24. BUKAN PRIORITAS

1992 Kata

"Rendra," panggil Selvina pada sang cucu yang tengah asyik berkutat dengan permainan di ponselnya. "Iya, Eyang?" jawab Rendra tanpa menoleh ke arah sang nenek. "Rendra." Giliran Lily yang mengeluarkan suaranya. Mendengar nada bicara sang ibu yang sangat tegas tersebut, membuat Rendra menyadari kesalahannya. Iya segera mletakkan ponselnya dan memandang 2 wanita yang paling ia hormati seumur hidupnya tersebut. "Iya, Mama. Maaf, Eyang," ucapnya dengan rasa bersalah. "Nggak pa-pa. Kamu hari ini nggak ke mana-mana, 'kan? Ikut Eyang, mau?" "Ikut ke mana, Eyang?" "Eyang mau ke mall. Beli beberapa barang untuk kamu sama Sha. Kan lusa kalian akan kembali ke Singapura," jelas Selvina yang kini sudah duduk di samping cucu pertamanya tersebut. Sementara Lily sudah kembali ke dapur untuk members

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN