Dering telepon membuat Ana seketika membuka mata. Namun, ia kembali menyipit ketika sinar mentari terasa begitu terang menginterupsi indera penglihatannya. Gadis itu mengusap pelan kedua bola matanya lantas dengan perasaan malas, ia meraih ponsel yang berada di atas nakas. Ana nyaris saja mengumpat ketika ponsel itu sudah sampai di tangannya, tetapi panggilan itu justru terputus. Tanpa berniat untuk melihat siapa yang sudah mengganggu tidurnya, Ana menghempaskan begitu saja beda pipih itu di sebelah bantalnya. 5 menit kemudian, saat matanya hendak kembali menutup, panggilan yang sama kembali masuk. Membuat Ana mau tidak mau harus menerima panggilan itu tanpa melihat siapa peneleponnya. "Halo," sapanya dengan suara seraknya yang sangat khas. "Ana ...." Suara pekikan itu seketika membuat

