15. REMEMBER HER

1874 Kata
Sinar mentari sudah semakin menyingsing. Menampakkan sihirnya yang sedikit banyak mampu meredakan kepenatan setelah menjalani aktivita sehari-hari. Terlebih, beberapa lampu jalanan maupun tempat-tempat umum yang lain sudah mulai dinyalakan. Semuanya seolah menjadi perpaduan yang sangat pas untuk menggiring sang surya menuju peraduannya. Rendra memilih pulang terlebih dahulu ke apartemen dengan membawa koper sang ibu. Ia sedang merasa malas untuk meladeni kedua wanita yang sangat berharga dalam hidupnya tersebut saat berbelanja bersama seperti saat sore ini. Laki-laki itu sudah sangat menghapal sang ibu dan sang adik, sudah pasti akan sangat lama dan itu menjadi sangat membosankan untuknya. Terlebih lagi, kondisi tubuhnya yang terasa begitu lelah sebab ia cukup lama berlatih hari ini. Rendra ingin segera mandi untuk menyegarkan tubuhnya dan pergi tidur setelahnya. Mungkin ia akan makan malam jika terbangun nantinya. Begitu memasuki apartemennya, laki-laki itu segera memasukkan koper sang ibu ke dalam kamar adiknya. Apartemen yang ditempati oleh Renda dan Marisha memiliki ukuran yang cukup luas. Dapur yang lengkap serta ruang tamu yang nyaman. 2 kamar tidur masing-masing dengan kamar mandi di dalam. Unit itu terletak di salah satu gedung yang cukup elit dengan kemanan berlapis. One gate system dengan pemeriksaan yang sangat ketat. Bahkan untuk memasuki unit masing-masing bukan lagi menggunakan pin ataupun kartu melainkan siidk jari masing-masing penghuni. Tentu saja harus seketat itu karena lingkungan tersebut merupakan pusat tinggalnya para pengusaha dan juga duta besar yang bertugas di Singapura. Rendra membiarkan sejuknya air mengguyur tubuhnya. Terasa segar dan sangat menenangkan. Laki-laki itu sempat memejamkan mata sejenak sebelum kemudian ingatannya kembali pada sosok gadis yang ditabraknya di bandara. Harus diakui, ia memang tersihir dengan kecantikan wajah yang dimiliki gadis itu. Padahal Rendra sendiri mengakui masih banyak gadis lain yang jauh lebih cantik darinya. Bahkan dengan sangat jujur, hatinya mengakui jika Angelin lebih cantik mengingat gadis yang mengejarnya itu memiliki keturunan Jepang-Inggris. Namun pesonanya ternyata mampu menarik rasa dari laki-laki itu. Dari nada bicara gadis itu ia bisa memperkirakan jika usianya sepantaran dengan dirinya. Hanya sayangnya, Rendra tidak mengetahui siapa gadis itu sebenarnya. Bahkan namanya pun ia tidak sempat menanyakan. Bukan tidak sempat, lebih tepatnya Rendra merasa tidak sopan untuk menanyakan hal tersebut. 15 menit kemudian acara mandinya akhirnya usai. Samar-samar ia bisa mendengar suara sang adik saling bersahutan dengan suara sang ibu. Rendra tersenyum tipis mengingat selama beberapa hari ini unitnya pasti akan ramai mengingat Lily yang sangat cerewet dalam hal mengurus kedua anaknya. Rendra tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Ia justru sennag dengan cara sang ibu menunjukkan kasih sayangnya. Laki-laki itu baru saja hendak merebahkan tubuhnya di atas kasur ketika sebuah suara menyebalkan kembali mengganggu hidupnya. "Huft, sabar, Ren. Sabar ... Sayang adik, sayang adik," gumamnya sambil melangkah menuju pintu. Begitu pintu terbuka, tampaklah wajah manis sang adik yang juga tersenyum sangat manis. "Ini, dibeliin Mama," ucap Marisha sambil menyerahkan bungkusan yang sepertinya cukup berat untuk sang kakak. "Ini apaan?" tanyanya smabil membuka bungkusan tersebut yang ternyata berisi beberapa perlengkapan pribadnya seperti shampo hingga gel rambut. Rendra tersenyum simpul melihat betaa perhatiannya sang adik. Sudah pasti Marisha yang meminta sang ibu untuk membelikannya karena ia sendiri sering teledor dan lupa jika perlengkapan pribadinya akan habis. "Thanks ya, Dek. Mama di mana?" "Lagi mandi. Kakak mau dimasakin apa?" jawab dan tanya Marisha berurutan. "Emang kamu mau masak?" Sebelah alis Rendra terangkat. "Ya enggak lah. Kan ada Mama," balas Marisha sambil tertawa evil. Gadis itu kemudian berlalu memasuki kamarnya sendiri tanpa berniat menunggu jawaban sang kakak. "Rasanya Kakak nggak tega buat ninggalin kamu sendirian di sini nanti, Dek." Rendra kemudian melanjutkan acara tidurnya yang sempat tertunda. [Bilang sama Mama, Kakak request sup ayam jamur. Tapi Kakak mau tidur dulu.] **** Begtu mendaratkan kaki di Soetta International Airport, hal pertama yang berkecamu dalam benak Ana adalah segera menemui kasur kesayangannya. Tubuhnya terasa begitu lelah sebab hampir 24 jam ia tidak menjalani tidur dengan normal. 'Tidur di pesawat mana ada yang normal, Thor.' Setelah mengurus segala urusannya di bagian imigrasi dan bagasi, gadis kelas 2 SMA tersebut segea melangkah menuju pintu keluar bandara. Kenapa kelas 2? Sebagai siswa yang menjalani kehidupan 1 semester di luar negeri, Ana tidak merasa udah naik ke kelas 3 SMA. Mungkin ini terdengar konyol dan tidak masuk akal, tetapi Ana berencana mengulang 1 semesternya yang menurutnya sempat tertinggal tersebut meskipun pada dasarnya, ia tetap dianggap kelas 3 untuk saat ini. Beruntungnya, sistem di sekolah Ana sudah menerapkan model pembelajaran SKS yang kurang lebih sama dengan sistem pendidikan di perguruan tinggi. Jadi, cepat ataupun lambatnya ia lulus dapat ditentukan oleh dirinya sendiri. Ana mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang yang seharusnya menjemputnya. Ulasan senyumnya terkembang sempurna begitu melihat sang adik yang kini berdiri dengan bersandar di samping tiang. Ana segera melangkah mendekati sang adik. "Brian, i miss you," ucapnya dengan lantang yang membuat sang adik menoleh. Namun, Arga justru memilih mundur satu langkah dengan tatapan datar. "Kok kamu mundur sih, Dek?" Ana mengeluarkan jurus rajukannya yang ditanggapi Arga dengan putaran mata jengah. Kenapakah Ana sekarang memanggil Arga dengan panggilan Brian? Bukan, bukan karena ia menjadi tim sang ayah. Melainkan Arga sendiri yang memintanya sebab saat duduk di kelas 1 SMP ada teman sekelasnya yang juga bernama Arga. Daripada salah panggil, Arga adiknya Ana akhirnya meminta untuk dipanggil Brian. Dan hal itu berlaku untuk semua orang, termasuk untuk anggota keluarganya. [Baik, mulai sekarang panggil Brian, ya!] "Dilihatin banyak orang, Kak." Memang sejak Ana memanggil Brian tadi, banyak pasang mata yang langsung tertuju pada keduanya. Ana serasa menjadi Miss Indonesia dadakan. Oke, fine. Nggak lucu, Thor!!! Namun meskipun begitu, pada akhirnya Brian tetap memeluk kakak yang sangat dirinduknnya tersebut. Tentu saja sebab selama beberapa bulan ini ia mendadak menjadi anak tunggal dan tanpa Ana kehidupannya di rumah berubah menjadi sangat tidak menyenangkan. Tidak ada lawan berdebat dan bertengkar menjadi salah satu alasan terkuat. "How are you?" "Baik, kok. How about you? Mommy sama Daddy gimana? Sehat, 'kan?" jawab dan tanya Ana secara berurutan. "Sehat. Yuk pulang. Mana kopernya biar aku yang bawa." Ah, Brian memang sangat manis di saat seperti ini dan hal itu yang membuat Ana semakin sayang pada adiknya itu. Keduanya melangkah menuju mobil yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri sebelumnya di mana sang sopir sudah mengunggu. Tentu saja Alvin tidak akan segila itu dengan membiarkan Brian mengemudikan mobilnya sendiri di usianya yang masih sangat belia. Meskipun dulunya, ia sudah diberi kebebasan oleh Darmawan untuk mengendarai mobil sendiri sejak kelas 3 SMP. "Itu apaan, Kak?" Brian menunjuk paper bag berwarna kuning yang dibawa sang kakak. Padahal sudah jelas terdapat gambar makanan serta huruf Kanji di sana, ia tetap memilih untuk bertanya. "Oh, ini makanan. Tadi waktu transit di Singapura ada restoran Jepang yang enak banget. Ya udah sekalian aku bungkus buat orang rumah." "Oh." Brian menyahut datar. "Oh doang?" Ana membolakan matanya. "Emang menurut lo, gue harus koprol?" "Kali aja lo mau noh koprol di atas kap mobil." Ana menjawab tak kalah sarkastik engan tangan bersedekap, Brian hanya tersenyum tipis karena teman berantemnya sudah kembali. **** "Masakan Mama emang yang paling juara," puji Rendra usai menandaskan semangkuk sup buatan sang ibu yang sudah lama ia rindukan. "Hm, pasti ada apa-apanya tuh Ma." Marisha menimpali ucapan sang kakak dengan mencibir. "Masakan Mama emang enak, Dek. Kamu belajar gih sama Mama. Masa bisanya cuma masak sup ama tumisan doang." Gadis itu mendelik tajam pada sang kakak, "Nggak usah gaya-gayaan deh. Toh situ juga doyan." "Ya habis nggak ada pilihannya," jawab Rendra santai. "Ya udah ih, yang penting perut kenyang," balas Marisha yang juga belum mau mengalah. "Eh, udah udah. Apa setiap hari kalian selalu seperti ini? Mama bayanginnya aja pening," lerai Lily dengan memijit pelipisnya. Melihat hal itu membuat Marisha segera beranjak dari tempat duduknya dan memijit pundak sang ibu. "Anak sulung Mama tuh, bawel banget. Kadang-kadang bikin kuping Sha jadi panas." "Kupingnya panas toh tetep aja kamu maunya tinggal sama kakak kamu, 'kan?" "Mama ...." Marisha merajuk dan semakin sebal sebab sang ibu kini justru melakukan high five dengan sang kakak yang tampak tertawa puas. "Ya udah kamu duduk. Mama mau bicara hal serius sama Kakak kamu," perintah Lily yang langsung diangguki oleh Marisha. "Ada apa, Ma?" Raut tengil yang tadinya muncul di wajah Rendra kini berubah menjadi serius. "Mama cuma mau memperjelas, kamu jadinya mau kuliah di mana nanti?" Rendra tampak menghela napasnya, sudah berpikir macam-macam dikira sang ibu akan membicaakan hal apa. "Rendra mau kuliah di Jakarta, Ma. Rendra kan udah pernah bilang sama Mama dan Papa. Sekalian nanti kalau anak manja ini nggak bisa jauh dari Rendra, pindahin juga." Di akhir kalimatnya, Rendra sengaja menaik-turunkan alisnya untuk menggoda sang adik. "Ish, Sha masih mau di sini sampai lulus SMA, Ma." Marisha menyuarakan pendapatnya. "Lalu bagaimana enaknya? Mama sama Papa nggak tega kamu tinggal sendiri di sini, Dek." "Tapi, Ma ...." Belum selesai Marisha berbicara, Rendra terlebih dahulu menyela. Ia sangat tahu bagaimana sang adik. "Biarlah kalau Sha masih mau di sini, Ma. Cuma 2 tahun, 'kan? Tapi nanti kuliahnya harus tetep di Indoneia." Mendengar perkataan sang kakak membuat Marsha mendongakkan kepalanya, gadis itu tersenyum lebar merasakan betapa Renda yang sangat mengerti dirinya. "Ya udah kalau itu maunya kalian. Kalau gitu Rendra harus bantu Mama sama Papa. Kamu punya tugas untuk gantian jengukin Marisha ke sini," putus Lily pada akhirnya. Ia sudah membicarakan dengan Bagas mengenai hal itu termasuk jika Marisha bersikeras ingin tetap tinggal di Singapura. "Siap, dengan senang hati." "Dia makin bahagia bisa bolak-balik naik pesawat." Rendra tertawa kecil mendengar cetusan sang adik. "Sekarang behubung udah malem dan Mama masih capek banget, sebaiknya kita tidur. Atau kalau kalian mau lanjut berantem, silakan. Yang penting jangan ganggu istirahat Mama." Lily bangkit dan melangkah memasuki kamar Marisha. "Mama yakin nyuruh kita lanjut berantem?" Kali ini Marisha yang ingin menggoda sang ibu. Lily tidak menjawabnya, hanya merotasikan matanya dengan jengah dengan helaan napas pasrah. "Oh iya, liburan besok kalian pulang ke Indonesia, ya. Papa sama Mama mau kenalin kalian ke teman kami." "Siapa, Ma?" tanya kakak beradik itu bersamaan, lengkap dengan raut wajah herannya. "Renda nggak lupa 'kan sama Tante Nadia dan Om Alvin?" Bukannya menjawab, Lily justru balik bertanya. Rendra terdiam sejenak. Tentu saja dia mengingatnya, tidak mungkin dia melupakan dua orang tersebt. Dua orang beserta putrinya yang jujur saja selama ini selalu ia rindukan. "I-inget, Ma," jawabnya dengan gugup. "Inget juga sama Ana?" tanya Lily menggoda. Sekali lagi Rendra mengangguk. Sementara Marisha hanya bisa menatap heran sebab wajah sang kakak terlihat sangat memerah dan malu-malu. "Emang, Ana siapa, Kak?" Marisha tidak bisa menahan rasa penasarannya. "Temen Kakak waktu kecil di Indonesia dulu." Rendra menjawab santai setelah berhasil menormalkan mimik wajahnya. "Yakin temen? Kayaknya demen, deh." goda Marisha sambil membawa peralatan makan mereka ke wastafel. Rendra hanya terkekeh sambil ikut membantu sang adik melakukan pekerjaannya. Usai memastikan semuanya bersih dan rapi, Rendra melangkah memasuki kamarnya meskipun ia tahu sang adik tampaknya masih ingin bertanya banyak hal lagi padanya. Pikirannya kembali dipenuhi oleh satu nama. Membuat rencananya untuk mengerjakan PR seketika ia batalkan dan sekarang Rendra sedang berada di atas ranjangnya sambil melamunkan teman masa kecilnya itu. Selama hampir 15 tahun ini, Rendra memang tidak pernah bertemu dengan Ana. Terakhir kali Rendra melihat wajah Ana saat Nadia mengirim foto pada Lily. Wajah cantik dan imut Ana yang baru memasuki bangku SMP itulah yang membuat Rendra mengalami perubahan dari masa anak-anak menuju masa remajanya. "Sudah secantik apa kamu sekarang, Ana?" **** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN