buat apa! Sukur-sukur dia mati sekarang!" "Bos, kalo dia mati, lo bisa di penjara!" "Bilang aja ada pencuri masuk rumah dan bunuh dia gampang kan!" "Astaga, Bos. Lo bener-bener deh!" Walaupun begitu , Ernon tetap membawa Xena ke rumah sakit. Setidaknya pertolongan pertama wanita itu agar dia tak mati. 3 hari lamanya Xena di rawat di rumah sakit. Rion bahkan sama sekali tak perduli pada istrinya. Jangankan perduli, sepertinya, Rion menganggap Xena sudah mati. "Bos, hari ini istri lo blik kan?" Ernon menatap Rion yang sedang sibuk dengan laptopnya. "Jangan bahas dia!" "Gue udah cari tau tentang malam itu!" Rion akhirnya tertarik dengan perkataan Ernon. Pria itu akhirnya menoleh. "Lalu?" "Xena, dia juga di jebak! Lo inget, sebelum lo ketiduran, lo ketemu sama Xena kan di acara pernikahan sahabatnya Leah?" Rion mengangguk. "Dari hasil yang gue dapet, Xena adalah anak tunggal dari pasangan sederhana, ayahnya meninggal karena serangan jantung, dan ibunya meninggal karena mengalami kecelakaan. Dia hidup sebatang kara semenjak itu. Lulus kuliah bekerja di perusahaan sahabatnya hingga dia bertemu dengan lu bos!" "Terus?" "Ada orang yang manfaatin itu. Dia ngejebak Xena supaya ada di kamar itu, dan bikin seolah-olah kalian tidur bareng." "Tapi, kenapa dia nggak bilang apa-apa saat pernikahan, harusnya dia nolak. Bukannya itu udah jelas kalo dia emang ngincer harta gue!" "Apa selama ini dia minta duit dari lu, bos?" Rion diam. Sama sekali tidak, bahkan mungkin, Rion tak pernah sekalipun memberikan uang pada Xena. "Nggak!" "Itu artinya, dia juga sama-sama korban kayak elu, coba lu omongin baik-baik sama istri lu. Cari solusi, baiknya gimana." "Nggak mungkin!" "Kenapa enggak? Sekarang, kalo pun Leah beneran sayang dan cinta sama lu, harusnya dia pertahankan lu, bukan malah ninggalin lu tanpa mau denger penjelasan dari lu!" Rion kembali diam. Mood-nya untuk bekerja sudah musnah. Dengan kesal, Rion meninggalkan ruangannya dan pergi dari kantor. Ernon hanya bisa menghela napas. Menyelesaikan tugas Rion yang belum selesai memang menjadi tugasnya. Memang bos yang merepotkan. **** Sementara itu, Rion melangkah ke sebuah club yang cukup terkenal. Dia perlu minuman untuk menenangkan pikirannya. Dia tak ingin terlalu mabuk, tapi juga tak ingin terlalu sadar. Apa benar dia telah salah menilai Xena selama ini. Tapi, kenapa gadis itu diam saja saat di perlakukan dengan kasar seperti itu? Lalu, bayangan tentang raut kesakitan Xena tergambar jelas di pikirannya. Rion terus menenggak minumannya hingga bergelas-gelas habis ia minum. Rion bahkan kembali ke apartemnnya di antar seorang pelayan yang memang sejak awal dia bayar untuk mengantarnya pulang sewaktu-waktu dia mabuk. Rion membuka pintu dan masuk kedalam. Apartemennya sudah gelap, pastilah Xena sudah tertidur. Rion berjalan menuju kamar Xena, mereka memang tidur terpisah. Dan saat membuka pintu, Rion melihat Xena sudah tertidur dengan lelapnya. Rion mendekat dan berniat membangunkan Xena dengan kasar seperti biasa. Namun, urung saat mengingat kalimat demi kalimat yang di katakan oleh Ernon. "Jadi ... lo juga korban!" Rion menyibak selimut yang menutupi tubuh Xena. Di balik selimut, Xena hanya memakai baju tidur tipis tanpa dalaman. Rion yang tengah mabuk tiba-tiba merasa terangsang sendiri melihat pemandangan di hadapannya. Rion tanpa perduli langsung menyerang Xena yang sedang tertidur. Wanita cantik itu terkejut bukan main, berteriak meminta pertolongan namun dengan segera Rion membungkam mulutnya. Malam itu, sekali lagi, Rion melakukan kekerasan fisik pada Xena. Namun, kali ini bukan hanya kekerasan fisik, tapi juga harta berharganya telah terenggut begitu saja oleh suami yang bahkan tak pernah menganggapnya manusia. Xena masih berbaring tanpa busana di tubuhnya. Selimut tipis menutupi tubuh telanjangnya, di sampingnya, Rion masih tertidur dengan lelap. Xena menangis dalam diam. Meringkuk bagai bola, menangis dalam diam. Air mata yang bagaikan air terjun tak mau berhenti, sakit sekali rasanya, bukan hanya sekujur tubuhnya yang sakit, tapi juga perasaannya yang teramat sangat sakit. Xena memilih pergi keluar dan membersihkan diri di kamar mandi yang lain. Setelah sudah merasa lebih baik, Xena memilih duduk di kursi dekat dengan jendela yang menyuguhkan pemandangan kota padat. Sementara itu, Rion mulai terbangun dari tidurnya, ia memicingkan matanya dan melihat seseorang tengah duduk di kursi yang membelakanginya. Pria Itu duduk dan baru menyadari ada yang salah dengan dirinya. Setelah sadar sepenuhnya, Rion barulah ingat apa yang terjadi semalam. Pria Itu menatap Xena yang duduk dalam diam, sepertinya dia tidak menyadari bahwa Rion sudah bangun. Rion hampir meninggalkan tempat tidur saat dia melihat bercak darah di seprei yang dia tiduri. Dan saat itu, dia tau bahwa dia telah mengambil keperawanan istrinya semalam. Tapi, dia pikir Xena sudah ... "A.anda sudah bangun!" Xena buru-buru berdiri dari duduknya. Dengan gerakan yang canggung, terkesan ketakutan, Xena berucap pelan. "Sa.saya akan siapkan air hangat!" Wanita cantik itu bergegas ke kamar mandi dengan langkah pelan. Rion bahkan tak bisa bereaksi apapun. Kepalanya masih terasa sedikit pusing, mungkin efek alkohol yang dia konsumsi semalam. "Apa gue salah!" Rion menyugar rambutnya yang sedikit panjang itu ke belakang. Sebenarnya, jika Rion berkata jujur, selama ini, Xena tidak pernah terlihat aneh di matanya. Hanya saja, fakta bahwa saat itu kejadian yang menimpa dirinya dan juga wanita itu terkesan seperti di rencanakan, Rion merasa harus memiliki seseorang untuk menjadikannya sebagai alasan kemarahannya. Dan saat itu, hanya ada Xena yang pantas untuk mendapatkannya. Rion menggelengkan kepalanya, mengusir rasa pening yang ada. Setelah merasa lebih baik, pria itu berjalan menuju kamar mandi. Xena masih menyiapkan air untuknya, dan saat melihat Rion yang berjalan masuk ke ruangan itu, Xena langsung bergerak mundur dengan refleks. Hal itu membuat Rion menghentikan langkahnya. "Airnya su.sudah siap!" Setelah berkata seperti itu, Xena berjalan melewati Rion untuk pergi dari ruangan itu. Sebelum wanita itu benar-benar pergi, Rion menahan lengannya, membuat Xena langsung berbalik dan menunduk takut. "Kau ..." "A.apa?" Rion menggeleng lalu menghempaskan lengan Xena dan membuat wanita itu terjatuh. Sejujurnya, dia bahkan belum sepenuhnya sembuh dari sakitnya, dan semalam, Rion memperlakukannya dengan sangat kasar. Membuat Xena yang belum sepenuhnya pulih menjadi semakin lemah. Rion bahkan terkejut dengan apa yang dia lakukan sendiri. Xena dengan cepat berusaha bangun, lalu menunduk ketakutan. Sebelum Rion mengatakan sesuatu lagi, Xena sudah berjalan pergi dan meninggalkan pria itu dalam diam. Rion menatap telapak tangannya sendiri. "Aku tidak bermaksud ..." ****** a/n Arion.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN